Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 280-289
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
280
Maria. Dan semoga aku bisa menyadarkan Maria sehingga nanti dia bisa menjadi
saksi dalam persidangan penentuan yang tidak lama lagi akan dilangsungkan.
Entah bagaimana diplomasi mereka pada pihak kepolisian dan jaminan apa yang
mereka berikan akhirnya mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit sampai
maghrib tiba. Saat azan maghrib berkumandang aku harus sudah berada di dalam
penjara lagi. Borgolku dilepas. Aku melihat jam dinding yang ada di ruangan itu.
Baru pukul setengah delapan pagi. Maghrib sekitar pukul lima empat lima. Ada
waktu sembilan jam setengah. Semoga waktu yang ada itu cukup untuk membantu
Maria.
Tuan Boutros dan Madame Nahed membawaku ke mobil mereka. Aku
heran, sama sekali kami tidak dikawal. Apa mereka tidak takut aku akan
melarikan diri. Aku tanyakan hal itu pada Tuan Boutros. Beliau menjawab, “Jika
kau lari maka kami sekeluarga akan mati. Kami sekeluarga yang menjadi
jaminanmu.”
“Apa Tuan tidak kuatir aku akan melarikan diri?” tanyaku.
“Aku sudah mengenal siapa dirimu. Kau bukan seorang pengecut yang
akan melakukan hal itu,” jawab Tuan Boutros mantap.
“Terima kasih atas kepercayaannya,” tukasku.
Rumah sakit tempat Maria dirawat adalah rumah sakit tempat aku dulu
dirawat. Begitu sampai di sana Madame Nahed yang juga seorang dokter
langsung meminta temannya untuk memeriksa kesehatanku. Aku sempat minta
pada Madame Nahed menghubungi Aisha yang tinggal di rumah paman Eqbal
yang tak jauh dari rumah sakit. Seorang dokter memeriksa tekanan darahku dan
lain sebagainya dengan proses yang cepat. Dia minta aku mandi dengan air
kemerahan yang telah disiapkan seorang perawat. Lalu salin pakaian rumah sakit.
Aku mandi dengan cepat. Setelah itu aku disuntik. Barulah aku diajak ke kamar di
mana Maria tergeletak seperti mayat. Aku tak kuasa menatapnya. Maria yang
kulihat itu tidak seperti Maria yang dulu. Ia tampak begitu kurus. Mukanya pucat
dan layu. Tak ada senyum di bibirnya. Matanya terpejam rapat. Air matanya terus
meleleh. Entah kenapa tiba-tiba mataku basah. Seorang dokter setengah baya
memintaku untuk berbicara dengan suara yang datang dari jiwa agar bisa masuk
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
281
ke dalam jiwa Maria. “Ini penyakit cinta, hanya bisa disembuhkan dengan
getaran-getaran cinta,” katanya padaku.
Aku duduk di kursi dekat Maria berbaring. Mulutku tak jauh dari telinga
Maria. Aku memanggil-manggil namanya. Menyuruhnya untuk membukakan
mata. Aku bercerita dan lain sebagainya. Satu jam sudah aku berbicara tapi Maria
tetap tidak sadar juga. Dokter setengah baya mengajakku bicara. Dia minta agar
aku mengucapkan kata-kata yang mesra, kata-kata pernyataan cinta pada Maria
sambil memegang-megang tangannya atau menyentuh keningnya.
Kujawab, “Maafkan diriku atas ketidakmampuanku melakukan hal itu.
Aku tidak mungkin menyatakan cinta dan menyentuh bagian tubuh seorang
wanita, kecuali pada isteriku saja.”
“Tolonglah, lakukan itu untuk merangsang syarafnya dan membuatnya
sadar. Kau harus mengatakan dan melakukan sesuatu yang memiliki efek pada
syaraf dan memorinya. Dan lebih dari itu pada jiwanya. Utarakanlah rasa cintamu
padanya, mungkin itu akan menolongnya.”
“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak menyesal.”
“Ini tidak sungguhan.”
“Aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak bisa melakukan hal itu, juga
tidak bisa untuk melakukan suatu kebohongan. Bagaimana jika aku
mengungkapkan rasa cinta lalu dia sadar. Kemudian dia tahu aku membohonginya
apakah itu bukan suatu penyiksaan yang kejam padanya?”
