Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Persidangan)

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

252

25. Persidangan

“Nona Noura, saya persilakan Anda mengisahkan apa yang menimpa pada

diri Anda?” Hakim gemuk dengan rambut hitam bercampur uban mempersilakan

Noura yang sudah berdiri dipodium untuk berbicara. Sementara aku berada di

tempat terdakwa yang berbentuk seperti kerangkeng. Ratusan mata memandang

Noura dengan seksama. Aku melihat orang-orang yang kukenal turut serta

menghadiri sidang pertamaku ini. Teman-teman satu rumah di Hadayek Helwan ;

Rudi, Saiful, Hamdi dan Mishbah duduk dibagian agak belakang. Beberapa puluh

mahasiswa Indonesia, Ketua dan pengurus PPMI, Pengurus Wihdah—termasuk

Nurul sang ketua—juga datang. Sekitas aku memandang ke arah Nurul, mata

kami bertemu. Ia tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

Pengacaraku duduk bersama Maqdi. Di belakangnya ada Aisha, paman Eqbal,

Syaikh Ahmad dan isterinya. Bibi Sarah tidak datang. Keluarga Tuan Boutros

juga tidak satu pun yang kelihatan. Di barisan dekat jaksa penuntut banyak sekali

orang Mesir. Mungkin mereka keluarga Noura. Beberapa wartawan sibuk

merekam dan membidikkan kamera. Aku pasrah pada apa yang akan ditulis

mereka. Jika ada ketidakadilan dalam tulisan mereka aku akan menuntutnya kelak

di akherat sana.

“Saya akan menceritakan dengan sejujurnya tragedi yang menimpa diri

saya. Tragedi yang menginjak-injak kehormatan saya dan menghancurkan masa

depan saya.” Kata Noura dengan terisak. Air matanya meleleh. Aku tidak tahu apa

yang akan dia katakan. Apakah dia akan mengatakan dengan sejujurnya siapa

yang mengamili dirinya ataukah justru akan menghabisi diriku dengan

sandiwaranya seperti Zulaikha pura-pura menangis dan menjebloskan Yusuf ke

dalam penjara.

“Pada hari Rabu, 7 Agustus yang lalu saya masih hidup bersama keluarga

Bahadur. Hari itu sore hari setelah aku shalat ashar, Bahadur yang saat itu masih

saya anggap sebagai ayah memaksaku untuk ikut Mona selepas maghrib ke

sebuah Nigh Club mengapung di sungai Nil, tempat di mana Badahur dan Mona

bekerja. Bahadur sebagai pukang tukul dan Mona sebagai penari dan wanita

penghibur. Saya tidak mau. Bahadur mengancam akan membunuh saya jika

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

253

sampai jam sembilan malam tidak sampai di sana bersama Mona. Saat itu juga ia

menjambak rambut saya kuat-kuat dan menyambuk punggung saya dengan ikat

pinggang. Saya tidak tahan, akhirnya saya pura-pura mau. Bahadur lalu berangkat

kerja dengan sebuah ancaman saya akan mati jika tidak datang. Saya bertanya

pada Mona apa kerja saya di sana. Dia bilang, ‘Seperti pertama aku kerja di sana.

Menyerahkan keperawanan pada turis bule dengan imbalan sepuluh ribu pound!’

Jawaban Mona membuat saya merinding. Saya tidak mungkin melakukan

perbuatan terkutuk itu. Saya bertekad lebih baik mati daripada menjual diri.

Akhirnya begitu shalat maghrib saya mengurung diri di kamar. Pintu kamar dan

jendela saya kunci. Mona berteriak-teriak dan menggedor-gedor tidak saya

pedulikan. Mona pun berangkat sendirian. Saya terus di kamar sampai tengah

malam. Jam setengah satu ayah pulang bersama Noura dengan kemarahan

meluap. Pintu kamarku didobrak dan saya disiksanya habis-habisan lalu diusir dan

diseret ke jalan. Ternyata saya tidak dibunuhnya hanya diusir saja. Tapi malam itu

saya merasa sangat merana. Saya meratapi nasib saya sambil memeluk tiang

lampu di jalan, depan apartemen. Saya meratap sendirian agak lama. Lalu, kirakira

pukul setengah dua datanglah Maria menghibur saya. Ia juga mengajak saya

naik dan tidur di kamarnya, saya pun ikut. Di kamar Maria aku mencurahkan

semua kesedihanku padanya. Yang tidak kuduga Maria menceritakan sebenarnya

yang membuatnya turun menghiburku adalah Fahri, mahasiswa dari Indonesia

yang malam itu kebetulan tidak tidur. Sebenarnya Maria takut sekali pada

Bahadur. Keluarga Maria juga tidak mau berurusan dengan Bahadur. Maria

meminta bagaimana kalau malam itu menginap sementara di rumah Fahri. Saya

merasa kediaman Fahri adalah tempat yang aman untuk sementara. Akhirnya tepat

pukul tiga Maria mengantarkan aku turun ke tempat Fahri. Fahri sendiri yang

masih bangun. Ia membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk ke kamarnya.

Maria kembali ke rumahnya. Mulanya Fahri banyak menghibur. Dia lalu

merayuku dan membujukku dengan kata-kata Manis. Entah dari mana ia tahu

kalau aku mau dijual pada turis bule. Fahri menawari saya untuk kawin

dengannya dan akan diajak hidup bahagia di Indonesia. Ia berjanji akan membuat

hidupku bahagia. Akan mencurahkan segala kasih sayang dan cintanya padaku.

Fahri juga mengungkapkan sebenarnya dia telah lama jatuh cinta pada saya. Fahri

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

254

mampu memanfaatkan keadaan saya yang sedih, yang selama itu belum pernah

merasakan kasih sayang dan cinta. Malam itu saya menangis dalam pelukan Fahri.

