Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Dalam Penjara Bawah Tanah)
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
231
23. Dalam Penjara Bawah Tanah
Aku dibawa ke markas polisi Abbasea. Diseret seperti anjing kurap. Lalu
diinterogasi habis-habisan, dibentak-bentak, dimaki-maki dan disumpahserapahi
dengan kata-kata kotor. Dianggap tak ubahnya makhluk najis yang menjijikkan.
Tuduhan yang dialamatkan kepadaku sangat menyakitkan: memperkosa seorang
gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan.
“Orang Indonesia kau sungguh anak haram. Saat mengandung dirimu,
ibumu makan apa heh? Makan bangkai anjing ya? Kau pura-pura menolong gadis
malang itu ternyata kau menerkamnya. Kau berani menginjak-injak kehormatan
perempuan kami. Kau ini mahasiswa Al Azhar, katanya belajar agama, ternyata
manusia bejat berwatak serigala!” Seorang polisi hitam besar membentakku lalu
menampar mukaku dengan seluruh kekuatan tangannya. Kurasakan darah
mengalir dari hidungku.
“Akui saja, kau yang memperkosa gadis bernama Noura yang jadi
tetanggamu di Hadayek Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8
Agustus yang lalu? Akui saja, atau kami paksa kau untuk mengaku! Jika kau
mengakuinya maka urusannya akan cepat.”
Kata-kata polisi itu membuatku kaget bukan main. Noura hamil dan aku
yang dituduh memperkosanya. Sungguh celaka!
Dengan tetap berusaha berkepala dingin aku mencoba menjelaskan kepada
mereka itu adalah sebuah tuduhan keji. Lalu kujelaskan semua kronologis
kejadian malam itu. Sejak mendengar jeritan Noura disiksa ayah dan kakaknya
sampai paginya dititipkan ke rumah Nurul. Tapi penjelasanku dianggap seolah
suara keledai. Mereka malah tertawa. Dan menjadikan aku bulan-bulanan oleh
hinaan, makian dan tamparan yang membuat bibirku pecah.
“Kami memiliki bukti kuat kaulah pemerkosa gadis malang itu. Dia sangat
menyesal mengikuti bujuk rayumu. Dia telah menceritakan semuanya. Dan dia
juga punya saksi kau melakukan perbuatan terkutuk yang merusak masa depannya
itu. Kau sudah tahu bahwa hukuman pemerkosa di negara ini adalah hukuman
gantung. Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Mengakui perbuatanmu itu,
dan kau mungkin akan mendapat keringanan atas kerja samamu. Sehingga kau
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
232
mungkin tidak akan dihukum gantung. Atau kau tetap bersikeras mengingkarinya
dan terpaksa nanti pengadilan akan menggantungmu. Pilih mana?” Polisi hitam
besar kembali menggertak. Hatiku sempat ciut. Aku teringat ulama-ulama yang
mengalami nasib tragis di tangan para algojo negara ini. Apa pun jalannya,
kematian itu satu yaitu mati. Allah sudah menentukan ajal seseorang. Tak akan
dimajukan dan dimundurkan. Maka tak ada gunanya bersikap lemah dan takut
menghadapi kematian. Dan aku tidak mau mati dalam keadaan mengakui
perbuatan biadab yang memang tidak pernah aku lakukan.
“Kapten, aku memilih membuktikan di pengadilan bahwa aku tidak
bersalah. Aku yakin negara ini punya undang-undang dan hukum. Aku minta
disediakan pengacara!”
“Tindakan bodoh! Di pengadilan kau akan kalah! Kau akan dihukum
gantung! Lebih dari itu kau akan masuk surat kabar! Kau akan diteriaki orangorang
sebagai pemerkosa! Kenapa kau tidak memilih mengakuinya dan kita tutup
kasus ini diam-diam. Kita buat kesepakatan-kesepakatan dengan keluarga Noura
sekarang. Kalau mereka memaafkan kau mungkin akan bernasib lebih baik.Kami
masih sedikit berbelas kasihan padamu karena kau orang asing. Kalau kau orang
Mesir sudah kami binasakan!” bentak polisi hitam dengan mata melotot.