Dokter setengah baya diam. Ia lalu keluar dan beranjak keluar untuk
berbicara pada Tuan Boutros dan Madame Nahed. Aku duduk terpekur dalam
ketermanguan. Lakon hidup ini kenapa begitu rumit? Aku melihat bibir Maria
bergetar menyebut sebuah nama. Hatiku berdesir. Yang ia sebut adalah namaku.
Aku menjawab dengan menyebut namanya tapi ia tidak juga membuka matanya.
Ingin aku menggoyang-goyang tubuhnya agar ia sadar, agar ia tahu aku ada di
dekatnya tapi itu tak mungkin aku lakukan. Tuan Boutros mengajakku berbicara
enam mata dengan Madame Nahed di sebuah ruangan. Tuan Boutros
menyerahkan sebuah agenda berwarna biru.
“Fahri, ini agenda pribadi Maria. Tempat ia mencurahkan segala perasaan
dan pengalamannya yang sangat pribadi yang terkadang kami tidak
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
282
mengetahuinya. Termasuk cintanya padamu yang luar biasa. Kami tidak pernah
menyalahkanmu dalam masalah ini. Sebab kamu memang tidak bersalah. Kamu
tidak pernah melakukan tindakan yang tidak baik pada Maria. Kami juga tidak
bisa menyalahkan Maria. Bacalah beberapa halaman yang telah kami tandai itu
agar kau mengetahui bagaimana perasaan Maria terhadapmu sebenarnya,” kata
Tuan Boutros.
Aku menerima agenda pribadi Maria itu dan membaca pada halamanhalaman
yang telah ditandai dengan sedikit dilipat ujung atas halamannya.
Kubuka lipatan 1:
Senin, 1 Oktober 2001, pukul 22.25
Sudah dua tahun dia dan teman-temannya tinggal di flat bawah.
Kamarnya tepat dibawah kamarku. Aku tak pernah berkenalan langsung
dengannya, tapi aku mengenalnya. Aku tahu namanya dan tanggal lahirnya.
Yousef banyak bercerita tentang dirinya dan teman-temannya. Setiap Jum’at pagi
dia dan teman-temannya bermain sepak bola di lapangan bersama Yousef dan
anak-anak muda Hadayek Helwan. Mereka semua mahasiswa Al Azhar dari
Indonesia yang ramah dan menghormati siapa saja. Kata Yousef yang paling
ramah dan dewasa adalah dia. Bahasa ‘amiyah dan fushanya juga paling baik di
antara keempat orang temannya.
Ayah pernah dibuat terharu oleh sikapnya yang tidak mau merepotkan
dan menyakiti tetangga. Ceritanya suatu hari ayah menagih iuran air ke
tempatnya. Ternyata ia sedang tidak enak badan dan istirahat di kamarnya.
Teman-temannya mengajak ayah masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya ada
sebuah ember untuk menadah air yang menetes dari langit-langit. Ayah langsung
tahu bahwa tetesan air itu berasal dari kamar mandi kami. Karena kamilah yang
tepat berada di atasnya. Dan letak kamar mandi memang berada di samping
kamarku. Ayah bertanya padanya,
“Sudah berapa lama air ini merembes dan menetes di kamarmu?”
“Satu bulan?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
283
“Kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau ada ketidakberesan di kamar
mandi kami dan merembes ke tempatmu?”
“Nabi kami mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau bersabda,
‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah
tetangganya!’ Kami tahu kerusakan itu perlu diperbaiki. Dan perbaikan itu
memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena lantai rumah Anda adalah langilangit
rumah kami, maka biaya perbaikan itu tentunya kita berdua yang
menanggungnya. Kebetulan kami tidak punya uang. Kami menunggu ada uang
baru akan memberitahu Anda. Jika kami langsung memberitahu Anda kami takut
akan akan merepotkan Anda. Dan itu tidak kami inginkan.”