Saya merasakan Fahri adalah dewa penyelamat. Entah bagaimana prosesnya

malam itu saya telah menyerahkan kehormatan saya padanya. Saya terhipnotis

oleh manisnya janji yang ia berikan. Ketika masjid melantunkan azan pertama

saya tersadar. Saya menangis sejadi-jadinya atas apa yang menimpa diri saya.

Saya melihat Fahri sedang tertidur. Saya pun keluar dan kembali ke tempat Maria.

Saya menangis Maria bertanya pada saya ada apa. Saya tidak menjawabnya. Saya

malu untuk menceritakannya. Pukul tujuh pagi Fahri datang ke tempat Maria.

Keluarga Maria minta agar saya meninggalkan rumah mereka sebelum Bahadur

bangun. Akhirnya Fahri menyuruh saya untuk menginap di tempat mahasiswi

Indonesia bernama Noura. Sebelum berangkat Fahri memberi uang sebanyak dua

puluh pound untuk ongkos jalan. Beberapa hari di rumah Nurul saya dijemput

Syaikh Ahmad dan isterinya dan diamankan di Tafahna, Zaqaziq. Syaikh Ahmad

membantu saya menemukan saya dengan orang tua saya asli yang ternyata

bernama Adel dan Yasmin. Beliau berdua dosen di Ain Syams University. Sejak

itu saya tinggal bersama mereka. Suatu hari setelah satu minggu tinggal bersama

mereka saya muntah-muntah. Mama Yasmin membawa saya ke dokter dan saya

ketahuan hamil satu bulan setengah. Mama mendesak untuk mengatakan siapa

yang menghamili saya. Saya tidak mau mengatakannya. Ayah mengancam akan

mengusir saya jika tidak mengatakan siapa yang menghamili saya. Terpaksa saya

jelaskan siapa sebenarnya yang menghamili saya. Tak lain dan tak bukan adalah

Fahri Abdullah. Dia manusia berhati serigala pura-pura menolong ternyata

menerkam. Saya telah beberapa kali minta pertanggung jawabannya dan

menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Saya menuntut janjinya mau

mengawini saya ternyata ia berkelit. Ia bahkan menuduh saya pelacur. Uang dua

puluh pound yang dia berikan itu ternyata dianggap sebagai harga diri saya.

Betapa remuk dan hancur hati saya. Dia malah menikah dengan seorang gadis

Turki. Dia benar-benar manusia yang sangat busuk hatinya. Saya minta kepada

pengadilan untuk memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan

terkutuknya!”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

255

Noura lalu menangis terisak-isak di podium. Orang-orang Mesir yang

tidak tahu masalah sesungguhnya terbakar emosinya. Mereka berteriak-teriak

minta kepada hakim menggantung diriku. Aku sendiri sangat terpukul mendengar

semua yang dikatakan Noura. Aku tidak percaya bahwa yang dipodium itu adalah

Noura. Gadis innocent yang sangat pendiam yang dulu sangat aku kasihani. Kini

Noura seperti puteri jahat yang siap mencincangku dengan belati beracun yang ia

sembunyikan di balik bajunya.

Aku melihat ke arah orang-orang yang simpati padaku. Wajah Syaikh

Ahmad tampak marah. Aisha jatuh pingsan. Tiba-tiba Nurul berteriak lantang dan

memaki-maki Noura yang tidak tahu balas budi dan mengarang cerita bohong.

Hakim mengetuk palunya berkali-kali meminta semuanya untuk tenang. Dia lalu

meminta tanggapanku. Dengan emosi yang kutahan aku menolak tuduhan Noura.

Aku jelaskan bahwa Noura sama sekali tidak pernah masuk kamarku. Aku bahkan

belum pernah menyentuh kulit Noura. Malam itu Noura bersama Maria sampai

pagi. Tiba-tiba Noura berteriak menganggap diriku yang bohong. Hakim

menenangkan Noura. Pihak jaksa mengajukan saksi. Seorang lelaki ceking

bernama Gamal. Hakim mempersilakan saksi itu bicara setelah disumpah.

Seorang lelaki mengaku melihat aku membukakan pintu dan mengajak Noura

masuk rumah jam tiga dini hari, Kamis 8 Agustus 2003.

Amru pengacaraku mengintrogasi saksi itu. Sang saksi bersikukuh melihat

dengan jelas Noura masuk rumahku. Amru bertanya posisinya di mana dan

sedang apa dia sampai begitu jelas melihat Noura masuk rumahku. Dia menjawab

dia seorang pemburu burung hantu. Hobinya berburu pada waktu malam.

Kebetulan ia melintas di apartemen dan di sutuh melihat ada burung hantu. Ia

hendak menembaknya dari jarak dekat dengan cara naik ke sutuh melalui tangga.

Ketika ia naik itulah dari jarak tiga meter ia melihat Noura masuk flat di lantai

tiga.

Aku heran dengan lelaki ceking bernama Gamal. Bagaimana mungkin dia

berani membuat kesaksian palsu seperti itu. Belum pernah aku mendengar ada

seorang yang hobinya sedemikian aneh. Untuk apa burung hanru diburu?

Tubuhku tiba-tiba terasa dingin dan gemetaran. Aku yakin keluarga Noura telah

menggunakan segala cara untuk menggantung diriku. Yang aku tidak bisa

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

256

mengerti adalah perubahan diri Noura. Beberapa waktu yang lalu ia menulis surat

sangat mencintaiku. Kini tiba-tiba ia ingin membunuhku. Apa dosa dan salahku

padanya? Apakah karena aku tidak menanggapi perasaannya dia lalu dendam

yang ingin membunuhku? Kenapa dia begitu keji memfitnahku. Kapan

sebenarnya dirinya kehilangan kegadisannya sehingga hamil? Dan siapa

sebenarnya yang menghamili dirinya? Semua pertanyaan itu bagaikan palu yang

menghantam-hantam batok kepalaku. Aku nyaris tak sanggup menegakkan

kepalaku. Hakim memutuskan melanjutkan sidang minggu depan. Aku turun dari

kerangkeng terdakwa dengan dikawal dua polisi. Orang-orang Mesir

mencacimaki diriku dengan kata-kata kotor. Seorang ibu setengah baya bahkan

melempar botol air mineral dan mengenai mukaku. Polisi yang mengawalku tidak

begitu peduli. Aku dibawa kembali ke penjara. Di dalam penjara aku teringat

Aisha yang tadi jatuh pingsan. Aku takut kondisi psikisnya berpengaruh pada

janin yang dikandungnya.

