Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Penangkapan)

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

227

22. Penangkapan

Dalam perjalanan pulang entah kenapa aku merasakan kecemasan yang

menyusup begitu saja dalam jiwa. Selama melewati jalan lurus yang membelah

lautan padang pasir aku terus berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan.

Kupandang lekat-lekat wajah Aisha yang sedang konsentrasi mengemudikan

kendaraan. Dalam hati aku berkata:

Aku cemas bila kehilangan kau

Aku cemas pada kecemasanku108

Aisha terus mengebut dengan tenang. 90 km/jam. Semua kendaraan

berjalan cepat. Tak ada yang lambat. Bus West Delta menyalib dengan kecepatan

gila. Memasuki Giza, awal masuk kota Kairo dari arah Alexandria, kami mampir

di sebuah restoran untuk makan malam dan sedikit membeli oleh-oleh buat Si

Hosam dan Magdi. Dua penjaga apartemen yang dalam waktu singkat sudah

sangat akrab dengan kami. Tepat pukul sembilan malam kami tiba di gerbang

apartemen. Dua malam sebelum Ramadhan tiba. Rencana berangkat umrah awal

Ramadhan terpaksa diundur satu minggu. Baru masuk rumah sms dari Yousef

datang, mengabarkan kondisi Maria semakin memburuk dan terpaksa harus

dirawat di rumah sakit Maadi. Kondisi kami sangat lelah. Tidak mungkin

langsung meluncur ke Maadi. Aku membalas dengan mengabarkan baru tiba dari

Alexandria dan insya Allah besok pagi akan datang menjenguk.

Selesai membersihkan badan dengan air hangat kami shalat berjamaah.

Selesai shalat aku turun ke bawah membawa oleh-oleh untuk Hosam dan Magdi.

Dua bungkus ayam panggang dan dua jaket baru. Mereka senang sekali

menerimanya. Aku kembali naik dan mengajak Aisha istirahat. Ketika mata baru

saja akan terlelap, Aisha terbangun dan berlari ke kamar mandi. Ia muntahmuntah.

Kubuntuti dia. Kupijit-pijit tengkuknya. Mukanya pucat. Dalam

pikiranku dia masuk angin dan kelelahan. Ia telah bekerja keras, memforsir tenaga

dan pikirannya untuk menulis biografi ibunya selama di Alexandria. Ia juga harus

konsentrasi selama tiga jam mengendarai mobil. Aku merasa sangat kasihan pada

108 Petikah puisi berjudul “Sajak” karya Penyair Amerika, John Cornford, diterjemahkan oleh

Chairil Anwar.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

228

isteriku. Aku berniat aku harus bisa menyetir agar isteriku tidak kelelahan.

Kugosok punggungnya dengan minyak kayu putih. Telapak tangan, kaki, perut

dan lehernya kuolesi minyak kayu putih. Kubuatkan ramuan obat andalanku jika

lelah dan meriang. Segelas madu hangat diberi habbah barakah. Rasulullah

pernah memberi tahu bahwa habbah barakah bisa menjadi obat segala penyakit.

Setelah meminum ramuan itu Aisya kuajak tidur.

Pagi hari ia tampak segar. Pukul sembilan saat aku bersiap mengajaknya

ke rumah sakit Maadi. Tiba-tiba dia kembali muntah-muntah. Aku bingung. Aku

takut ia terkena penyakit yang orang Jawa bilang masuk angin kasep, yaitu masuk

angin yang bertumpuk-tumpuk dan parah. Aku urung ke Maadi, dengan taksi

kubawa Aisha ke klinik terdekat. Seorang dokter berjilbab memeriksanya. Hampir

setengah jam lamanya Aisha berada dalam kamar periksa dengan dokter berjilbab.

Ketika keduanya keluar, dokter berjilbab itu tersenyum, “Selamat! Setelah kami

periksa air seninya dan kami lanjutkan dengan USG, isteri anda positif hamil!”

Wajah Aisha cerah. Kepadaku ia mengerlingkan mata kanannya. Aku

merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu sampai di flat Aisha berkata dengan

wajah cerah,

“Melodi cinta yang kau mainkan sungguh ampuh suamiku. Dan memang

saat malam pertama dan malam-malam indah setelah itu adalah saat aku sedang

berada dalam masa subur. Allah telah mengatur sedemikian indahnya. Segala puji

bagi-Nya yang telah memberikan anugerahNya yang agung ini pada kita berdua.”

