Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 290 – 300

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

290

melakukan apa saja untuk ayah dari anaknya. Menikahlah dengan Maria. Dan kau

akan menyelamatkan banyak orang. Kau menyelamatkan Maria. Menyelamatkan

anak kita. Menyelamatkan diriku dari status janda yang terus membayang di

depan mata dan menyelamatkan nama baikmu sendiri.”

“Aku mencintai kalian semua. Tapi aku lebih mencintai Allah dan Rasul-

Nya. Budak hitam yang muslimah lebih baik dari yang bukan muslimah. Aku tak

mungkin melakukannya isteriku.”

“Aku yakin Maria seorang muslimah.”

“Bagaimana kau bisa yakin begitu?”

“Dengan sekilas membaca diarynya. Jika dia bukan seorang muslimah dia

tidak akan mencintaimu sedemikian kuatnya. Kalau pun belum menjadi muslimah

secara lesan dan perbuatan, aku yakin fitrahnya dia itu muslimah.”

“Aku tidak bisa berspekulasi isteriku. Aku tidak bisa melakukannya.

Dalam interaksi sosial kita bisa toleran pada siapa saja, berbuat baik kepada siapa

saja. Tapi untuk masalah keyakinan aku tidak bisa main-main. Aku tidak bisa

menikah kecuali dengan perempuan yang bersaksi dan meyakini tiada Tuhan

selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kalau untuk bertetangga,

berteman, bermasyarakat aku bisa dengan siapa saja. Untuk berkeluarga tidak bisa

Aisha. Tidak bisa!”

“Suamiku aku sependapat denganmu. Sekarang menikahlah dengannya.

Anggaplah ini ijtihad dakwah dalam posisi yang sangat sulit ini. Nanti kita akan

berusaha bersama untuk membawa Maria ke pintu hidayah. Jika tidak bisa,

semoga Allah masih memberikan satu pahala atas usaha kita. Tapi aku sangat

yakin dia telah menjadi seorang muslimah. Jika tidak bagaimana mungkin dia

mau menerjemahkan buku yang membela Islam yang kau berikan pada Alicia itu.

Itu firasatku. Kumohon menikahlah dan selamatkan Maria. Bukankah dalam Al-

Qur’an disebutkan, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang

manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia

seluruhnya.?”

Aku diam tidak bisa bicara apa-apa. Aku tidak pernah membayangkan

akan menghadapi suasana psikologis yang cukup berat seperti ini. Aisha

mengambil cincin mahar yang aku berikan di jari manis tangan kanannya.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

291

“Ini jadikan mahar untuk Maria. Waktunya sangat mendesak. Sebelum

maghrib kau harus sampai di penjara. Jadi kau harus segera menikah dan

melakukan semua petunjuk dokter untuk menyadarkan Maria.” Kata-kata Maria

begitu tegas tanpa ada keraguan, setegas perempuan-perempuan Palestina ketika

menyuruh suaminya berangkat ke medan jihad. Dengan sedikit ragu aku

mengambil cincin itu. Aku tak bisa menahan isak tangisku. Aisha memelukku,

kami bertangisan.

“Suamiku kau jangan ragu! Kau sama sekali tidak melakukan dosa.

Yakinlah bahwa kau akan melakukan amal shaleh,” bisik Aisha.

Setelah itu aku menemui Madame Nahed dan Tuan Boutros. Mereka

berdua menyambut kesediaanku dengan bahagia. Proses akad nikah dilaksanakan

dalam waktu yang sangat cepat, sederhana, sesuai dengan permintaanku. Seorang

ma’dzun syar’i mewakili Tuan Boutros menikahkan diriku dengan Maria dengan

mahar sebuah cincin emas. Saksinya adalah dua dokter muslim yang ada di rumah

sakit itu.

Setelah itu dokter setengah baya memberikan petunjuk apa yang harus aku

lakukan untuk membantu Maria sadar dari komanya. Aku minta hanya aku dan

Maria yang ada di ruang itu. Aku wudhu dan shalat dua rakaat lalu berdoa di

ubun-ubun kepala Maria seperti yang aku lakukan pada Aisha. Aku hampir tidak

percaya bahwa gadis Mesir yang dulu lincah, ceria dan kini terbaring lemah tiada

berdaya ini adalah isteriku. Segenap perasaan kucurahkan untuk mencintainya.

