Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 309

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

309

tidak boleh masuk lewat sini. Ini Babuz Zakat. Pintu khusus untuk orang-orang

yang menunaikan zakat. Ada banyak pintu. Dan setiap kali aku hendak masuk

selalu dicegah penjaganya. Sampai di pintu terakhir namanya Babut Taubah. Aku

juga tidak boleh masuk. Karena itu khusus untuk orang-orang yang taubatnya

diterima Allah. Dan aku tidak termasuk mereka. Aku kembali ke pintu-pintu

sebelumnya. Semuanya tertutup rapat. Orang-orang sudah masuk semua. Hanya

aku sendirian di luar. Aku menggedor-gedor pintu bernama Babur Rahmah. Tak

ada yang membuka. Aku hanya mendengar suara, “Jika kau memang penghuni

surga kau tidak perlu mengetuknya karena kau pasti punya kuncinya. Bukalah

pintu-pintu itu dengan kunci surga yang kau miliki!” Aku menangis sejadijadinya.

Aku tidak memiliki kuncinya. Aku berjalan dari pintu satu ke pintu yang

lain dengan air mata menetes di sepanjang jalan. Aku putus asa. Aku tergugu di

depan Babur Rahmah. Aku mengharu biru pada Tuhan. Aku ingin menarik belas

kasihNya dengan membaca ayat-ayat sucinya. Yang kuhafal adalah surat Maryam

yang tertera di dalam Al-Qur’an. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh

penghayatan. Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai

ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karena Babur Rahmah terbuka

perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar

mendekatiku dan berkata,

“Aku Maryam. Yang baru saja kau sebut dalam ayat-ayat suci yang kau

baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru

tangismu. Apa maumu?”

“Aku ingin masuk surga. Bolehkah?”

“Boleh. Surga memang diperuntukkan bagi semua hamba-Nya. Tapi kau

harus tahu kuncinya?”

“Apa itu kuncinya?”

“Nabi pilihan Muhammad telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah

kau tidak mengetahuinya?”

“Aku tidak mengikuti ajarannya.”

“Itulah salahmu.”

“Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk

penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 310

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

310

sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi

karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad maka aku tidak

diperkenankan untuk memberitahukan padamu.”

Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung

menubruknya dan bersimpuh dikakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon

agar diberitahu kunci surga itu. “Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku

ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan

melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam tolonglah berilah aku

kunci itu. Aku tidak mau merugi selama-lamanya.” Aku terus menangis sambil

menyebut-nyebut nama Allah. Akhirnya hati Bunda Maryam luluh. Dia duduk

dan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang,

“Maria dengarkan baik-baik! Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan

kunci masuk surga. Dia bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu dengan baik, kemudian

mengucapkan: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan

abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi

sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya) maka akan dibukakan

delapan pintu surga untuknya dan dia boleh masuk yang mana ia suka!’ 119 Jika

kau ingin masuk surga lakukanlah apa yang diajarkan olah Nabi pilihan Allah itu.

Dia nabi yang tidak pernah bohong, dia nabi yang semua ucapannya benar. Itulah

kunci surga! Dan ingat Maria, kau harus melakukannya dengan penuh keimanan

dalam hati, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Tanpa

keimanan itu, yang kau lakukan sia-sia. Sekarang pergilah untuk berwudhu. Dan

cepat kembali kemari, aku akan menunggumu di sini. Kita nanti masuk bersama.

Aku akan membawamu ke surga Firdaus!”

Setelah mendengar nasihat dari Bunda Maryam, aku lalu pergi mencari air

untuk wudhu. Aku berjalan ke sana kemari namun tidak juga menemukan air. Aku

terus menyebut nama Allah. Akhirnya aku terbangun dengan hati sedih. Aku ingin

masuk surga. Aku ingin masuk surga. Aku ingin ke sana, Bunda Maryam

menungguku di Babur Rahmah. Itulah kejadian atau mimpi yang aku alami. Oh

Fahri suamiku, maukah kau menolongku?”

