Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 301- 307
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
301
mampu menjadi jembatan baginya menemukan cahaya Tuhan. Dia ingin
menemuimu. Kira-kira pukul setengah sepuluh dia akan sampai di Mahattah
Maadi.”
Aku merasakan keagungan Tuhan di seluruh jiwa. Aku merasa Dia tiada
pernah meninggalkan diriku dalam segala cuaca dan keadaan.
PadaMu
Kutitipkan secuil asa
Kau berikan selaksa bahagia
PadaMu
Kuharapkan setetes embun cinta
Kau limpahkan samudera cinta
Aisha menengok kamar Maria, tak lama ia kembali lagi dan berkata, “Dia
belum juga sadar. Hanya detak jantungnya yang masih terus bekerja dan
hembusan nafasnya yang masih mengalir menunjukkan dia masih hidup. Sungguh
aku tak tega melihat dia terbaring begitu lemah tiada berdaya. Seringkali ada
lelehan air mata di sudut matanya. Entah apa yang dialaminya di alam tak
sadarnya.”
Aisha melihat jam. “Sayang, aku keluar sebentar ya menjemput Alicia.”
“Ya, tapi jangan cerita tentang penjara.” Lirihku. Aisha menganggukkan
kepalanya lalu beranjak keluar.
Seperempat jam kemudian Aisha datang bersama Alicia. Aku nyaris tidak
percaya bahwa sosok yang datang bersamannya adalah Alicia. Sangat kontras
dengan penampilannya waktu pertama kali bertemu di dalam metro dulu. Dulu
pakaiannya ketat mempertontonkan aurat. Sekarang dia memakai jilbab,
pakaiannya sangat anggun dan rapat menutup aurat. Tak jauh berbeda dengan
Aisha.
“Aku datang kemari sengaja untuk menemuimu, Fahri. Untuk
mengucapkan terima kasih tiada terkira padamu. Karena berjumpa denganmulah
aku menemukan kebenaran dan kesejukan yang aku cari-cari selama ini.” Kata
Alicia, mata birunya berbinar bahagia. Alicia lalu mengisahkan pergolakan
batinnya sampai akhirnya masuk Islam dua bulan yang lalu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
302
“Selain itu aku membawa ini.” Alicia membuka tas hitamnya yang agak
besar. Ia mengeluarkan dua buah buku dan menyerahkan padaku. Aku terkejut
membaca tulisan yang ada di sampulnya. Namaku tertulis di sana.
“Jawabanmu tentang masalah perempuan dalam Islam jadi buku itu. Dan
terjemahan Maria jadi yang ini. Semuanya diterbitkan oleh Islamic Centre di New
York. Tiap buku baru dicetak 25 ribu exemplar. Dr. Salman Abdul Adhim
direktur penerbitannya meminta nomor rekeningmu, Maria dan Syaikh Ahmad
untuk tranfer honorariumnya. Kau boleh bangga sekarang dua buku itu sedang
dicetak lagi karena satu bulan diluncurkan langsung habis.” Cerita yang dibawa
Alicia benar-benar menghapus semua duka yang pernah kurasa. Sangat mudah
bagi Tuhan untuk menghapus duka dan kesedihan hamba-Nya.
“Kau tidak ingin menemui Maria?” tanyaku.
“Ingin.”
“Aisha, antarkan Alicia melihat Maria.”
Aisha menggamit tangan Alicia ke kamar sebelah di mana Maria terbaring
lemah. Aku tidak tahu seperti apa reaksi Alicia bertemu Maria dalam keadaan
seperti itu. Sambil berbaring aku memperhatikan dengan seksama dua buku yang
diberikan Alicia itu. Buku pertama, Women in Islam. Sebuah buku kecil. Tebalnya
cuma 65 halaman. Namaku terpampang sebagai pengarangnya. Aku jadi malu
pada diri sendiri, aku hanya menulis ulang dan merapikan pelbagai macam bahan
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar perempuan dalam Islam. Bukan
menulis suatu yang baru. Di dalamnya kulihat editornya dua orang: Alicia Brown
dan Syaikh Ahmad Taqiyuddin. Di halaman terakhir buku itu ada biodataku
secara singkat. Lalu buku kedua berjudul, Why Does the West Fear Islam? ditulis
Prof Dr. Abdul Wadud Shalabi. Aku dan Maria tercantum sebagai penerjemah.
Editornya sama.
Setengah jam kemudian Alicia kembali bersama Aisha.
“Semoga isteri keduamu itu cepat sembuh. Selamat atas pernikahan kalian.