Aku membisikkan ke telinganya ungkapan-ungkapan rasa cinta dan rasa sayang

yang mendalam. Aku lalu menciuminya seperti dia menciumiku waktu aku sakit.

Tapi dia tetap diam saja. Aku lalu menangis melihat usahaku sepertinya sia-sia.

Aku ingin melakukan lebih dari itu tapi tidak mungkin. Aku hanya bisa terisak

sambil memanggil-manggil nama Maria.

Tiba-tiba aku melihat sujud mata Maria melelehkan air mata. Aku yakin

Maria mulai mendengar apa yang aku katakan. Aku kembali menciumi tangannya.

Lalu mencium keningnya. “Maria, bangunlah Maria. Jika kau mati maka aku juga

akan ikut mati. Bangunlah kekasihku! Aku sangat mencintaimu!” kuucapkan

dengan pelan di telinganya dengan penuh perasaan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

292

Kepalanya menggeliat, dan perlahan-lahan ia mengerjapkan kedua

matanya. Aku memegang kedua tanganya sambil kubasahi dengan air mataku.

“F..f..Fahri..?”

“Ya, aku di sisimu Maria.”

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Maria bisa bicara meskipun

dengan suara yang lemah,

“Aku mendengar kau berkata bahwa kau mencintaiku, benarkah?”

“Benar. Aku sangat mencintaimu,Maria?”

“Kenapa kau pegang tanganku. Bukankah itu tidak boleh?”

“Boleh! Karena kau sudah jadi isteriku.”

“Apa?”

“Kau sudah jadi isteriku, jadi aku boleh memegang tanganmu?”

“Siapa yang menikahkan kita?”

“Ayahmu. Apa kau tidak mau jadi isteriku?”

Mata Maria berkaca-kaca, “Itu impianku. Aku merasa kita tidak akan bisa

menikah setelah kau menikah dengan Aisha. Terus bagaimana dengan Aisha?”

“Dia yang mendorongku untuk menikahimu. Ini cincin yang ada di

tanganmu adalah pemberian Aisha. Anggaplah dia sebagai kakakmu.”

“Aku tak menyangka Aisha akan semulia itu.”

“Fahri, aku mau minta maaf. Saat kau sakit dulu aku pernah men…”

“Aku sudah tahu semuanya. Tadi saat kau belum bangun aku sudah

membalasnya.”

Maria tersenyum. “Aku ingin kau mengulanginya lagi. Aku ingin

merasakannya dalam keadaan sadar.” Pinta Maria dengan sorot mata berbinar.

Aku memenuhi permintaannya. Seketika wajahnya kelihatan lebih bercahaya dan

segar.

“Maria.”

“Ya.”

“Berjanjilah kau akan mengembalikan semangat hidupmu.”

“Setelah aku menemukan kembali cintaku maka dengan sendirinya aku

menemukan kembali semangat hidupku. Saat ini, aku merasakan kebahagiaan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

293

yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa menjadi wanita paling

berbahagia di dunia setelah sebelumnya merasa menjadi wanita paling sengsara.”

Aku melihat jam dinding. Satu jam lagi aku harus sampai di penjara.

Dengan mata berkaca aku berkata, “Maria, aku keluar sebentar memberitahukan

keadaanmu pada dokter, ayah ibumu dan Aisha.”

Maria mengangguk. Madame Nahed dan Tuan Boutros sangat berbahagia

mendengar sadarnya Maria. Serta merta mereka berdua melangkah masuk diiringi

dokter setengah baya. Kulihat Aisha duduk sendirian di bangku. Aku

mendekatinya dan duduk di sampingnya. Aisha diam saja. Matanya basah.

“Kau menangis Aisha?”

Aisha diam seribu bahasa seolah tidak mendengar pertanyaanku.

“Kau menyesal dengan keputusanmu?”

Dia menggelengkan kepala.

“Kenapa kau menangis? Kau cemburu?”

Aisha mengangguk. Aku memeluknya, “Maafkan aku Aisha, semestinya

kau tidak menikah denganku sehingga kau menderita seperti ini.”

“Kau jangan berkata begitu Fahri. Menikah denganmu adalah

kebahagianku yang tiada duanya. Kau tidak bersalah apa-apa Fahri. Tak ada yang

salah denganmu. Kau sudah berusaha melakukan hal yang menurutmu baik. Rasa

cemburu itu wajar. Meskipun aku yang memaksamu menikahi Maria. Tapi rasa

cemburuku ketika kau berada dalam kamar dengannya itu datang begitu saja.