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Maria?”

119 Hadits riwayat Imam Muslim.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 311

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

311

“Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga. Wanginya

merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji

akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih

dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya. Suamiku, bantu aku

berwudhu sekarang juga!”

Aku menuruti keinginan Maria. Dengan sekuat tenaga aku membopong

Maria yang kurus kering ke kamar mandi. Aisha membantu membawakan tiang

infus. Dengan tetap kubopong, Maria diwudhui oleh Aisha. Setelah selesai, Maria

kembali kubaringkan di atas kasur seperti semula. Dia menatapku dengan sorot

mata bercahaya. Bibirnya tersenyum lebih indah dari biasahnya. Lalu dengan

suara lirih yang keluar dari relung jiwa ia berkata:

Asyhadu an laa ilaaha illallah

wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh!

Ia tetap tersenyum. Menatapku tiada berkedip. Perlahan pandangan

matanya meredup. Tak lama kemudian kedua matanya yang bening itu tertutup

rapat. Kuperiksa nafasnya telah tiada. Nadinya tiada lagi denyutnya. Dan

jantungnya telah berhenti berdetak. Aku tak kuasa menahan derasnya lelehan air

mata. Aisha juga. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun!

Maria menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir. Wajahnya

bersih seakan diselimuti cahaya. Kata-kata yang tadi diucapkannya dengan bibir

bergetar itu kembali terngiang-ngiang ditelinga:

“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma.

Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan

segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya

kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.”

Sambil terisak Aisha melantunkan ayat:

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah

irji’ii ilaa Rabbiki

raadhiyatan mardhiyyah

Fadkhulii fii ‘ibaadii

wadkhulii jannatii

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 312

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

312

(Hai jiwa yang tenang

Kembalilah kamu kepada Tuhanmu

dengan hati puas lagi diridhai

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu

Maka masuklah ke dalam surga-Ku.120

)

Saat itu Madame Nahed, terbangun dari tidurnya dan bertanya sambil

mengucek kedua matanya, “Kenapa kalian menangis?”

Kaca jendela mengembun. Musim dingin sedang menuju puncaknya. O,

apakah di surga sana ada musim dingin? Ataukah malah musim semi selamanya?

Ataukah musim-musim di sana tidak seperti musim yang ada di dunia?

Selesai, Rabu 8 Oktober 2003

Pukul 01: 03 dini hari.

Bangetayu Wetan, Semarang

120 QS. Al-Fajr: 27-30

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 313

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

313

Kitab-kitab yang mendampingi penulisan novel ini:

1. As-Sunnah wal Bid’ah, (Sunah dan Bid’ah), karya Syaikh Prof. Dr. Yusuf

Al-Qaradhwi, Maktabah Wahbah, Cairo, Cet. I, 1999.

2. At Tadzkirah (Peringatan), karya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Dar

Ibnu Khadun, Alexandria, Cet. I, 1997.

3. Fatawa Mu’ashirah (Fatwa-fatwa Kontemporer) Juz II & III, karya

Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Darul Qalam, Cairo. Cet. I, 2001.

4. Kitab Ar-Ruuh (Kitab Ruh) karya Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah,

Darul Fajr, Cairo, Cet I, 1999.

5. Limadza Yakhafunal Islam? (Kenapa Mereka Takut Kepada Islam?),

karya Prof. Dr.Abdul Wadud Syalabi, Darul I’tisham, Cairo, 1999.

6. Makanatul Mar’ah Fil Islam (Posisi Wanita dalam Islam), karya Prof.

Dr. Muhammad Biltaji, Darus Salam, Cairo, Cet.I, 2000.

7. Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Quran (Sumber Pengetahuan Ilmu-ilmu Al-

Qur’an), karya Syaikh Prof. Muhammad Abdul Adhim Az-Zarqani,

Muassasah At Tarikh Al Arabiy, Beirut-Lebanon, Cet. III, 1991.