“Aku bukan pelaku pemerkosaan itu Kapten! Aku akan buktikan bahwa
aku tidak bersalah!” tegasku.
“Baiklah aku akan memberimu waktu berpikir dua hari. Jika kau tetap
bersikeras tidak mau mengaku dan mengambil jalan kompromi maka terpaksa kau
kami seret ke meja hijau dan jangan salahkan kami jika nasibmu berakhir di tiang
gantungan dan namamu dilaknat semua orang!”
“Yang berhak melaknat hanya Allah. Dan hanya Allahlah yang tahu
segalanya. Aku tidak akan takut dengan caci maki manusia selama aku merasa
berada di jalan yang benar!”
“Hahaha…kau ini sok pintar! Jalan benar apa? Apa memperkosa itu jalan
yang benar? Kau ini sudah selesai S.1. di Al Azhar. Gadis-gadis Indonesia saja
banyak kenapa ketika itu kau tidak memilih menikah dengan salah satu dari
mereka. Kenapa kau malah memilih memperkosa gadis malang itu dengan purapura
mau menolong? Dan itu kau anggap jalan yang benar? Dasar anak anjing!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
233
Dasar anak pelacur!” Polisi hitam itu mengumpat-umpat kasar. Entah kenapa
mendengar kalimat umpatan terakhir darahku mendidih.
“Kau yang anak anjing! Wajahmu hitam penuh dosa! Kau yang anak
pelacur! Yakhrab baitak!” balasku mengumpat dengan sama kasarnya. Wajah
polisi itu semakin gosong. Giginya gemerutuk seperti monster mau menelanku. Ia
pun melayangkan tangan kanannya ke mukaku.
“Bawa dia ke penjara dan cambuk sepuluh kali atas penghinaannya
padaku!” Perintahnya pada tiga anak buahnya yang tadi menangkapku. Tiga polisi
itu lalu menggelandangku ke penjara. Inilah untuk pertama kalinya aku masuk
penjara. Kami melewati sel-sel yang berisi tahanan yang semuanya orang Mesir.
Mereka semua terheran-heran melihat kehadiranku. Tiga polisi itu terus
menggelandangku hingga sampai disebuah ruangan kosong. Ada sebuah kursi
kayu kusam dan didindingnya tergantung beberapa alat penyiksa. Cambuk.
Pentungan dari karet. Ganco. Tali. Dan lain sebagainya.
Polisi gendut melepas pakaianku. Lalu menyuruhku berdiri menghadap
tembok. Setelah itu aku merasakan sabetan cambuk yang perih di punggungku.
Tidak sepuluh kali tapi lima belas kali. Aku merasakan sakit luar biasa. Mereka
lalu melepas borgolku dan menyeretku ke sebuah ruangan, melucuti semua
pakaianku kecuali pakaian dalam. Juga sepatuku. Dalam keadaan hanya memakai
celana dalam mereka menggunduliku. Lalu melempar seragam tahanan ke arahku.
Cepat-cepat aku menutup aurat. Si Kumis menyuruh aku berdiri tegap dengan
tangan diletakkan dibelakang punggung. Si Hitam memegang kedua tanganku
yang kulipat dibelakang punggung kuat-kuat. Sementara Si Gendut mengikat
kedua kakiku. Lalu dengan sangat kurang ajar Si Kumis mempermainkan
kemaluanku. Aku menjerit-jerit dan meronta-ronta. Meludahi Si Kumis. Tapi
mereka terus saja terbahak-bahak seperti setan. “Ini yang digunakan untuk
memperkosa itu oh..oh..oh! Burung kakak tua..hehehe..kecil sekali tak ada apaapanya
dengan milikku…hehehe..tapi berani kurang ajar ya hehehe..hahaha!”
Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Aku merasakan
penghinaan yang luar biasa. Aku belum pernah merasakan diriku dihina dan
kehormatanku dinistakan senista itu. Aku lebih suka dirajam daripada dihina
seperti itu. Jika aku sampai terlihat mengucurkan air mata, maka ketiga setan itu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
234
akan semakin gila tertawanya. Aku merintih dalam hati. Batinku menangis sejadijadinya
memohon keadilan kepada Allah. Agar mereka diganjar atas
kekurangajaran mereka. Aku terus menjadi bulan-bulanan mereka sampai aku
tidak sadarkan diri.