Inilah cinta. Tanpa rasa cemburu cinta tiada.”

“Aku takut sebenarnya aku tidak pantas dicintai siapa-siapa.”

“Tidak Fahri. Kalau seluruh dunia ini membencimu aku tetap akan setia

mencintaimu.”

“Terima kasih atas segala ketulusanmu Aisha. Aku akan berusaha

membalas cintamu dengan sebaik-baiknya. Aisha, sebentar lagi aku harus kembali

ke penjara. Aku belum menjelaskan keadaanku pada Maria. Kaulah nanti yang

pelan-pelan menjelaskan padanya semuanya. Kau jangan ragu, Maria sangat

menghormatimu.”

Aku lalu masuk ke kamar menemui Tuan Boutros dan Madame Nadia.

Aku mengingatkan keduanya waktuku telah habis. Mata Madame Nadia

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

294

menatapku dengan berkaca-kaca. Aku pamitan padanya dan mencium tangannya.

Dia kini jadi ibuku. Maria kelihatannya heran dengan yang ia lihat. Tuan Boutros

menjelaskan pada Maria bahwa diriku ada urusan penting sekali. Aku menatap

wajah Maria dalam-dalam. Dia menantapku penuh sayang. Air mataku hendak

keluar tapi kutahan sekuat tenaga.

“Tersenyumlah dulu sebelum pergi, Sayang.” lirih Maria. Aku tersenyum

sebisanya. Maria tersenyum manis sekali. Aku jadi teringat Aisha. Dua wanita itu

memiliki senyum yang sama manisnya.

“Nanti Aisha akan menungguimu dan banyak bercerita denganmu. Kau

jangan terkejut jika ada hal-hal yang akan membuatmu terkejut. Aku pergi dulu.

Jangan pernah kau lupakan sedetik pun Maria, bahwa aku sangat mencintaimu.

Cintaku kepadamu seperti cintanya seorang penyembah kepada sesembahannya.”

Aku mengambil kata-kata yang ditulis Maria dalam agendanya. Maria

sangat senang mendengarnya. Seorang isteri sangat suka dihadiahi kata-kata indah

tanda cinta dan kasih sayang.

“Terima kasih Fahri, kau sungguh romantis dan menyenangkan.”

Aku melangkah keluar bersama Tuan Boutros untuk kembali ke penjara.

Di luar aku memeluk Aisha erat-erat. Sesaat lamanya aku terisak dalam

pelukannya. “Aisha, temani Maria dan ceritakan semua yang sedang aku alami

dengan bijaksana padanya. Aku yakin kau mampu melaksanakannya. Semoga saat

sidang nanti dia bisa memberikan kesaksiannya.”

Insya Allah, aku akan melakukan tugasku dengan baik Suamiku. Jangan

lupa nanti malam shalat tahajjud. Berdoalah kepada Allah untuk dirimu, diriku,

anak kita, dan Maria. Di sepertiga malam Allah turun untuk mendengarkan doa

hamba-hamba-Nya,” pesan Aisha.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

295

28. Sidang Penentuan

Sidang penentuan itu pun datang. Amru dan Magdi datang dengan wajah

tenang. Syaikh Ahmad dan isterinya juga datang. Orang-orang Indonesia di Mesir

banyak yang datang. Namun Maria, dan Aisha belum juga datang. Sudah dua

puluh menit menunggu mereka belum juga kelihatan. Noura dan keluarganya

beberapa kali memandangku dengan pandangan yang merendahkan. Apapun yang

akan terjadi aku pasrah kepada Tuhan.

Akhirnya hakim memulai sidang. Sambil menunggu Maria datang, Amru

mengajukan Syaikh Ahmad dan isterinya sebagai saksi. Mereka berdua tampil

bergantian memberikan kesaksian. Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menangis

saat memberikan kesaksiannya. Ia merasa sangat sakit hatinya atas apa yang

dilakukan Noura. Sambil terisak dan sesekali menyeka matanya Ummu Aiman

berkata, “Entah dengan siapa Noura melakukan perzinahan. Tapi jelas bukan

dengan Fahri. Apa yang dikatakan Noura bahwa Fahri memperkosanya adalah

fitnah yang sangat keji. Noura sungguh gadis yang tidak tahu diri. Ia telah

ditolong tapi memfitnah orang yang dengan tulus hati menolongnya. Aku hanya

bisa bersaksi bahwa selama Noura di Tafahna ia menceritakan kejadian malam itu

dan tidak pernah menyebut bersama Fahri dari jam tiga sampai azan pertama. Ia

bercerita malam itu ia bersama Maria sampai pagi. Jika pengadilan ini akhirnya

memenangkan seorang pemfitnah maka kelak di hari kemudian seorang pemfitnah

akan dibinasakan oleh keadilan Tuhan.”