8. Tuhfatul ‘Arus aw Az Zawaj Al Islamiy As Sa’id, (Hadiah Untuk

Pengantin atau Perkawinan Islami Yang Bahagia), karya Syaikh Mahmud

Mahdi Al-Istanbuli, Al Maktabah Al Islamiyyah, Amman, 1410 H.

9. Tuhfatul ‘Aris wal ‘Arus (Hadiah untuk Pengantin Lelaki dan Pengantin

Perempuan), karya Syaikh Muhammad Ali Qutb, Darul Anshar, Cairo,

tanpa tahun.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 314

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

314

K A T A B A

BERGERAK DI BIDANG PENGETIKAN (ARAB-INGGRIS-INDONESIA)

TUGAS KULIAH, MAKALAH, SKRIPSI, TESIS,

SERTA PELBAGAI JENIS TULISAN DALAM BERBAGAI BENTUK DAN KEPERLUAN

DAN ATAU

PENERBITAN (DALAM FORMAT PDF)

E-BOOK, E-NEWSPAPER, E-ESSAY, E-POETRY, E-STORY,

SERTA PELBAGAI JENIS E-WRITING LAINNYA

Untuk Warga Negara Indonesia pada umumnya dan Warga Negara Surabaya pada khususnya serta

lebih khusus lagi Warga Negara Indonesia/Surabaya yang berdomisili di IAIN Sunan Ampel Surabaya

dan sekitarnya yang membutuhkan layanan jasa dari K A T A B A sebagaimana tersebut di atas, dapat

menghubungi via sms/call ke:

0361 862 1 336

0856 4550 5323

081 336 494 664

CANANG SARI

•April 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
Aneka Banten

Om Swastyastu,

Kekayaan budaya Bali yang tiada tertandingi di dunia adalah aneka ragam hasil karya untuk menunjukkan cinta, hasrat dan hormat kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Hasil karya ini tentu saja memerlukan keahlian, selera keindahan dan pengertian yang mendalam mengenai makna di balik simbol- simbol itu. Demikianlah cara leluhur mengajari orang Bali bagaimana mencintai Tuhan melalui karya indah yang penuh filsafat dan pengabdian. Oleh karena itu menyiapkan sesajen dilakukan bersama- sama lintas generasi. Yang tua mengajari yang muda, mengkritik, memberi saran, memberi nasehat, membimbing dan banyak lagi interaksi sosial dan spiritual yang terjadi dalam kegiatan ini. Indahnya Bali, eloknya budayanya dan kentalnya nuansa keindahan cinta, hormat dan bakti kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada lingkungan alam semesta.

Om Shanti, Shanti, Shanti… Om…

(Kelian Kelir)

1 Banten Upacara Dewa Yadnya
2 Banten Upacara Pitra Yadnya
3 Banten Upacara Manusa Yadnya
4 Banten Upacara Resi Yadnya
5 Banten Upacara Bhuta Yadnya

Mengenal macam istilah dan bentuk bebantenan yang umum.

Banten, sesuai dengan hakekatnya, sebagai sarana komunikasi spiritual, tentu saja terikat oleh Desa, Kala, Patra. Beberapa macam bebantenan dan unsur- unsur dalam website ini hanya petunjuk untuk meluaskan pengetahuan saja, yang dapat saja diubah dengan alasan yang jauh lebih luhur nilainya. Kalau yang diinginkan adalah ketentuan, maka mohon mencari informasi dari pemuka adat atau pemuka agama setempat.

Pedoman Sembahyang

•April 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
PEDOMAN SEMBAHYANG
Cakupan Tangan Yang Suci

Kramaning Sembah

Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.

Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.

Persiapan sembahyang

Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.
Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:

Urutan-urutan sembah

Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut ini:

Kapan mulai ada weda

•April 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
VEDA

Kapan Veda Mulai Ada?