* * *

Sampai di dalam penjara, Profesor Abdul Rauf menanyakan jalannya

sidang. Aku ceritakan semuanya dari awal masuk ruang sidang sampai dilempar

botol mineral oleh seorang wanita setengah baya saat berjalan meninggalkan

ruang sidang. “Profesor, perlakuan wanita setengah baya itu aku maklumi dia

tidak tahu masalah sebenarnya. Yang aku heran dan belum bisa kumengerti adalah

Noura. Gadis itu pernah menulis surat ucapan terima kasih dan perasaan cinta

padaku dengan sedemikian tulusnya. Tapi dipengadilan itu ia menjadi orang yang

sama sekali tak kukenal. Ia tampak sangat membenci aku dan ingin sekali

membinasakan diriku. Aku juga heran dengan lelaki ceking bernama Gamal.

Bagaimana mungkin dia bisa setega itu memberikan kesaksian palsu untuk

membinasakan orang? Apakah dia sudah tidak punya nurani?” Kataku.

“Noura itu sebenarnya sangat mencintaimu. Karena dia tidak

mendapatkan apa yang dia inginkan darimu dia berubah membencimu. Cinta yang

berubah jadi kebencian tiada tara itu seringkali terjadi dalam sejarah kehidupan

manusia,” jawab Profesor Abdul Rauf.

“Dan orang seperti Gamal jangan kau herankan keberadaannya di zaman

yang telah kehilangan nurani kemanusiaannya seperti sekarang. Uang menjelma

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

257

menjadi tuhan. Uang adalah segalanya. Demi uang begundal seperti Gamal siap

mengerjakan apapun saja,” sahut Haj Rashed.

“Berbicara tentang kemanusiaan, aku jadi teringat sebuah film sukses yang

dibuat oleh Spielberg yaitu ET. Lewat film itu Spielberg ingin menunjukkan

bahwa mungkin tempat terbaik untuk untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan

adalah diangkasa, tidak di bumi.” Suara Ismail terdengar parau. Tadi malam ia

menjadi bulan-bulanan para algojo penjara.

“Kau suka menonton film Amerika juga rupanya?” Haj Rashed agak

kurang senang.

“Sebenarnya tidak juga. Aku menonton film itu karena penasaran pada

analisa Profesor Akbar S. Ahmad dalam karyanya Postmodernism and Islam. Dan

memang seperti itu ironi yang dibangun Spielberg dalam film ET. Nilai-nilai

kemanusiaan di bumi semakin punah,”jJawab Ismail.

“Tapi, insya Allah, selama masih ada yang teguh kukuh mengamalkan Al-

Qur’an dan As Sunnah, nilai-nilai kemanusiaan tidak akan hilang dari muka bumi

ini!” tukas Professor Abdul Rauf Manshour mantap.

Insya Allah,” sahut kami semua hampir kompak.

Tiba-tiba pintu digedor. “Tahanan nomor 543!” Kali ini sipir bersuara

cempreng yang memanggil. Meskipun suaranya cempreng tapi kalau menyiksa

para tahanan tak kenal belas kasihan. Menurut cerita Hamada ia pernah

menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Si Cempreng itu

memasukkan mata ganco ke dalam lubang hidung seorang tahanan yang tangan

dan kakinya diikat lalu menarik ganco itu kuat-kuat. Tak ayal hidung tahanan

miskin itu sobek tak karuan bentuknya. Tahanan miskin itu sudah lama tiada

kabarnya. Mungkin telah mati.

“Hai, keledai 543 apa kau dungu!? Apa aku perlu menyeretmu dengan

ganco?” Si Cempreng kembali mendesis seperti ular.

“Ya saya!” jawab Marwan santai sambil melangkah ke pintu. Setelah pintu

terbuka. Kami mendengar suara: buk! buk!

“Doakanlah Marwan, semoga dia tidak cedera berat!” Suara Profesor

Abdul Rauf membuat hati kami gerimis. Setiap hari selalu ada yang jadi mainan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

258

para algojo penjara. Aku bersyukur bahwa setelah kedatangan Magdi, KBRI, dan

PPMI siksaan yang kuterima sebagai sarapan pagi semakin ringan.

* * *

Satu hari menjelang persidangan kedua Syaikh Utsman datang menjenguk

bersama Paman Eqbal. Syaikh Utsman banyak memberi siraman jiwa. “Kau harus

ikhlas menerima cobaan ini. Kau tidak boleh sedikitpun merasa ragu akan kasih

sayang Allah kepadamu. Kau tentu tahu, Allah sangat mencintai Nabi Yahya. Dan

Nabi Yahya itu kepalanya dipenggal untuk dihadiahkan kepada seorang pelacur.

Husein cucu baginda Nabi juga dipenggal kepalanya. Ditancapkan diujung

tombak dan diarak di kota Kufah. Mereka tetaplah manusia-manusia mulia

meskipun kelihatannya dinistakan dan dihina. Orang yang divonis salah oleh

pengadilan dunia belum tentu salah di pengadilan akhirat dan sebaliknya.

Dekatkanlah dirimu kepada Allah!” Kunjungan Syaikh Utsman sangat berarti

bagiku. Nasihat beliau bagaikan embun menetes di pagi hari musim semi. Aku

semakin mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang terjadi.

Setelah Syaikh Utsman, tanpa kuduga Madame Nahed, dan Yousef

menjenguk. Mereka berdua meneteskan air mata melihat keadaanku.

Madame, maafkan aku yang tidak sempat menjenguk Maria.”