Semoga dirahmati Tuhan. Oh ya aku ada pesan dari Dr. Salman Abdul Adhim,
kau akan diundang untuk memberikan cemarah di beberapa Islamic Centre di
Amerika sekalian mendiskusikan apa yang telah kau tulis. Tiket, surat undangan
dan jadwal kegiatannya ada di hotel, tidak terbawa,” kata Alicia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
303
“Waktunya kapan?” Aisha menanggapi.
“Bulan depan. Selama sepuluh hari.”
“Semoga dia benar-benar sudah sembuh.”
“Semoga.”
Setelah itu Alicia minta diri dan berjanji akan datang lagi keesokan hari
untuk menyerahkan tiket dan semua berkas yang akan digunakan untuk
mempermudah mengurusi visa masuk ke Amerika.
“Begitu banyak perubahan silih berganti yang kita alami,” kata Aisha
setelah Alicia pergi.
* * *
Tengah malam, Aisha membangunkan diriku. Kusibak selimut tebal. Kaca
jendela tampak basah. Musim dingin mulai merambat menuju puncaknya. Aisha
melindungi tubuhnya dengan sweater. Untung penghangat ruangan kamar kelas
satu berfungsi baik. Tapi kaca jendela tetap tampak basah. Berarti di luar sana
udara benar-benar dingin. Mungkin telah mencapai 8 derajat. Aku tidak bisa
membayangkan seperti apa dinginnya kutub utara yang puluhan derajat di bawah
nol. Suasana malam senyap dan beku.
“Fahri, ayo lihatlah Maria, dia mengigau aneh sekali..aku belum pernah
melihat orang mengigau seperti itu.” Kata Aisha pelan.
Aku mengikuti ajakan Aisha untuk melihat keadaan Maria. Tak ada siapasiapa
di kamar Maria saat kami masuk. Kecuali Madame Nadia, yang pulas di
sofa tak jauh dari ranjang Maria. Ibu kandung Maria itu kelihatannya kelelahan.
Kami melangkah pelan mendekati Maria. Dan aku mengenal apa yang diigaukan
oleh Maria. Aku pasang telinga lekat-lekat dan memperhatikan dengan seksama.
Subhanallah, Maha Suci Allah! Yang terucap lirih dari mulut Maria, tak lain dan
tak bukan adalah ayat-ayat suci dalam surat Maryam. Ia memang hafal surat itu.
Aku tak kuat menahan haru.
“Sepertinya yang keluar dari bibirnya itu ayat-ayat suci Al-Qur’an?
Bagaimana bisa terjadi, Fahri?” Heran Aisha.
“Kita dengarkan saja baik-baik. Nanti aku jelaskan padamu. Banyak hal
yang belum kau ketahui tentang Maria.” Jawabku pelan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
304
Kami pun menyimak igauan Maria baik-baik. Mendengarkan apa yang
diucapkan oleh Maria dalam alam tidak sadarnya. Pelan. Urut. Indah dan lancar.
Tak ada yang salah. Meskipun tajwidnya masih belum lurus benar. Maria
melantunkan ayat-ayat yang mengisahkan penderitaan Maryam setelah
melahirkan nabi Isa. Maryam dituduh melakukan perbuatan mungkar. Allah
menurunkan mukjizat-Nya, Isa yang masih bayi bisa berbicara.
Fa atat bihi qaumaha tahmiluh,
qaalu yaa Maryamu laqad ji’ta syaian fariyya.
Ya ukhta Haaruna maa kaana abuuki imra ata sauin
wa maa kaanat ummuki baghiyya.
Fa asyaarat ilaih, qaalu kaifa nukallimu man kaanat fil mahdi shabiyya.
Qaala inni abdullah aataniyal kitaaba wa ja’alani nabiyya.
Wa ja’alani mubaarakan ainama kuntu
wa aushaani bish shalati waz zakaati maa dumtu hayya.
(Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan
menggendongnya. Kaumnya berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah
melakukan sesuatu yang amat mungkar.
Hai saudara perempuan Harun ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang
jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami
akan berbicara pada anak kecil yang masih dalam ayunan?’
Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab
dan dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan
dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat menunaikah zakat selama aku
hidup)115
Seorang malaikat pun jika mendengar apa yang dilantunkan Maria dalam
alam bawah sadarnya itu akan luluh jiwanya, bergetar hatinya, dan meneteskan air
mata. Maria sedang mengeluarkan apa yang bercokol kuat dalam memorinya. Dan
115 QS. Maryam: 27-31.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
305
itu adalah ayat-ayat suci yang menyejukkan. Maria terus melantunkan apa yang
dihafalnya ayat demi ayat. Air mataku menetes setetes demi setetes. Cahaya
keagungan Tuhan berkilat-kilat dalam diri semakin lama semakin benderang.