Mendengar jawaban itu hati ayah sangat tersentuh dan terharu. Ayah
terharu atas kesabaran dia selama satu bulan. Ada air menetes di langit-langit
kamar tentu sangat mengganggu kenyamanan. Ayah juga terharu akan
kedewasaannya dalam merasa bertanggung jawab. Ayah merasa mendapat
teguran. Bagaimana tidak? Setengah tahun sebelumnya ada air menetes di langitlangit
kamar mandi kami. Berarti kamar mandi penghuni rumah atas kami tidak
beres. Ayah dengan tegas langsung meminta orang atas memperbaikinya tanpa
memberi bantuan finansial sedikit pun. Sebab ayah merasa itu sepenuhnya
tanggung jawab orang atas. Sejak itu kekaguman ayah padanya dan pada temantemannya
sering ayah ungkapkan. Dan sejak kejadian itu aku jadi penasaran
ingin tahu lebih jauh tentang dirinya.
Sudah dua tahun dia tinggal di bawah dan aku tidak pernah bertegur sapa
dengannya. Seringkali kami bertemu tak sengaja di jalan, di halaman apartemen,
di gerbang, atau di tangga. Tapi kami tak pernah bertegur sapa. Dia lebih sering
menunduk. Jika tanpa sengaja beradu pandangan saat bertemu denganku dia
cepat-cepat menunduk atau mengalihkan padangan. Dia bersikap biasa. Tidak
tersenyum juga tidak bermuka masam. Akhirnya tadi siang saat aku pulang dari
kuliah aku bertemu dia di dalam metro. Dia juga dari kuliah. Aku memberanikan
diri untuk menyapanya dan mengajaknya bicara. Sebab rasa-rasanya rasa
penasaranku ingin tahu sendiri keindahan pribadinya seperti yang sering
diceritakan Yousef dan ayah tidak dapat aku tahan lagi. Aku menyapanya dengan
tersenyum dan dia pun menjawab dengan baik dan halus. Aku heran pada diriku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
284
sendiri bagaimana mungkin aku tersenyum padanya. Aku jarang bahkan bisa
dikatakan anti memberikan senyum pada lelaki yang bukan keluargaku. Aku tidak
tahu kenapa aku memberikan senyumku padanya dan aku tidak merasa menyesal
bahkan sebaliknya. Yang membuatku senang adalah dia ternyata tahu namaku.
Saat itu aku ingin bertanya padanya kenapa selama ini kalau bertemu di jalan
atau ditangga tidak pernah menyapaku. Tapi kuurungkan.
Perbincangan dengannya tadi siang sangat berkesan di hatiku. Dia
memiliki tutur bahasa yang halus dan kepribadian yang indah. Ia tidak mau aku
ajak berjabat tangan. Bukan tidak menghormati diriku, kata dia, justru karena
menghormati diriku. Dia juga bisa menjadi pendengar yang baik. Sifat yang tidak
banyak dimiliki setiap orang. Ia sangat senang menyimak aku membaca surat
Maryam. Kelihatannya ia kaget ada gadis koptik hafal surat Maryam. Aku bukan
gadis yang mudah terkesan pada seorang pemuda. Tapi entah kenapa aku merasa
sangat terkesan dengan sikap-sikapnya. Dan entah kenapa hatiku mulai condong
padanya. Hatiku selalu bergetar mendengar namanya. Lalu ada perasaan halus
yang menyusup ke sana tanpa aku tahu perasaan apa itu namanya. Fahri, nama
itu seperti embun yang menetes dalam hati. Kurindu setiap pagi.
Lipatan 2:
Minggu, 16 Desember 2001, pukul 21.00
Kenapa aku menangis? Perasaan apa yang mendera hatiku
sekarang?Begitu menyiksa. Aku tak pernah merindukan seseorang seperti rinduku
padanya. Sudah satu bulan aku tidak melihatnya melintas di halaman apartemen.
Sudah satu bulan dia menghilang membuat hatiku merasa tercekam kerinduan.
Yousef bilang Fahri pergi umrah sejak pertengahan Ramadhan dan sampai
sekarang belum juga pulang. Aku merasa memang telah jatuh cinta padanya.
Cinta yang datang begitu saja tanpa aku sadari kehadirannya di dalam hati.
Lipatan 3:
Sabtu, 10 Agustus 2002 pukul 11.15
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
285
Pulang dari restoran Cleopatra kugoreskan pena ini. Sebab aku tidak bisa
mengungkapkan gelegak perasaanku secara tuntas kecuali dengan
menorehkannya dalam diary ini.