* * *
Ketika sadar, aku berada di sebuah kamar gelap dan pengap.
“Alhamdulillah, kau sudah sadar.” Suara orang yang kurasa sangat tua. Di
keremangan cahaya buram lampu di luar kamar yang masuk melalui jeruji pintu
sel aku bisa menangkap wajah orang tua berjenggot putih duduk di dekatku.lalu
empat orang lainnya. Dua setengah baya dan dua lainnya muda. Mereka semua
memakai pakaian tahanan yang lusuh.
“Kelihatannya kau bukan orang Mesir?” tanya kakek tua ramah. Aku
sedikit tenang mendengar suaranya yang lembut. Tapi aku kuatir dengan yang
empat, kalau mereka orang-orang yang jahat aku bisa jadi bulan-bulanan di
penjara ini. Aku pernah mendengar adanya hukum rimba di dalam penjara.
Apalagi aku asing sendiri di sini.
“Dari Indonesia.”
“Siapa namamu?”
“Fahri Abdullah Shiddiq.”
“Nama yang bagus. Namaku Abdur Rauf.”
“Apa yang kau lakukan di Mesir?”
“Hanya belajar.”
“Di mana?”
“Di Al Azhar.”
“Masya Allah. Lantas bagaimana ceritanya kau bisa masuk penjara ini?”
“Musibah ini datang begitu saja. Aku dituduh memperkosa gadis Mesir,
padahal aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Bagaimana mungkin aku
akan melakukannya padahal aku memiliki seorang ibu, bibi, isteri dan nanti
mungkin seorang anak perempuan. Aku terkadang tidak bisa memahami sistem
yang berlaku di negara ini?”
“Di mana kau ditangkap?”
“Di rumah.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
235
“Nasibmu masih lebih bagus dariku Anak muda. Aku ditangkap disaat
sedang menguji tesis magister di universitas. Di depan sekian banyak orang aku
diperlakukan seperti tikus.”
“Jadi Anda seorang guru besar?”
Pemuda berwajah putih yang sejak tadi mematung di pojok ruangan
menyahut sambil mendekat, “Beliau adalah Prof. Dr. Abdur Rauf Manshour,
guru besar ekonomi pembangunan di Universitas El-Menya. Beliau kemungkinan
ditangkap karena kritik-kritik tajamnya di koran! Oh ya perkenalkan namaku
Ismail, mahasiswa kedokteran tahun ketiga Universitas Ains Syam, ditangkap
karena memimpin demonstrasi di dalam kampus mengutuk tindakan Ariel Sharon
menginjak-injak Masjidil Aqsha dan perlakuan kejam tentara Israel pada anakanak
Palestina terutama penembakan Muhammad Al Dorrah dua tahun lalu.”
“Jadi kau sudah dua tahun mendekam di sini?”
“Ya.”
“Dan hanya karena memimpin demonstrasi di dalam kampus?”
“Ya.”
“Aku lebih tragis lagi!” Pemuda yang satunya menyahut, “aku tidak
melakukan apa-apa juga ditangkap. Kau tentu tahu demonstrasi di masjid Al
Azhar usai shalat Jum’at satu tahun yang lalu yang menentang agresi Amerika ke
Afganistan. Demonstrasi itu tidak besar. Bisa dikatakan bukan demonstrasi malah.
Lebih tepat dikatakan protes. Ketika orang-orang bertakbir aku ikut bertakbir.
Hanya itu. Keluar masjid aku ditangkap dan mendekam di sini sampai sekarang.
Kenalkan namaku Ahmad biasa dipanggil Hamada. Aku tidak kuliah, lulus SLTA
langsung bekerja di penerbit Muassasa Resala.”
“Muassasa Resala di dekat Abidin Attaba itu?” tanyaku.
“Benar.”