Veda adalah kitab suci Agama Hindu yang tertua. Bila kitab ini mulai ada tidak diketahui orang dengan pasti. Pendapat para sarjana bermacam-macam tentang hal ini. Ada yang berpendapat kitab ini mulai ada 1.200 tahun Sebelum Masehi, ada yang mengatakan 2.400 SM. Ada pula yang berpendapat lain lagi.

Orang-orang Hindu jaman dahulu jarang meninggalkan catatan- catatan yang bernilai sejarah. Kitab Veda diterima orang dari mulut ke mulut turun-temurun dari masa lampau yang tidak diketahui orang. Penulisan kitab Veda dengan huruf Devanagari adalah dari masa yang jauh kemudian. Orang percaya bahwa kitab suci ini diajarkan oleh Tuhan kepada para Rsi. Maka ia bukan buatan orang. Dari ajaran Veda inilah ajaran agama Hindu mengalir. Jiwa agama Hindu adalah jiwa ajaran Veda. Walaupun perubahan telah banyak terjadi, jiwa ajaran Veda tidak pernah berhenti memancarkan cahanya.

Pokok Pokok Ajaran Hindu Dharma

•April 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
POKOK POKOK AJARAN HINDU DHARMA

Sejarah dan Perkembangannya
1. Awal Perkembangan Agama Hindu

Agama Hindu berasal dari India. Untuk mengetahui sejarah perkembangannya haruslah juga dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari jaman ke jaman. Berdasarkan penelitian usia kitab- kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang pada sekitar 6.000 tahun sebelum tahun Masehi. Sebagai agama tertua, agama Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

2. Penduduk India

Penduduk asli yang mendiami India sekarang bermukim di daerah dataran tinggi Dekkan. Kehidupannya masih sangat sederhana.
Bangsa Dravida berasal dari daerah Asia Tengah (Baltic) masuk ke India dan mendiami daerah sepanjang sungai Sindhu yang subur. Kebudayaan mereka lebih tinggi dari penduduk asli. Bangsa Arya juga berasal dari daerah sekitar Asia Tengah, menyebar memasuki daerah- daerah Iran (Persia), Mesopotamia, dan juga masuk ke daerah Eropa. Yang sampai masuk ke India adalah merupakan bagian dari yang pernah masuk ke Iran. Mereka masuk ke India dalam dua tahap di dua tempat yang berbeda. Pertama mereka masuk di daerah Punjab yaitu daerah lima aliran anak sungai yang disambut dengan peperangan oleh bangsa Dravida yang sudah lebih dulu bermukim di sana. Karena bangsa Arya lebih maju dan lebih kuat, Bangsa Dravida dapat dikalahkan. Tahap kedua Bangsa Arya masuk ke India melalui daerah dua aliran sungai yaitu lembah sungai Gangga dan lembah sungai Yamuna, daerah ini dikenal dengan nama daerah Doab. Kedatangan mereka tidak disambut peperangan, bahkan kemudian terjadi percampuran melalui perkawinan. Bangsa- bangsa inilah yang menjadi nenek moyang bangsa India sekarang.

3. Jaman Weda

Telah diketahui bahwa bangsa yang datang kemudian di India adalah bangsa Arya yang mendiami dua tempat yaitu di Punjab dan Doab. Di kedua daerah tersebut mereka berkembang dan mengembangkan peradabannya. Dikatakan bahwa orang- orang Aryalah yang menerima wahyu Weda. Wahyu- wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (sru= pendengaran). Kurun waktu turunnya wahyu- wahyu Weda itulah yang disebut jaman Weda dan ajaran Weda inilah yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.

4. Penyebaran Agama Hindu

Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi.
Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari India.
Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orang- orang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini.
Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saat- saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya.
Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park).
Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu.