Kulihat reaksi Noura. Dia hanya menundukkan kepala. Sementara ayah

dan ibunya menatap Ummu Aiman tanpa kedip dengan tatapan garang dan

kebencian. Jaksa penuntut mencerca Ummu Aiman dengan beberapa pertanyaan

dan Ummu Aiman menjawabnya dengan tenang. Beberapa kali ia menjawab,

‘Tidak tahu!’

Ketika Ummu Aiman turun dari memberikan kesaksian, Maria datang. Ia

duduk di atas kursi roda didorong oleh adiknya Yousef. Di iringi Aisha, Tuan

Boutros, Madame Nahed, Paman Egbal, Bibi Sarah, dan seorang polisi berdasi

yang gagah. Melihat Maria datang serta merta Syaikh Ahmad bertakbir diikuti

oleh gemuruh takbir orang-orang Indonesia. Polisi berdasi langsung mendekati

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

296

Syaikh Ahmad berbincang sebentar lalu mendekati Amru. Dia tampak

menyerahkan beberapa berkas. Amru melihat berkas itu sebentar lalu tersenyum

padaku. Amru meminta kepada hakim untuk mendengarkan kesaksian Maria.

Saksi kunci dalam kasus ini. Sebab dialah yang mengerti dengan pasti apa yang

dilakukan Noura malam itu. Benarkah Noura berada di kamarku antara jam tiga

sampai azan pertama ataukah justru Noura bersama Maria. Hakim mempersilakan

Maria berbicara setelah disumpah akan memberikan kesaksian yang sejujurjujurnya.

Maria pun berbicara dengan suara agak lemah. Wajahnya tampak

memerah karena emosi. Ia berusaha menahan emosinya. Mikrofon yang

dipegangnya cukup membantu memperjelas suaranya.

“Pak Hakim dan seluruh yang hadir dalam sidang ini, saya berani bersaksi

atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa Noura malam itu, sejak pukul

dua malam sampai pagi berada di kamarku. Ia sama sekali tidak keluar dari

kamarku. Ia selalu bersamaku. Jika dia mengatakan pukul tiga aku mengantarnya

turun ke rumah Fahri itu bohong belaka. Dalam rentang waktu itu dia sama sekali

tidak keluar dari rumahku. Jika Noura mengatakan pemerkosaan atas dirinya

terjadi dalam rentang waktu itu sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin

ada pemerkosaan waktu itu padahal dia berada di kamarku. Dan Fahri berada di

kamarnya. Untuk membuktikan omongan saya ini, saya punya bukti nyata.

Begini, kira-kira pukul tiga lebih sepuluh menit Maria menelpon ke salah satu

temannya dengan telpon rumahku. Dia menelpon teman satu kelasnya bernama

Khadija yang tinggal di Wadi Hof. Dia berbicara kira-kira sepuluh menit. Dan

kami bawa bukti tercatat dari kantor telkom adanya percakapan itu. Bahkan

rekaman pembicaraan Noura dengan Khadija juga ada. Kebetulan Khadija juga

datang bersama kami. Dia bisa menjadi saksi. Dengan bukti kuat ini, aku berharap

Bapak Hakim bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Apa yang

dikatakan Noura adalah fitnah belaka. Dia harus mendapatkan ganjaran atas

tuduhan kejinya. Entah setan apa yang membuat Noura yang dulu jujur dan baik

hati kini berubah menjadi tukang fitnah yang tidak memiliki nurani. Dia

menyerahkan kegadisannya pada orang lain lalu menuduh Fahri yang

melakukannya. Aku sangat menyesal menolong perempuan berhati busuk seperti

dia. Demi Allah Yang Maha Mengetahui, aku tidak rela atas tuduhan yang

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

297

dilontarkan Noura kepada Fahri. Aku tidak rela. Jika sampai Fahri divonis salah

maka Noura akan menjadi musuhku di hadapan Allah di akherat

kelak..ugh..ugh..ugh..!” Maria batuk lalu jatuh tak sadarkan diri di kursi rodanya.