Kami lalu berbincang banyak dan saling mengenal satu sama lain. Dua
lelaki setengah baya bernama Haj Rashed, dia kepala sekolah SD dan imam
sebuah masjid kecil di Mathariyah. Ditangkap dua bulan lalu karena khutbah
Jum’atnya yang pedas. Yang satunya bernama Marwan, mantan pegawai jawatan
kereta api, dipenjara sejak setengah tahun lalu karena membunuh tetangganya
yang menggoda isterinya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
236
“Aku ini orang paling besar cemburunya di dunia. Sebenarnya aku sudah
bersabar dan beberapa memberi peringatan pada pria kurang ajar itu. Tapi dia
sungguh keterlaluan. Rumah kami dua tingkat di atasnya. Suatu ketika isteriku
belanja, ketika pulang satu lift dengannya. Di dalam lift itulah dia menggerayangi
isteriku. Isteriku lapor padaku. Seketika itu juga kudatangi dia dan kupancung dia.
Dia keliru kalau menganggap diriku tidak bisa berbuat sesuatu. Seandainya
dengan perbuatanku ini aku akan dihukum mati aku akan menerimanya dengan
senang hati. Aku merasa puas karena aku telah membela kehormatan isteriku.”
Cerita Marwan langsung mengingatkan diriku pada Aisha. Oh Aisha, dia
tentu sangat sedih sekarang. Dia sendirian di flat memikirkan nasibku dengan
penuh kecemasan. Aku menitikkan air mata dan berdoa kepada Allah agar
memberikan ketabahan pada Aisha dan agar melindunginya dari segala mara
bahaya.
“Orang Indonesia, siapkanlah mentalmu! Kau akan menghadapi hari-hari
yang mencekam. Hari-hari yang tidak kau ketahui apakah kau masih hidup atau
telah mati. Kamar kita ini hanya berukuran tiga kali tiga. Kau lihat aku berdiri di
atas genangan Air. Padahal sekarang sudah mulai masuk musim dingin. Setengah
ruangan ini tergenang air. Kau kini duduk dibagian yang kering. Selama ini kita
tidur bergantian. Terkadang tidur sambil berdiri. Kita diberi kesempatan ke WC
dan kamar mandi sehari sekali menjelang shubuh. Itupun dalam antrean yang
panjang dan terkadang kita sama sekali tidak punya kesempatan ke WC karena
waktu yang diberikan telah habis. Siapkanlah mentalmu!” kata Professor Abdul
Rauf.
“Gelap dan pengap. Apakah kita berada di bawah tanah?” tanyaku.
“Benar! Oh ya, tadi kau pingsan cukup lama. Kelihatannya kau belum
shalat ashar,” jawab Professor Abdul Rauf.
“Astaghfirullah. Pukul berapa sekarang?” tanyaku.
“Pastinya tidak tahu, tapi sebentar lagi maghrib datang.”
“Tayammum?”
“Ya.”
Aku lalu tayammum dan shalat. Selesai shalat Professor Abdul Rauf
memimpin kami membaca doa dan dzikir sore hari. Ditutup doa rabithah yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
237
dibaca oleh Haj Rashed. Tak lama setelah itu azan maghrib berkumandang. Adil
bergumam lirih,
“Ya Allah, inilah saat malam-Mu datang menjelang, dan siang-Mu telah
berlalu, dan inilah suara dari para penyeru-Mu maka ampunilah kami.”
Karena tempat yang sempit kami tidak bisa berjamaah sekaligus. Terpaksa
dibagi dua jamaah bergantian. Aku diminta menjadi imam jamaah kedua, dengan
alasan aku satu-satunya yang dari Al Azhar. Aku membaca surat Yusuf, ayat-ayat
yang menceritakan nabi mulia itu dipenjara di Mesir karena tuduhan Zulaikha.
Sungguh nasibku tak jauh berbeda dengan Yusuf. Noura mengaku aku telah
memperkosanya. Aku menangis dalam shalat.
“Bacaan Al-Qur’anmu indah dan tartil, di mana kau talaqqi?” tanya Haj
Rashed
“Di Shubra. Pada Syaikh Ustman Abdul Fattah.”