“Tak masalah. Sungguh sangat tragis nasibmu, Anakku. Kau menolong dia

tapi dia malah membalasnya dengan fitnah yang keji sekali. Aku sudah membaca

semuanya di koran. Seluruh koran yang memuat berita persidangan itu tak ada

yang membelamu. Andaikan Maria sehat dia pasti akan menulis membelamu.

Sayang dia…ah!” Madame Nahed terisak. Aku takut sesuatu telah terjadi pada

Maria.

“Kenapa Maria, Madame?” tanyaku cemas.

“Sakitnya sangat parah. Empat hari ini dia koma. Hanya kadang-kadang

dia seperti sadar, mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu. Dan apakah kau

tahu apa yang dia katakan, Anakku?” Suara Madame Nadia terbata-bata.

“Apa Madame?”

“Dia menyebut-nyebut namamu. Hanya namamu, Anakku. Dia ternyata

sangat mencintaimu!”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

259

Kalimat yang diucapkan Madame Nadia bagaikan guntur yang menyambar

kepalaku.”Tak mungkin itu terjadi, Madame!” bantahku.

Yousef langsung menyahut:

“Benar Fahri, Maria sangat mencintaimu. Aku telah membaca diary

khususnya. Dia menulis semua perasaan cintanya padamu di sana. Dalam

diarynya itu aku juga menemukan kwitansi pembayaran semua biaya

pengobatanmu. Maria diam-diam mengambil tabungannya dan membayar

pengobatanmu tanpa ada satupun dari kami yang tahu. Dia sangat mencintaimu.

Sayang diarynya tidak aku bawa. Nanti akan aku bawa kemari agar kau bisa

membacanya sendiri.”

Keterangan Yousef membuat hatiku mau runtuh. Air mataku tanpa terasa

meleleh. Baru aku tahu bahwa malaikat itu adalah Maria.

“Kenapa dia tidak mengungkapkan isi hatinya padaku?” lirihku.

“Dia malu. Dia menunggu saat yang tepat untuk membangun

keberaniannya tapi terlambat. Ketika tahu kau telah menikah dengan Aisha yang

baru beberapa bulan kenal denganmu dia sangat terpukul. Dia sangat menyesal.

Padahal dirinya telah mengenalmu jauh lebih lama dan lebih dalam dari Aisha. Itu

ia tulis setelah pulang dari Hurgada dan tahu kabar pernikahanmu. Aku baru tahu

kenapa dia selalu murung dan tidak bersemangat hidup. Maria menulis dibaris

terakhir, when some one is in love he cannot think of anything else. Bila seseorang

dimabuk asmara, dia tak bisa memikirkan hal yang lain. Dia tidak bisa lepas untuk

memikirkan dirimu, memikirkan cintanya, sampai akhirnya jatuh sakit.” Yousef

meneteskan air mata.

“Anakku, aku takut dia akan mati..hiks..hiks!” Madame Nahed terisakisak.

Aku jadi melupakan nasibku sendiri. Mataku basah melihat kesedihan

Madame Nahed. Dan Maria, oh, kenapa semua ini bisa terjadi!?

“Oh, andaikan aku bisa membantu. Aku merasa menjadi manusia paling

tiada berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri sekarang dibayangbayangi

vonis hukuman gantung. Oh apa yang bisa aku lakukan?” Ucapku sedih.

Yousef mengeluarkan tape kecil dari jaketnya dan berkata, “Kata dokter,

Maria harus dirangsang dengan suara atau sentuhan dari orang-orang yang

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

260

dicintainya. Dia sepertinya telah kehilangan gairah untuk hidup. Suara orang yang

dicintainya harus mendorongnya untuk hidup, harus memberikan harapan-harapan

yang indah baginya. Fahri tolonglah, bicaralah pada Maria apa saja. Ini salah satu

usaha menolong dia. Nanti akan kami perdengarkan suaramu di telinganya.”

“Iya anakku tolonglah! Maria sangat mencintaimu dan merindukan

suaramu,” desak Madame Nahed.

Demi sebuah nyawa aku memenuhi permintaan Yousef dan Madame

Nahed. Dengan suara kupaksakan kebiasa-biasanya, aku berbicara apa saja pada

Maria. Terkadang aku berusaha tertawa. Atau mengingatkan sesuatu yang kirakira

berkesan baginya. Hanya satu yang tidak kuucapkan di sana yaitu kalimat aku

mencintaimu. Tak mungkin, karena kalimat itu hanya berhak untuk Aisha

seorang. Aku berharap suaraku berguna untuk membantu menyembuhkan Maria.

Bahwa di dalam penjara sekali pun aku bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.

Namun begitu mengingat kata-kata Madame Nahed dan Yousef bahwa Maria

sakit karena mencintaiku aku jadi sedih sekali. Aku jadi tidak mengerti apa itu

cinta sebenarnya? Yang kutahu cinta adalah apa yang terjadi antara diriku dengan

Aisha. Itu saja. Tapi apa yang dirasakan Nurul. Yang dirasakan Noura dan yang

dirasakan Maria aku tidak tahu. Apakah itu cinta? Ah cinta. Semacam duka.

Mengiris jiwa.

* * *

Persidangan kedua sangat menegangkan. Tuan Boutros hadir memberikan

kesaksiannya. Beliau membantah keterangan Noura yang mengatakan malam itu

masuk di kamarku. “Jam lima pagi ketika saya bangun, saya menemukan Noura

bersama Maria di kamarnya. Dan Maria bercerita Noura sejak tengah malam ada

dikamarnya.”

Penuntut bertanya pada Tuan Boutros, “Apakah antara jam 2 sampai jam 5

anda tidak tidur, jadi anda tahu persis Noura selalu bersama Maria, misalnya

mendengar suara mereka dalam rentang waktu itu?”