Akhirnya keraguanku padanya hilang, berganti dengan keyakinan. Selama
ini aku ragu apakah dia bisa romantis. Sebab selama bertemu atau berbicara
dengannya dia sama sekali tidak pernah berkata yang manis-manis. Selalu biasa,
datar dan wajar. Dia selalu tampak serius meskipun setiap kali aku tersenyum
padanya dia juga membalas dengan senyum sewajarnya.
Tapi malam ini, apa yang dia lakukan membuat hatiku benar-benar sesak
oleh rasa cinta dan bangga padanya. Dia sangat perhatian dan suka membuat
kejutan. Kali ini yang mendapat kejutan indah darinya adalah Mama dan Yousef.
Mereka berdua mendapat hadiah ulang tahun darinya. Meskipun di atas namakan
seluruh anggota rumahnya tapi aku yakin dialah yang merencanakan semuanya.
Dia ternyata sangat romantis. Tak perlu banyak berkata-kata dan langsung
dengan perbuatan nyata. Fahri, aku benar-benar tertawan olehmu. Tapi apakah
kau tahu yang terjadi pada diriku? Apakah kau tahu aku mencintaimu? Aku malu
untuk mengungkapkan semua ini padamu. Dan ketika kau kuajak dansa tidak mau
itu tidak membuatku kecewa tapi malah sebaliknya membuat aku merasa sangat
bangga mencintai lelaki yang kuat menjaga prinsip dan kesucian diri seperti
dirimu.
Lipatan 4:
Minggu, 11 Agustus 2002 pukul 22.00
Aku sangat cemas memikirkan dia. Dia dia tergeletak keningnya panas.
Kata Mama terkena heat stroke. Kata teman-temannya dia seharian melakukan
kegiatan yang melelahkan di tengah musim panas yang sedang menggila.
Oh, kekasihku sakit
Aku menjenguknya
Wajahnya pucat
Aku jadi sakit dan pucat
Karena memikirkan dirinya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
286
Aku semakin tahu siapa dia. Untuk pertama kalinya aku tadi masuk
kamarnya ikut Mama dan Ayah menjenguknya. Dia seorang pemuda yang ulet,
pekerja keras, dan memiliki rencana ke depan yang matang. Aku masih ingat dia
menyitir perkataan bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang
jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang
yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan
yang mulus!’
Aku merasa tidak salah mencintai dia. Aku ingin hidup bersamanya.
Merenda masa depan bersama dan membesarkan anak-anak bersama.
Membangun peradaban bersama. Oh Fahri, apakah kau mendengar suara-suara
cinta yang bergemuruh dalam hatiku?
Lipatan 5:
Sabtu, 17 Agustus 2002, pukul 23.15
Aku belum pernah merasakan ketakutan dan kecemasan sehebat ini? Aku
tak ingin kehilangan dirinya. Dia memang keras kepala. Diingatkan untuk
menjaga kesehatannya tidak juga mengindahkannya. Akhirnya terjadilah
peristiwa yang membuat diriku didera kecemasan luar biasa.
Siang tadi pukul setengah empat Saiful datang dengan wajah cemas.
Minta tolong Fahri dibawa ke rumah sakit. Fahri tak sadarkan diri. Aku telpon
Mama di rumah sakit lalu bersama Yousef membawa Fahri ke rumah sakit. Aku
menungguinya sampai jam delapan malam. Dan dia belum juga siuman. Ah,
Fahri kau jangan mati! Aku tak mau kehilangan dirimu. Sembuhlah Fahri, aku
akan katakan semua perasaanku padamu. Aku sangat mencintaimu.
Lipatan 6:
Minggu, 18 Agustus 2002, pukul 17.30
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
287
Seolah-olah akulah yang sakit, bukan dia. Tuhan, jangan kau panggil dia.
Aku ingin dia mendengar dan tahu bahwa aku sangat mencintainya.
Dia tergeletak tanpa daya berselimut kain putih. Kata Saiful pukul
setengah tiga malam dia sadar tapi tak lama. Lalu kembali tak sadarkan diri
sampai aku datang menjenguknya jam setengah delapan pagi tadi. Kulihat Saiful
pucat. Ia belum tidur dan belum makan. Kuminta dia keluar mencari makan. Aku
mengantikan Saiful menjaganya. Aku tak kuasa menahan sedih dan air mataku.