“Yang di masjid Abu Bakar itu?”
“Benar.”
“Pantas. Besok malam sudah mulai tarawih. Kau saja imamnya ya?”
Pertanyaannya kembali mengigatkan aku pada Aisha. Dia akan menjalani
Ramadhan sendirian dengan hati sedih. Rencana umrah ke tanah suci dan berhari
raya di Indonesia tidak jadi. Oh begitu cepat perubahan terjadi. Kemarin malam
aku masih tidur nyaman di hotel berbintang di Alexandria bercinta dengan Aisha
begitu mesranya. Malam ini aku meringkuk kedinginan di penjara bawah tanah.
Aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Seluruh tulang terasa ngilu, kulit
kedinginan, punggung perih bukan main, dan kemaluan sakit luar biasa. Bayangbayang
kematian mengintai di semua sudut ruangan, tapi aku bersikeras untuk
bertahan.
Keesokan harinya terdengar langkah sepatu bot. Lalu suara orang
membentak sambil menggedor pintu sel, “Tahanan nomor 879!”
Tak ada yang menjawab. Semua diam. Ismail dan Haj Rashed
berpandangan.
“Hai tahanan 879! Anjing! Dungu ya?” Sipir penjara itu marah sekali.
Ismail menepuk pundakku. “Coba lihat nomormu!” Pelannya. Ia lalu
mendekatkan matanya ke dadaku. Dalam keremangan gelap tertulis di sana nomor
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
238
879. Berarti aku yang dimaksud. Aku lalu beranjak menuju pintu yang telah
dibuka. Sipir itu langsung menarikku dengan kasar dan menendangku, “Dungu
kau!”
Aku kembali dibawa ke ruang interogasi. Polisi hitam besar yang kemarin
mengintrogasiku telah menunggu dengan segelas teh kental di tangan kanannya.
Begitu aku masuk ia tersenyum sinis. Dua orang polisi yang kemarin
menangkapku juga ada di situ. Si Hitam dan Si Gendut. Aku tidak melihat Si
Kumis yang kurang ajar itu.
“Bagaimana orang Indonesia? Kau mau mengakui perbuatanmu? Aku
berjanji akan mengusahakan keringanan hukumannya?” tanyanya.
“Aku tidak berubah pikiran. Aku tidak melakukan perbuatan dosa itu.
Bagaimana mungkin aku akan mengakuinya. Aku akan buktikan bahwa aku tidak
bersalah!” jawabku tegas.
“Semua penjahat selalu berkata begitu. Kau sungguh bodoh! Jika kau
sampai ke meja hijau kau akan kalah. Bukti kau bersalah sangat kuat! Kau akan
digantung! Kau masih punya kesempatan satu hari untuk berpikir. Sipir beri dia
sedikit sarapan pagi biar pikirannya cerah!”
Dua anak buahnya itu lalu membawaku ke ruangan penyiksaan. Aku
disuruh berdiri tegak. Si hitam mengangkat kursi kayu, dua kaki belakang kursi
itu diletakkan diatas telapak kakiku. Dan Si Polisi Gendut lalu menduduki kursi
itu. Terang saja aku menjerit kesakitan. Telapak kakiku terasa remuk tulangtulangnya.
Dan ketika aku menjerit Si Hitam menjejalkan roti keras ke mulutku
hingga menyodok tenggorokanku. Aku mau muntah tapi raoti kering itu tetap
dijejalkan ke mulutku. Ketika aku sudah tidak tahan dan nyaris pingsan ia
menarik roti itu dan si gendut bangkit dari kursi itu. Aku dibiarkan istirahat
sebentar, lalu disuruh menghadap ke dinding dan dicambuk lima kali. Belum juga
puas, mereka lalu menyodok perutku yang masih kosong dengan popor bedil tiga
kali sampai aku muntah. Rupanya itu yang dimaksud dengan sedikit sarapan pagi.
Dengan tubuh lemas aku diseret dan dilempar kembali di sel bawah tanah. Dan
aku jatuh tertelungkup di dalam sel tak sadarkan diri.

Tinggalkan Balasan