Tuan Boutros dengan jujur menjawab, “Tidak saya sedang tidur. Bahkan

jeritan Noura dipukuk Bahadur juga tidak saya dengar. Saya terlelap dan bangun

setengah lima.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

261

Noura diminta bicara. “Maria berkata tidak benar kalau aku bersamanya

terus. Yang benar pukul tiga Maria mengantarku ke tempat Fahri yang hanya

berada di bawahnya. Di kamar Fahri pemerkosaan atas diriku terjadi. Dan ketika

azan pertama berkumandang, aku kembali ke tempat Maria. Saat itu seluruh isi

rumah Maria masih tidur, termasuk Tuan Boutros, kecuali Maria.” Kata Noura.

Teman-teman satu rumah yang pada malam kejadian itu ada di rumah ikut

memberikan kesaksian. Mereka semua menolak tuduhan Noura. Tapi mereka juga

jujur menjawab ketika ditanya sedang apa antara jam tiga sampai azan pertama?

Jawabnya tidur. Hamdi masih berusaha membela, “Saya ini termasuk manusia

yang sangat sensitif. Seringkali dalam keadaan tidur jika pintu dibuka saya

terbangun. Jika Noura masuk rumah pasti saya terbangun. Saya tidak terbangun

malam itu?”

Penuntut malah tersenyum dan berkata, “Menurut cerita Fahri kalian

malam itu berpesta hingga kenyang, benarkah?”

“Benar!” jawab Hamdi.

“Itulah salah satu penyebab kenapa kau tidak terbangun ketika Noura

masuk. Karena kau terlalu kenyang. Dan itu sudah sangat wajar terjadi!”

Nurul memberikan kesaksian dengan suara terbata-bata menahan emosi. Ia

menceritakan cerita yang dikisahkan sendiri oleh Noura kepadanya ketika Noura

menginap beberapa hari di rumahnya. Cerita yang sangat berbeda dengan yang

dikatakan Noura di sidang pengadilan. “Saya yakin Noura saat ini sedang

berbohong. Apa yang dia katakan di pengadilan ini dusta. Dia bercerita malam itu

di kamar Maria dan baru bertemu Fahri pukul tujuh pagi. Dan uang dua puluh

pound itu diberikan kepadanya bukan sebagai harga atas kegadisannya. Itu fitnah.

Fahri tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Dia menyentuh tangan

perempuan saja tidak mau.”

Noura menolak kesaksian Nurul dan berkata dengan tenang, “Memang

seperti itu yang aku kisahkan pada Nurul. Saat itu aku tidak mungkin dengan jujur

menceritakan apa yang terjadi pada diriku di kamar Fahri. Aku tidak mungkin

menceritakan aib. Aib diriku dan aib orang yang akan jadi suamiku, karena dia

memang berjanji akan menikahiku. Sebenarnya yang terjadi adalah seperti apa

yang aku ceritakan. Saat itu aku juga mengira uang dua puluh pound itu ikhlas

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

262

diberikan oleh Fahri sebagai ongkos pergi ke Masakin Utsman. Aku tidak mengira

sama sekali saat itu kalau itu adalah sebagai harga akan kegadisanku yang

direnggut Fahri. Aku tahu kebusukkannya setelah dia terang-terangan tidak mau

menikahiku dan malah mengatakan diriku pelacur sebab telah ia bayar dengan dua

puluh pound saja mau.”

Di akhir sidang terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Bahadur

memberikan kesaksian bahwa dia katanya pernah melihatku beberapa kali

menyiuli Noura dari jendela kamarku. “Saat itu aku sebenarnya sangat marah

pada penjahat itu. Tapi aku masih menghormatinya sebagai tamu di negeri ini dan

aku mengira itu hanyalah iseng anak muda. Apalagi dia kulihat juga rajin ke

masjid. Aku tidak menyangka kalau dia sebenarnya serigala. Dan aku yakin dialah

yang menodai Noura. Dia harus dihukum yang seberat-beratnya!”

Hakim lalu bertanya pada pengacaraku apakah masih ada saksi atau bukti

untuk membela diriku. Pengacaraku bilang masih. Yaitu kesaksian Syaikh Ahmad

dan isterinya, surat yang ditulis Noura untukku, dan Maria. Hakim memutuskan

sidang akan dilanjutkan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Itu berarti aku

akan menjalani hari raya terberat selama hidup.

Amru, Magdi dan paman Eqbal mengikutiku sampai ke penjara. Di ruang

tamu penjara mereka mangajakku berbicara. Eqbal terus memintaku untuk tabah

dan besar hati. Magdi dan Amru menganalisa jalannya sidang yang telah terjadi.

“Saksi yang kita ajukan adalah orang-orang yang sangat jujur. Mulai dari

Tuan Boutros sampai teman-temanmu. Aku salut atas kejujuran itu, meskipun

dalam kasus ini kejujuran teman-temanmu tidak membantu. Kalau mereka ada

yang berani bohong sedikit saja, misalnya pukul tiga terbangun untuk shalat

malam dan mendapati keadaan rumah dalam keadaan sepi seperti biasa tidak ada

Noura di kamarmu. Karena kamarmu berdekataan dengan kamar mandi tempat

wudhu, dakwaan Noura akan runtuh,” ucap Amru sambil memandang lurus

kepadaku.

“Tapi insya Allah kejujuran itu tetap akan membantu. Setidaknya

membantu kekuatan moral kita. Kebersihan nurani kita. Dan semoga dengan

kejujuran itu Allah memberikan jalan keluar yang lebih baik,” sahut Eqbal.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

263

“Dalam sejarah kejahatan selalu dilancarkan dengan segala cara. Dan

kebenaran selalu dipertahankan dengan cara-cara yang jantan dan bersih,” imbuh

Magdi.

“Bisa jadi sidang setelah hari raya adalah sidang penentuan. Dan dalam

sidang itu kita harus membalik keadaan dan meruntuhkan semua tuduhan dan

rekayasa mereka. Senjata kita yang tersisa adalah surat cinta Noura yang disana

dia mengungkapkan semua pengakuannya secara jujur dan pengakuan Maria.