Aku tersenyum dan langsung mencium pipinya yang bersih. Aisha

menggeliat manja. Ia lalu mengangkat telpon memberi tahu bibinya, Sarah. Ia

juga memberi tahu Akbar Ali, pamannya di Turki. Aku melihat kalender. Tak

terasa kami telah hidup bersama sejak malam pertama itu selama satu bulan lebih.

Hari-hari indah selalu berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya aku baru sehari

bersama Aisha.

Untuk menghayati keagungan nikmat yang telah Tuhan berikan, kuajak

Aisha sujud syukur dan shalat dhuha. Kepadanya aku berpesan untuk tidak

banyak beraktifitas keluar rumah. Menjelang zhuhur aku bersiap untuk menjenguk

Maria yang sakit. Aisha kuminta di rumah. Dia pesan dibelikan buah pir dan

korma. Tiba-tiba ada orang membunyikan bel dengan kasar sekali. Aku bergegas

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

229

membuka pintu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang membunyikan bel

seperti orang gila itu. Begitu pintu kubuka. Tiga orang polisi berbadan kekar

menerobos masuk tanpa permisi dan menghardik,

“Kau yang bernama Fahri Abdullah?!”

“Ya benar, ada apa?”

“Kami mendapatkan perintah untuk menangkapmu dan menyeretmu ke

penjara, ya Mugrim!”109 bentak polisi yang berkumis tebal.

“Kalian bawa surat penangkapan dan apa kesalahanku?”

“Ini suratnya, dan kesalahanmu lihat saja nanti di pengadilan!”

Aku membaca selembar kertas itu. Aku ditangkap atas tuduhan

memperkosa. Bagaimana ini bisa terjadi.

“Ini tidak mungkin! Ini pasti ada kesalahan. Saya tidak mau ditangkap!”

bantahku.

“Jangan macam-macam, atau kami gunakan kekerasan!” bentak polisi

Mesir. Aku sangat geram pada sikapnya yang sangat jauh dari sopan dan kelihatan

sangat angkut. Aisha cemas dan memegangi tanganku. Polisi Mesir itu berkatakata

dengan suara keras seperti anjing menyalak.

“Ayo ikut kami!” tegas polisi kurus hitam sambil memegang erat-erat

tangan kananku. Aku menarik tanganku tapi polisi hitam mencengkeramnya kuatkuat

dan memasang borgol. Tangan kiriku dipegang Aisha, dia menangis.

“Ada apa ini Fahri, ada apa!?” tanya Aisha dengan muka pucat.

Polisi berkumis menarik tangan kiriku dari pegangan Aisha dan memaksa

memborgolku.

“Sebentar Kapten biarkan aku sedikit bicara pada isteriku!?” ucapku

dengan suara tegas.

“Boleh. Dua menit saja!” kata Si Kumis.

Aku lalu menjelaskan pada Aisha, hal seperti ini sering terjadi di Mesir.

Polisi Mesir tidak memakai azas praduga tak bersalah. Tapi praduga bersalah. Jika

dicurigai langsung ditangkap akan dibebaskan kalau terbukti tidak bersalah. Aku

berpesan pada Aisha untuk bersabar dan langsung menghubungi Paman Eqbal,

teman-teman PPMI, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Surat

109 Wahai penjahat.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

230

penangkapannya kuminta untuk aku berikan kepada Aisha. Tujuanku agar nanti

mudah dilacak keberadaanku. Tapi polisi itu tidak memperbolehkannya. Aku pun

pasrah digelandang tiga polisi itu. Kulihat Aisha terisak-isak. Aku dibawa turun

melalui lift. Di halaman mobil kerangkeng besi menungguku. Sebelum masuk

mobil kerangkeng aku sempat mendongakkan kepala ke arah jendela flat lantai 7.

Di sana kulihat wajah Aisha yang basah air mata. Aku tidak tahu akan dibawa ke

mana. Dalam beberapa jam saja kegembiraan yang aku rasakan berubah menjadi

kesedihan dan kecemasan. Kota Cairo yang indah tiba-tiba terasa seperti sarang

monster yang menakutkan.

~ oleh starhome di/pada Mei 16, 2008.

Tinggalkan Balasan