Madame Nahed yang tahu akan hal itu langsung mengambil Maria dan

menggeledeknya keluar ruangan bersama Yousef. Mungkin langsung

membawanya kembali ke rumah sakit.

Setelah Maria, Khadija memberikan kesaksian memang benar pada malam

itu sekitar jam tiga lebih Noura menelponnya dan menceritakan kisah sedihnya.

Namun Noura minta agar tidak memberitahukan Bahadur bahwa dia

menelponnya. Amru lalu memberikan selembar kertas dari kantor telkom Mesir

berisi perincian pemanggilan dan penerimaan panggilan nomor telpon rumah

Maria. Yang membuat heran adalah Amru membunyikan rekaman pembicaraan

Noura-Khadija via telpon malam itu. Setelah itu Amru mengajukan kesaksian

paling mengejutkan yaitu kesaksian lelaki ceking bernama Gamal yang pada saat

pengadilan pertama menjadi saksi pihak Noura. Kini Gamal bersaksi kembali:

“Pak Hakim dan hadirin semuanya. Saya ingin memberikan kesaksian

yang sejujurnya. Di tempat ini saya hendak berkata apa sebenarnya yang saya

alami. Sebenarnya apa yang saya katakan pada pengadilan pertama tidak benar.

Saya minta maaf atas kesaksian palsu saya. Saya khilaf. Dan pada kesempatan

kali ini saya mengaku dengan sejujurnya saya tidak tahu menahu mengenai

masalah ini. Saya tidak melihat nona Noura turun dan masuk rumah Fahri. Sebab

malam itu saya tidur di rumah bersama isteri dan anak saya. Saya bukan seorang

pemburu burung hantu. Itu semua rekayasa belaka. Terima kasih.”

Setelah mendengar semua kesaksian itu Amru berpidato dengan bahasa

yang luar biasa kuatnya. Ia meyakinkan kepada siapa saja yang mendengarnya

bahwa Noura seorang pemfitnah. Berkali-kali dengan bahasa yang kuat dan tajam

dia menghabisi Noura. Kulihat Noura pucat dan meneteskan air mata. Selesai

Amru bicara Noura angkat tangan dan minta kepada hakim untuk bicara. Hakim

memberinya waktu lima menit. Noura berdiri dan menuju podium. Di sana dia

berbicara dengan kepala menunduk sambil menangis terisak-isak:

“Pak Hakim dan hadirin sekalian. Selamanya kebenaran akan menang.

Jika tidak di pengadilan dunia maka kelak di pengadilan akhirat. Selamanya

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

298

rekayasa manusia tiada artinya apa-apa dibanding kekuasaan Tuhan. Hadirin, jika

ada gadis malang di dunia ini yang semalang-malangnya adalah diriku. Sejak

kecil sampai beberapa bulan yang lalu aku diasuh oleh orang yang bukan orang

tua kandungku. Waktu bayi aku tertukar di rumah sakit dengan bayi lain. Aku

hidup dalam keluarga bermoral setan. Namun aku selalu tabah dan terus bertahan.

Sampai akhirnya malam itu. Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Malam itu sebelum aku diusir dan diseret si jahat Bahadur ke jalan terlebih dahulu

aku diperkosanya…hiks..hiks..!” Noura tersedu sesaat lamanya. Ruang pengadilan

diselimuti keheningan berbalut kepiluan dan rasa kasihan.

“Aku merasa bisa menyembunyikan aib yang menimpaku. Aku kira tidak

akan terjadi apa-apa denganku. Waktu terus berjalan sampai akhirnya Allah

mempertemukan diriku dengan kedua orang tua kandungku lewat bantuan banyak

orang termasuk, Fahri, Maria, Nurul, Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman. Kedua

orang tua kandungku adalah orang terpandang dan dari keluarga besar terhormat.

Mereka menerima kedatanganku dengan penuh rasa bahagia luar biasa. Petaka itu

datang kembali ketika perutku semakin membesar. Mereka menanyakan padaku

siapa yang telah menghamiliku. Aku tak mau berterus terang bahwa Bahadur yang

menghamiliku dengan memperkosa. Aku sudah sangat benci dengan dirinya.