Yang paling penting sebenarnya adalah kesaksian Maria. Sebab dialah yang

paling tahu. Dialah—yang dalam penuturan Noura—mengantarkan dirinya ke

tempatmu. Dan dia juga yang membukakan pintu ketika Noura kembali lagi naik.

Adapun kesaksian Syaikh Ahmad dan isterinya kekuatannya tak akan berbeda

dengan kesaksian Nurul yang memang malam itu tidak tahu apa-apa. Marialah

sebenarnya saksi kunci, tapi sayang dia sekarang sedang koma.” jelas Amru.

“Bagaimana dengan surat Noura itu?” tanya Eqbal.

“Cukup kuat, jika benar-benar bisa dibuktikan itu tulisan tangannya. Tapi

surat itu sekarang ada di mana masih jadi masalah. Oleh Fahri surat itu diberikan

kepada Syaikh Ahmad. Syaikh Ahmad memberikan kepada isterinya. Isterinya

memberikan kepada Noura waktu masih di Tafahna. Sekarang sedang dicari di

Tafahna, siapa tahu ditinggal oleh Noura di sana. Jika surat itu ternyata dibawa

Noura ya kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu mukjizat Maria bisa

membaik dan pada sidang setelah hari raya nanti bisa memberikan kesaksian,”

jelas Amru.

Mendengar semua pembicaraan itu aku merasa nasibku benar-benar

berada di ujung tanduk. Jika nyawaku akhirnya harus melayang dengan

sedemikian tragisnya, aku pasrah saja kepada Yang Mahakuasa. Aku teringat

nasihat Syaikh Utsman agar selalu menjaga keikhlasan menerima takdir Ilahi

setelah berusaha sekuat tenaga. Yang divonis salah dalam pengadilan dunia tidak

selamanya salah di pengadilan akhirat. Kepala Nabi Yahya dipenggal dan

dihadiahkan kepada seorang pelacur. Dalam hati aku berdoa, jika aku harus mati

di tiang gantungan, maka “Allaahumma amitni alasy syahaadati fi

sabilik.Amin.”111

111 Ya Allah matikanlah diriku dalam keadaan mati syahid di jalanMu. Amin.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

264

“Apa tidak ada jalan lain untuk membuktikan bahwa yang menghamili

Noura bukan Fahri? Bagaimana dengan test DNA? Bukankah Noura menemukan

orang tua kandungnya karena test DNA?” ucap Eqbal dengan mata berbinar.

Amru dan Magdi mengangguk-anggukkan kepala. Aku merasa di dalam

dadaku ada cahaya. “Benar test DNA!” lirihku.

“Ini ide yang sangat menggembirakan. Aku nanti akan mencoba bertanya

pada dokter apakah janin yang dikandung Noura bisa diperiksa DNA-nya. Agar

ketahuan siapa sebenarnya ayahnya? Jika bukan Fahri yang menghamili tentu

DNA janin itu akan berbeda dengan DNA Fahri. Sebentar aku mau mengontak

Dokter Fatema Zaki, apakah janin bisa diperiksa DNA-nya.” Kata Amru sambil

memenjet handphone-nya dan meletakkan di telinganya. Amru lalu terlibat

pembicaraan dengan orang yang ditujunya. Tiba-tiba mukanya agak pucat, ia

berkata setengah berteriak, “Apa? Tidak bisa! Menunggu sampai lahir?! Oh,

begitu. Ya, terima kasih atas informasinya.”

“Bagaimana Amru?” tanya Eqbal.

“Menurut keterangan Dokter Fatema Zaki, janin yang masih berada di

dalam kandungan tidak bisa diperiksa DNA-nya. Karena harus pakai sampel

jaringan/sel tubuh. Janin tidak bisa diambil jaringan tubuhnya. Yang bisa diambil

cuma sampel air ketuban, tidak bisa untuk pemeriksaan DNA. Jadi harus

menunggu janin itu dilahirkan baru bisa diperiksa DNA-nya,” jelas Amru yang

membuat diriku lemas kembali. Menunggu Noura sampai melahirkan janinnya,

bukan waktu yang singkat di dalam penjara buruk seperti ini. Tapi aku tetap

merasa lebih berbesar hati bahwa jalan untuk membebaskan diri dari tuduhan dan

fitnah itu masih ada.

“Aku akan membuat surat permohonan kepada pengadilan agar sidang

selanjutnya diundur sampai Noura melahirkan bayinya untuk pemeriksaan DNA.”

Ujar Amru dengan wajah optimis.

“Jika pengadilan tidak mengabulkan?” sahut Magdi.

“Kita lihat nanti. Oh ya Magdi, tolong bagaimana caranya keamanan

Maria terjamin. Sebab walau bagaimana pun sebelum test DNA, Maria adalah

saksi kunci. Kau tentu tahu maksudku?” kata Amru.

Insya Allah,” jawab Magdi pelan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

265

Mereka bertiga lalu pamintan. Amru berjanji akan menengok ke penjara

lagi jika ada perkembangan.

* * *

Sampai di dalam sel, sebelum Profesor Abdul Rauf dan teman-teman

menanyakan yang terjadi di dalam sidang kedua, aku langsung mengisahkan

semuanya. Termasuk pembicaraan berempat dengan Amru, Magdi dan Eqbal di

ruang tamu penjara.

“Bolehkan aku membuat suatu analisa? Siapa tahu ada gunanya,” ujar

Profesor Abdul Rauf begitu aku selesai bercerita.

“Tentu, Profesor,” jawabku senang.

“Pemohonanmu untuk mengundurkan sidang setelah Noura melahirkan

bayinya agar bisa diperiksa DNAnya tidak akan dikabulkan pengadilan.