5. Agama Hindu di Indonesia

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa- sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.
Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa di antaranya Candi Prambanan, Borobudur, Penataran, dan lain- lain, pura- pura di Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti- bukti nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”) adalah merupakan warisan- warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.
Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran.
Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja- rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.
Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.
Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut Pura Basuki.
Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.
Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/ Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.
Sewaktu kerajaan Majapahit runtuh keadaan di Bali sangat tenang karena tidak ada pergolakan agama. Pada saat itulah datang seorang Empu dari Jawa yang bernama Empu Dwijendra dengan pengikutnya yang mengembangkan dan membawa pembaharuan agama Hindu di Bali. Dewasa ini, terutama sejak jaman Orde Baru, perkembangan Agama Hindu makin maju dan mulai mendapat perhatian serta pembinaan yang lebih teratur.

POKOK POKOK AJARAN HINDU DHARMA

Sejarah dan Perkembangannya
1. Awal Perkembangan Agama Hindu

Agama Hindu berasal dari India. Untuk mengetahui sejarah perkembangannya haruslah juga dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari jaman ke jaman. Berdasarkan penelitian usia kitab- kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang pada sekitar 6.000 tahun sebelum tahun Masehi. Sebagai agama tertua, agama Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

2. Penduduk India

Penduduk asli yang mendiami India sekarang bermukim di daerah dataran tinggi Dekkan. Kehidupannya masih sangat sederhana.
Bangsa Dravida berasal dari daerah Asia Tengah (Baltic) masuk ke India dan mendiami daerah sepanjang sungai Sindhu yang subur. Kebudayaan mereka lebih tinggi dari penduduk asli. Bangsa Arya juga berasal dari daerah sekitar Asia Tengah, menyebar memasuki daerah- daerah Iran (Persia), Mesopotamia, dan juga masuk ke daerah Eropa. Yang sampai masuk ke India adalah merupakan bagian dari yang pernah masuk ke Iran. Mereka masuk ke India dalam dua tahap di dua tempat yang berbeda. Pertama mereka masuk di daerah Punjab yaitu daerah lima aliran anak sungai yang disambut dengan peperangan oleh bangsa Dravida yang sudah lebih dulu bermukim di sana. Karena bangsa Arya lebih maju dan lebih kuat, Bangsa Dravida dapat dikalahkan. Tahap kedua Bangsa Arya masuk ke India melalui daerah dua aliran sungai yaitu lembah sungai Gangga dan lembah sungai Yamuna, daerah ini dikenal dengan nama daerah Doab. Kedatangan mereka tidak disambut peperangan, bahkan kemudian terjadi percampuran melalui perkawinan. Bangsa- bangsa inilah yang menjadi nenek moyang bangsa India sekarang.

3. Jaman Weda

Telah diketahui bahwa bangsa yang datang kemudian di India adalah bangsa Arya yang mendiami dua tempat yaitu di Punjab dan Doab. Di kedua daerah tersebut mereka berkembang dan mengembangkan peradabannya. Dikatakan bahwa orang- orang Aryalah yang menerima wahyu Weda. Wahyu- wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (sru= pendengaran). Kurun waktu turunnya wahyu- wahyu Weda itulah yang disebut jaman Weda dan ajaran Weda inilah yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.

4. Penyebaran Agama Hindu

Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi.
Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari India.
Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orang- orang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini.
Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saat- saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya.
Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park).
Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu.

5. Agama Hindu di Indonesia

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa- sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.
Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa di antaranya Candi Prambanan, Borobudur, Penataran, dan lain- lain, pura- pura di Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti- bukti nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”) adalah merupakan warisan- warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.
Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran.
Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja- rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.
Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.
Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut Pura Basuki.
Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.
Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/ Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.
Sewaktu kerajaan Majapahit runtuh keadaan di Bali sangat tenang karena tidak ada pergolakan agama. Pada saat itulah datang seorang Empu dari Jawa yang bernama Empu Dwijendra dengan pengikutnya yang mengembangkan dan membawa pembaharuan agama Hindu di Bali. Dewasa ini, terutama sejak jaman Orde Baru, perkembangan Agama Hindu makin maju dan mulai mendapat perhatian serta pembinaan yang lebih teratur.