Akhirnya aku berbohong pada mereka yang menghamiliku adalah Fahri. Sebab

aku sangat mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau menikahiku. Namun

yang kulakukan ternyata tak lain adalah dosa besar yang sangat keji aku telah

menghancurkan kehidupan orang yang kucintai dan di sisi lain aku telah

membiarkan penjahat yang menghamiliku tertawa terbahak-bahak. Semua

rekayasa yang telah diatur rapi juga diporak-porandakan oleh kekuasaan Allah

Swt. Di sini, sebelum di akhirat nanti, aku akui dengan sejujurnya Fahri tidak

bersalah. Dia bersih. Dan kepadanya dan kepada keluarganya serta siapa saja yang

terzhalimi atas kebodohanku aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aku

memang ditakdirkan untuk hidup malang di dunia. Namun aku bertekad

memperbaiki diri agar tidak malang di akhirat kelak.”

Atas dasar semua bukti yang ada dan pengakuan Noura akhirnya mau

tidak mau Dewan Hakim memutuskan diriku tidak bersalah dan bebas dari

dakwaan apa pun. Takbir dan hamdalah bergemuruh di ruang pengadilan itu

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

299

dilantunkan oleh semua orang yang membela dan bersimpati padaku. Seketika

aku sujud syukur kepada Allah Swt. Aisya memelukku dengan tangis bahagia

tiada terkira. Paman Eqbal dan bibi Noura tak mampu membendung air matanya.

Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Nurul dan suaminya yaitu Mas

Khalid datang memberi selamat dengan mata berkaca. Satu persatu orang-orang

Indonesia yang di dalam ruangan itu memberi selamat dengan wajah haru. Amru

memberi tahu bahwa Kolonel Ridha Shahata, sepupu Syaikh Ahmad yang

memiliki posisi cukup penting di Badan Kemanan Negara juga punya andil dalam

membantu mendapatkan bukti dari kantor telkom dan memaksa Gamal berkata

jujur. Suatu bukti bahwa dunia belum kehilangan orang-orang yang baik dan cinta

keadilan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

300

29. Nyanyian dari Surga

Begitu divonis bebas, aku dibawa oleh Aisha ke rumah sakit Maadi untuk

diperiksa. Penyiksaan dipenjara seringkali menyisakan cidera atau luka. Dokter

mengatakan aku harus dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memulihkan

kesehatan. Beberapa jari kakiku yang hancur harus ditangani serius. Ada gejala

paru-paru basah yang kuderita. Aisha memesankan kamar kelas satu bersebelahan

dengan kamar Maria. Teman-teman dari Indonesia banyak yang menjenguk,

meskipun mereka sedang menghadapi ujian semester ganjil Al Azhar. Sementara

musim dingin semakin menggigit.

Sudah tiga hari, sejak jatuh tak sadarkan diri saat memberikan kesaksian di

pengadilan Maria belum juga siuman. Dokter mengatakan ada kelenjar syaraf di

kepalanya yang tak kuat menahan emosi yang kuat mendera. Ada pembengkakan

serius pada pembuluh darah otaknya karena tekanan darah yang naik drastis.

Akibatnya dia koma. Untung pembuluh darah otaknya itu tidak pecah. Kalau

pecah maka nyawanya bisa melayang.

Sekarang tidak hanya Madame Nadia dan keluarganya saja yang merasa

bertanggung jawab menunggui Maria. Aisha merasa punya panggilan jiwa tak

kalah kuatnya. Ia sangat setia menunggui diriku dan menunggui Maria. Ia bahkan

sering tidur sambil duduk di samping Maria. Aisha menganggap Maria seperti

adiknya sendiri. Beberapa kali aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat

tidur dan menemani Aisha menunggui Maria.

Pada hari keempat sejak Maria tak sadarkan diri, tepatnya pada pukul

sembilan pagi handphone Aisha berdering. Aisha mengangkatnya. Ia terkejut

mendengar suara orang yang menelponnya. “Alicia? Di mana? Oh masya Allah,

Subhanallah! Ya..ya…baik. Kalau begitu kau naik metro saja turun di Maadi. Aku

jemput di dekat loket tiket sebelah barat. Okey? Wa ‘alaikumussalam wa

rahmatullah.”

Aisha lalu tersenyum padaku dan berkata,

“Selamat untukmu Fahri, kau telah mendapatkan kenikmatan yang lebih

agung dari terbitnya matahari. Alicia sudah menjadi muslimah sekarang. Apa

yang kau lakukan sampai kau akhirnya jatuh sakit itu tidak sia-sia. Jawabanmu itu

~ oleh starhome di/pada Mei 16, 2008.

Tinggalkan Balasan