Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Di San Stefano, Alexandria)

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

223

21. Di San Stefano, Alexandria

Selesai pelatihan kami mempersiap segala sesuatu untuk pergi ke

Alexandria. Dengan cermat Aisha mendata semua keperluan yang harus dibawa.

Termasuk laktopnya. Selama satu minggu di sana ia berencana menulis biografi

ibunya. Ia pernah ke Alexandria bersama ibunya. Jadwal di Alexandria telah

tersusun baik. Di antaranya adalah pergi ke perpustakaan Universitas Alexandria

untuk mencari tambahan referensi dan menemui Syaikh Zakaria Orabi, seorang

imam masjid yang menurut keterangan Syaikh Utsman pernah berjumpa dengan

Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.

Dengan Nissan Terrano kami sampai di kota Alexandria. Kota kebanggaan

rakyat Mesir. Aku tidak hafal betul route kota budaya ini. Setelah bertanya

beberapa kali akhirnya kami sampai di San Stefano Hotel. Sebenarnya aku ingin

naik bis saja. Tapi Aisha memaksa menggunakan mobil pribadi. Ketika aku

sedikit ragu akan keputusannya. Ia meyakinkan diriku dengan berkata:

“Di Jerman aku sering keluar kota dengan mobil pribadi. Aku bahkan

pernah menempuh jarak Munchen-Hamburg dengan mobil sendiri. Kau jangan

kuatir, insya Allah selamat. Apalagi Cairo-Alexandria cuma 177 km, jalannya pun

lebar dan lurus, dengan kecepatan santai tiga-empat jam sampai!”

Karena dia merasa yakin sekali semuanya akan baik-baik saja. Dia juga

ingin sekali berkeliling Alexandria dengan mobil sendiri maka aku pun

menyetujuinya. Untuk menginap sebenarnya sudah aku tawarkan padanya

menginap di rumah khusus tamu milik mahasiswi Malaysia, tapi Aisha tidak mau.

Aisha Aisha ingin menginap di hotel San Stefano dan di kamar yang ia dan ibunya

dulu pernah menginap. Sudah jauh-jauh hari ia pesan kamar itu. Ia ingin

bernostalgia sambil menulis biografi ibunya. Itulah untuk pertama kalinya aku

menginap di hotel berbintang. Sudah empat kali aku ke Alexandria dan tidak

pernah menginap di hotel. Dua kali ikut mukhayyam 106 musim panas yang

diadakan oleh Universitas Al Azhar. Dan yang dua kali bersama teman-teman

Malaysia dan menginap di rumah khusus tamu milik organisasi mahasiswi

Malaysia di Alexandria.

106 Perkemahan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

224

Hotel San Stefano terletak tepat di garis pantai laut Mediterania. Balkon

kami kami menghadap ke laut. Malam pertama di San Stefano Aisha berbisik,

“Sayang, Dhab Mashrinya dicoba yuk!”

Aku tersenyum. Aisha selalu berterus terang. Apakah karena dia bukan

perempuan Jawa? Tapi keterusterangannya membuat aku senang. Aku teringat

perkataan Sayyidina Muhammad Al Baqir, “Wanita yang terbaik di antara kamu

adalah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya,

dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi!” Dan Aisha adalah wanita

seperti itu.

Dhab Mashrinya tidak kubawa?”

“Kenapa?”

“Aku takut menjelma jadi kadal.”

Aisha tertawa geli.

Di Alexandria kami melewati hari-hari indah. Tidak terlalu kalah indahnya

dengan hari-hari di tepi sungai Nil. Tapi tepi sungai Nil tetaplah lebih terkesan,

karena kami menghabiskan malam paling indah sepanjang hayat di sana. Satu

minggu telah berlalu, tapi Aisha ingin menambah satu minggu lagi untuk

menuntaskan biografi ibunya. Ternyata dengan memandang laut yang indah Aisha

merasa pikirannya lebih jernih. Banyak kenangan yang bersama ibunya yang terus

berkelabat di kepalanya. Ia sudah menulis tiga ratus halaman dan biografi itu

belum juga selesai. Aku merasa tidak ada masalah menambah hari lagi. Sementara

dia sibuk dengan biografi ibunya, aku sibuk talaqqi kitab hadits Shahih Bukhari di

Masjid Imam Abdul Halim Mahmud yang diajar oleh Syaikh Zainuddin El-

Maula.

Suatu malam ada sms masuk ke handphone-ku. Dari Yousef . Kubuka:

“Maria sakit, mama minta agar memberi tahu kamu.”

Aku tersenyum. Madame Nahed masih menganggap aku bagian dari

keluarganya. Puterinya sakit langsung memberi kabar. Aku tidak membalas apaapa.

Aku hanya berdoa dalam hati semoga Maria segera sembuh. Dan nanti jika

sudah kembali ke Cairo, aku akan mengajak Aisha mengunjungi mereka, sekalian

mengunjungi teman-teman seperjuangan di Hadayek Helwan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

225

Setelah dua minggu di Alexandria, waktu pulang pun tiba. Dari mengaji

pada Syaikh Zainuddin aku mendapatkan pengetahuan tentang fiqhul hadits yang

sangat berharga. Dari Syaikh Zakaria Orabi aku mendapatkan kisah perjalanan

hidup Said An-Nursi, juga beberapa lembar teks khutbah Jum’atnya yang ditulis

tangan oleh Syaikh Zakaria. Dan Aisha berhasil menyelesaikan biografi ibunya.

Tertulis dalam bahasa Jerman sebanyak 545 halaman satu spaso, Microsoft Word,

Times New Roman, font 12. Sehari menjelang pulang ke Cairo kami jalan-jalan

ke kawasan El-Manshiya yang merupakan pusat kota Alexandria dan disebut juga

Alexandria lama. Di El-Manshiya itulah tepatnya kota Alexandria kuno berada.

Puing-puing peninggalan Romawi masih ada di sana. Misalnya dapat di lihat

bekasnya di Graeco-Roman Museum dan Achaeological and Roman

Amphitheatre. Kami juga belanja di sana, tak lupa kami membeli dua jaket untuk

Hosam dan Magdi, dua penjaga keamanan apartemen kami. Sekadar sebagai

hadiah dan pengikat jiwa.

Terakhir kami berziarah ke makam Luqman Al Hakim yang namanya

disebut dalam Al-Qur’an dan dijadikan nama surat ketiga puluh satu. Makam

Luqman berdampingan dengan makam Nabi Daniyal. Berada di goa bawah tanah

masjid Nabi Daniyal, tak jauh dari terminal utama Alexandria. Selama menatap

makam Luqman air mataku meleleh teringat nasihat Luqman pada anaknya:

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya

mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji

sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah

akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi

Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang

baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah

terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk

hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).107I

Luqman seperti masih hidup dan menasihati diriku dengan suaranya yang

penuh wibawa dan mengetarkan jiwa. Jika aku punya anak kelak, aku ingin

107 Surat Luqman: 13,16, dan 17.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

226

mendidiknya seperti Luqman mendidik anaknya. Aku ingin menasihatinya seperti

Luqman menasihati anaknya. Aku ingin bersikap bijaksana padanya seperti

Luqman bersikap bijaksana pada anaknya. Ya Tuhan, kabulkan.

~ oleh starhome di/pada Mei 16, 2008.

Tinggalkan Balasan