Pengadilan akan tetap berjalan sesuai yang diinginkan hakim. Dan hakim berjalan

sesuai yang diinginkan oleh keluarga Noura. Mereka sudah tahu saksi kunci sudah

tidak berdaya. Seandainya pun Maria bisa memberikan kesaksian mereka sudah

mempersiapkan jurus yang akan mengejutkan. Selama ini yang terjadi, tertuduh

yang berada dalam posisi seperti dirimu jarang bisa menang. Apalagi kau orang

asing. Mereka juga tahu akan adanya test DNA, maka mereka akan menggunakan

cara agar di pengadilan ini kau kalah. Tindakan yang akan kau ambil adalah naik

banding, menunggu bayi Noura bisa ditest DNAnya. Begitu kau kalah, maka

setelah itu rekayasa yang akan mereka mainkan susah diprediksi. Bisa jadi diamdiam

mereka akan menggugurkan kandungan Noura dengan alasan keguguran dan

membuangnya entah di mana yang penting tidak bisa ditest DNAnya. Dan kau

tidak akan bisa menuntut apa-apa. Atau tidak begitu, tetap membiarkan bayi itu

lahir tapi permohonan bandingmu tidak dikabulkan dengan alasan yang seringkali

tidak masuk. Atau dikabulkan tapi setelah menunggu sekian tahun, setelah dirimu

mengalami penderitaan luar biasa dan sekarat di dalam penjara. Sebab begitu kau

diputuskan pengadilan bersalah kau akan diperlakukan sebagai orang bersalah

meskipun sedang mengajukan banding. Itu analisaku. Aku tidak ingin

menakutimu tapi agar pengacaramu dan pihak kedutaanmu berusaha lebih

maksimal untuk membebaskan dirimu dalam pengadilan terakhir nanti.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

266

Aku merasa apa yang disampaikan profesor benar. Dalam pengadilan

Mesir seringkali terjadi hal-hal yang tidak masuk akal. Adanya saksi seorang

lelaki yang hobinya berburu burung hantu adalah suatu yang ganjil. Dan sejak

kapan di suthuh apartemen di Hadayek Helwan itu ada burung hantu?

“Menurut Profesor apa yang harus kami lakukan?” tanyaku dengan hati

cemas.

“Minta pertolongan Tuhan. Dan terus berusaha untuk menang!” ucap

Profesor mantap.

“Aku punya sesuatu yang ingin aku katakan, Akhi.” sahut Ismail.

“Boleh.” kataku pelan.

“Mendengar semua kisahmu sejak kau ditangkap sampai sekarang, aku

melihat ada satu kekuatan yang mengaturnya. Mintalah kepada Magdi untuk

menyelidiki kekuatan backing dibelakang keluarga Noura. Kau masih beruntung

karena kasusmu bukan kasus yang oleh pihak keamanan dianggap mengancam

kekuasaan seperti Profesor Abdul Rauf. Asal bisa menjinakkan kekuatan di

belakang Noura maka jalan pembebasanmu menjadi lebih mudah. Firasatku

mengatakan, yang menghamili Noura adalah seseorang yang sangat memalukan

untuk disebut, jadi mereka mencari kambing hitam. Dan kambing hitamnya

adalah dirimu.Yang aku kuatirkan jika backing Noura adalah orang penting di

Keamanan Negara yang memang sangat berkuasa di negara ini.”

“Namun kau jangan kecil hati Fahri, di atas segalanya Allahlah yang

menentukan. Daya dan kekuatan manusia tiada berarti apa-apa di hadapan

kemahakuasaan Allah. Jika Dia berkehendak apa pun bisa terjadi.” Haj Rashed

menghibur. Aku diam saja. Semuanya lalu diam. Ruangan sel bawah tanah yang

pengap dan dingin itu dicekam suasana senyap sesaat. Keheningan menebarkan

aroma ketakutan yang menguji keimanan. Kini dalam ruangan sempit itu tinggal

kami berempat. Marwan sejak diambil sipir bersuara cempreng itu tak ketahuan

nasibnya. Apakah dipindahkan ke penjara lain? Ataukah dibebaskan? Atau malah

telah menemui kematian. Hamada juga tidak lagi terdengar beritanya sejak dua

hari lalu. Yang paling cemas atas nasib Hamada adalah Ismail. Katanya ia

bermimpi melihat Hamada berpakaian putih di sebuah tanah yang sangat lapang.

Ia kuatir itu adalah pertanda keburukan. Tapi Profesor malah menafsirkan mimpi

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

267

itu dengan hal yang menyenangkan, tanah lapang adalah kebebasan. Hamada

berarti sudah dibebaskan.

* * *

Hari berikutnya, kira-kira pukul sepuluh pagi, aku dibawa sipir hitam ke

kantor. Di sana kepala penjara menyerahkan sepucuk surat. “Ini surat dari

Universitas Al Azhar. Selamat!” Kata kepala penjara dengan nada yang sangat

sinis. Aku menerima surat itu dengan tangan bergetar. Aku teringat peristiwa

tahun 1995 seperti yang diceritakan staf konsuler KBRI. Kubuka amplop surat

cokelat buram itu dan kukeluarkan isinya. Lalu kubaca huruf demi huruf. Selesai

membaca surat itu aku tak mampu menahan isak tangisku. Usahaku sekian tahun

belajar mati-matian seakan sia-sia belaka. “Karena tidak asusila yang Anda

lakukan, maka Anda dikeluarkan dari Universitas Al Azhar dan gelar licence yang

telah Anda dapat dicabut sejak surat ini dibuat!” Demikian salah satu baris surat

dari Universitas Al Azhar itu. Melihat aku sedih dan meneteskan air mata, kepala

penjara malah tertawa mengejek. Ia tentu sudah tahu isi surat itu. Aku kembali ke

penjara dengan memendam kesedihan tiada tara. Al Azhar yang kucintai itu tidak

lagi menganggapku sebagai bagian dari anak muridnya. Alangkah malang

nasibku.

Di dalam sel aku menangis sejadi-jadinya. Aku belum pernah menangis

sesedu itu. Profesor Abdul Rauf menghiburku seperti seorang ayah menghibur

anaknya. Ia bertanya ada apa? Aku tak kuasa menceritakannya. Aku terus

menangis dengan sesak dada yang tiada terkira. Aku teringat semua pengorbanan

orang tua. Sawah warisan kakek, harta satu-satunya, dijual demi agar aku bisa

kuliah di Al Azhar Mesir. Dan kini semuanya seperti sia-sia. Aku merasa menjadi

manusia yang paling tiada gunanya di dunia. Hampir satu jam aku menangis.