Bibir Maria terus bergetar. Aku bertanya dalam diri, siapa sebenarnya yang
menggerakkan bibirnya? Dia sedang tak sadar apa-apa. Ia sampai pada akhir surat
Maryam. Namun bibirnya tidak juga berhenti bergetar, terus melanjutkan surat
setelahnya. Surat Thaaha. Subhanallah!
Thaaha.
Maa anzalna ‘alaikal Qur’aana li tasyqa
Illa tadzkiratan liman yakhsya
( Thaaha.
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu
agar kamu jadi susah
Tetapi sebagai tadzkirah
bagi orang yang takut kepada Allah
)116
Aku jadi tidak mengerti sebenarnya berapa surat. Berapa juz yang telah
dihafal Maria. Dulu saat pertama kali dia menyapa di dalam metro dia
mengatakan hanya hafal surat Al Maidah dan Maryam saja. Sekarang dia
membaca surat Thaaha. Aku benar-benar terkesima dibuatnya. Masih banyak
rahasia dalam dirinya yang tidak aku ketahui. Aku jadi tidak tahu pasti keyakinan
dalam hatinya. Dengan air mata terus mengalir di sudut matanya yang terpejam ia
melantunkan ayat-ayat suci itu seperti sedang asyik bernyanyi dalam mimpi.
Malam yang dingin terasa hangat oleh aura getar bibir Maria. Ia mengajak
pendengarnya berada di Mesir pada masa nabi Musa melawan Fir’aun. Ia terus
bernyanyi, seperti bidadari menyanyikan lagu surga.
Innama ilaahukumullah al ladzi laa ilaha illa huwa
wasia kulla syai in ilma
Kadzalika naqushu ‘alaika anbai ma sabaq
wa qad aatainaaka min ladunna dzikra
116 QS. Thaaha: 1-3.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
306
(Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah,
yang tiada tuhan selain Dia, pengetahuannya
meliputi segala sesuatu.
Demikianlah kami kisahkan kepadamu
sebagian kisah umat yang telah lalu,
dan sesungguhnya telah kami berikan kepadamu
dari sisi Kami suatu peringatan
)117
Sampai ayat ini bibir Maria berhenti bergetar. Lelehan air matanya
semakin deras. Namun ia tidak juga membuka mata. Entah apa yang ia rasa. Aku
hanya bisa ikut melelehkan air mata. Berdoa. Dan memegang erat tangannya.
Sesaat lamanya keheningan tercipta. Tiba-tiba bibirnya bergerak dan
mendendangkan zikir dengan nada aneh:
Allah. Allah. Allah.
Aku ingin Allah.
Allah. Allah. Allah.
Aku rindu Allah.
Allah. Allah. Allah.
Aku cinta Allah.
Allah. Allah. Allah
Allah.
Allah.
Allah.
Allah.
Allah.
Allah. Allah. Allah.
CahayaMu Allah.
Allah. Allah. Allah.
SenyumMu Allah.
Allah. Allah. Allah.
BelaianMu Allah.
117 QS. Thaaha: 98-99
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
307
Allah. Allah. Allah.
CiumanMu Allah.
Allah. Allah. Allah.
CintaMu Allah.
Allah.
Surgamu Allah.
Allah.
Surgamu Allah.
Allah.
Surgamu Allah.
Surgamu Allah.
Surgamu Allah.
Surgamu Allah.
Allah. Allah.Allah.
Allah.
Allah.
Allah.
Semakin lama volume suaranya semakin mengecil. Lalu hilang. Hatiku
berdesir ketika melihat bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Perlahan ia
mengerjap. Allah. Allah. Allah. Sembari bibirnya berzikir matanya tampak mulai
terbuka perlahan. Dan akhirnya benar-benar terbuka. Subhanallah!
“Maria!” sapaku pelan.
“Fa..Fahri?” suaranya sangat lirih nyaris tiada terdengar.
“Ya. Apa yang kau rasakan sekarang, Sayang? Apanya yang sakit?”
“Tolonglah aku? Aku sedih sekali.”
“Kenapa sedih?”
“Aku sedih tak diizinkan masuk surga!”
Jawaban Maria membuat aku dan Aisha kaget bukan main. Dari mana dia
tiba-tiba dapat kekuatan untuk berkata sejelas itu? Apakah dia akan mati?
Tanyaku dalam hati. Dan cepat-cepat aku membuang pertanyaan tidak baik itu.
Tapi kenapa dia berulang-ulang menyebut-nyebut surga.

Tinggalkan Balasan