Profesor Abdul Rauf masih terus menghibur dan membesarkan hatiku. Akhirnya

aku ceritakan berita duka itu padanya, dengan isak tangis yang tersisa.

“Kau percayalah padaku, Al Azhar sebenarnya tidak semudah itu

mengeluarkanmu. Di sana masih banyak ulama dan guru besar yang arif

bijaksana. Tapi Al Azhar tidak bisa berbuat apa-apa jika mendapat tekanan dari

penguasa. Apalagi jika datang dari Amn Daulah112. Aku sangat yakin Al Azhar

112 Keamanan Negara.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

268

mengeluarkanmu karena mendapat tekanan. Itu sama seperti Universitas El-

Menya waktu mengeluarkan diriku dan mencopot gelar guru besarku. Jadi

sebenarnya sekarang ini saya bukan seorang profesor lagi, karena gelar guru

besarku telah dicabut. Rektor Universitas El-Menya adalah temanku waktu

mengambil doktor di Universits Lyon, Perancis. Dia tidak mungkin berbuat buruk

padaku, tapi dia mendapat tekanan dari penguasa agar memejatku dari dosen dan

menandatangani surat pencabutan guru besarku. Untungnya aku mendapat gelar

doktor dari Perancis, kalau aku mendapatkan gelar doktor dari salah satu

universitas di sini maka seluruh gelar akademisku juga akan dipreteli. Ah

sebenarnya gelar itu tidaklah segalanya yang paling penting adalah kemampuan

kita. Meskipun kau dikeluarkan dan gelarmu dicopot tapi ilmu yang telah melekat

dalam otakmu tidak bisa mereka copot. Seandainya nanti kau bebas dan kembali

ke tanah airmu kau masih bisa mengamalkan ilmumu meskipun tanpa gelar. Di

dunia ini sangat banyak orang yang sukses tanpa gelar akademis. Aku malah

pernah membaca sejarah Indonesia, bahwa salah seorang Wakil Presiden

Indonesia yang sangat disegani yaitu Adam Malik, tidak memiliki gelar akademis

apapun. Tapi kemampuannya tidak diragukan. Jadi janganlah masalah sekecil itu

kau tangisi. Kau harus menjadi seorang lelaki sejati yang berjiwa besar. Dan aku

yakin kau mampu untuk itu.”

Kata-kata profesor Abdul Rauf mampu menyeka air mata sedihku. Aku

semestinya malu pada diriku sendiri jika menangisi hilangnya sebuah gelar. Jika

aku diharamkan belajar di Al Azhar, maka Allah mungkin akan membuka jalan

untuk belajar di tempat yang lain, termasuk belajar di dalam penjara. Bahkan bisa

jadi penjara adalah universitas paling dahsyat di dunia. Banyak terjadi orangorang

besar di dunia melahirkan karya-karya monumental di penjara. Ibnu

Taimiyah, ulama terkemuka pada zamannya yang mendapat gelar “Syaikhul

Islam” menulis Fatawanya yang berjilid-jilid di dalam penjara. Sayyid Qutb

menulis tafsir Zhilalnya yang sangat indah bahasa dan isinya, juga di dalam

penjara. Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi juga menulis karya-karyanya yang

monumental di dalam penjara. Kenapa aku tidak berpikiran positif seperti

mereka? Penjara bukanlah penghalang untuk berkarya dan berbuat. Seandainya

aku tidak bisa menelorkan karya di dalam penjara, kenapa aku tidak menggunakan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

269

kesempatan yang ada untuk belajar pada Profesor Abdul Rauf. Beliau adalah guru

besar bidang ilmu ekonomi. Beliau juga pernah belajar di Perancis. Dengan beliau

aku semestinya bisa belajar satu rumus ilmu ekonomi, atau bahasa Perancis

menskipun cuma satu kosa kata.. Rasanya mempersiapkan diri saja untuk

menikmati hidup di dalam penjara, itu lebih realistis dan lebih baik daripada

bersedih, berkeluh kesah dan meratapi nasib. Kuutarakan kemauanku pada beliau.

Hari itu juga aku mulai menimba ilmu pada beliau. Lumayan selain ‘bonjour’ aku

mendapatkan sebuah kalimat dari Victor Hugo saat merenungi suatu keadaan

nyata bahwa tangan manusia banyak melakukan suatu kejahilan. Hugo

mengatakan: Tempos edax, home edacior! Artinya: Waktu kejam tapi manusia

lebih kejam lagi!

* * *

Tiga hari setelah itu, kira-kira satu jam menjelang buka puasa, sipir

bersuara cempreng memanggilku. Aku yang biasanya tidak pernah takut kali ini

menyahut panggilannya dengan bulu kuduk merinding. Aku bersyukur ketika Si

Cempreng tidak berbuat macam-macam padaku, ia hanya membawaku ke ruang

tamu penjara. Di sana ada Aisha, paman Eqbal, Maqdi, dan Amru yang telah

menunggu.

“Sore ini kita akan sedikit berbincang dan buka puasa bersama.” kata

Aisha.

“Untuk buka puasanya mungkin aku tidak bisa,” jawabku.

“Kenapa?”

“Aku tidak mungkin makan enak sementara teman-teman satu sel berbuka

hanya dengan seteguk air dan roti isy kering dengan jubnah kadaluwarsa.”

Aisha langsung mengerti apa maksudku. Dia langsung membagi beberapa

bungkus makanan yang dibawa menjadi dua bagian.

“Ini untuk mereka.”

“Biar kuantar dulu.”

Selesai mengantar buka untuk teman-teman satu sel, barulah aku

mendengarkan semua perkembangan yang terjadi dari mereka.

~ oleh starhome di/pada Mei 16, 2008.

Tinggalkan Balasan