Dia terus mengigau dengan bibir bergetar membaca ayat-ayat suci. Wajahmu
pucat. Air matanya meleleh . Mungkin dia merasakan sakit yang tiada terkira.
Aku tak kuasa menahan rasa sedih yang berselimut rasa cinta dan sayang
padanya. Kupegang tangannya dan kuciumi. Kupegang keningnya yang hangat.
Aku takut sekali kalau dia mati. Aku tidak mau dia mati. Aku tak bisa menahan
diriku untuk tidak menciumnya. Pagi itu untuk pertama kali aku mencium seorang
lelaki. Yaitu Fahri. Aku takut dia mati. Kuciumi wajahnya. Kedua pipinya. Dan
bibirnya yang wangi. Aku tak mungkin melupakan kejadian itu. Kalau dia sadar
mungkin dia akan marah sekali padaku. Tapi aku takut dia mati. Saat
menciumnya aku katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya. Tapi dia tak
juga sadar. Tak juga menjawab.
Pukul delapan dia bangun dan dia kelihatan kaget melihat aku berada di
sisinya. Aku ingin mengatakan aku cinta padanya. Tapi entah kenapa melihat
sorot matanya yang bening aku tidak berani mengatakannya. Tenggorokanku
tercekat. Mulutku terkunci hanya hati yang berbicara tanpa suara. Tapi aku
berjanji akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya padanya.
Aku ingin menikah dengannya. Dan aku akan mengikuti semua keinginannya. Aku
sangat mencintainya seperti seorang penyembah mencintai yang disembahnya.
Memang memendam rasa cinta sangat menyiksa tapi sangat mengasyikkan. Love
is a sweet torment!
Lipatan terakhir:
Jum’at, 4 Oktober 2002, pukul 23.25
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
288
Aku masih sangat kelelahan baru pulang dari Hurgada. Baru setengah
jam meletakkan badan di atas kasur aku mendapatkan berita yang
meremukredamkan seluruh jiwa raga. Fahri telah menikah dengan Aisha,
seorang gadis Turki satu minggu yang lalu. Aku merasa dunia telah gelap. Dan
hidupku tiada lagi berguna. Harapan dan impianku semua lenyap. Aku kecewa
pada diriku sendiri. Aku kecewa pada hari-hari yang telah kujalani. Andaikan
waktu bisa diputar mundur aku akan mengungkapkan semua perasaan cintaku
padanya dan mengajaknya menikah sebelum dia bertemu Aisha. Aku merasa
ingin mati saja. Tak ada gunanya hidup tanpa didampingi seorang yang sangat
kucintai dan kusayangi. Aku ingin mati saja. Aku ingin mati saja. Aku rasa aku
tiada bisa hidup tanpa kekuatan cinta. Aku akan menunggunya di surga.
Air mataku tak bisa kubendung membaca apa yang ditulis Maria dalam
diary pribadinya. Aku cepat-cepat menata hati dan jiwaku. Aku tak boleh larut
dalam perasaan haru dan cinta yang tiada berhak kumerasakannya. Aku sudah
menjadi milik Aisha. Dan aku harus setia lahir batin, dalam suka dan duka, juga
dalam segala cuaca.
“Hanya kau yang bisa menolongnya Anakku. Nyawa Maria ada di
tanganmu,” ucap Madame Nahed pelan dengan air mata meleleh di pipinya.
“Bukan aku. Tapi Tuhan,” jawabku.
“Ya. Tapi kau perantaranya. Kumohon lakukanlah sesuatu untuk Maria!”
“Aku sudah melakukannya semampuku.”
“Lakukanlah seperti yang diminta dokter. Tolong.”
“Andai aku bisa Madame, aku tak bisa melakukannya.”
“Kenapa?”
“Aku sudah katakan semuanya pada dokter.”
“Kalau begitu nikahilah Maria. Dia tidak akan bisa hidup tanpa dirimu.
Sebagaimana aku tidak bisa hidup tanpa Boutros.”
“Itu juga tidak mampu aku lakukan. Aku sangat menyesal.”
“Kenapa Fahri? Kau tidak mencintainya? Kalau kau tidak bisa
mencintainya maka kasihanilah dia. Sungguh malang nasibnya jika harus mati
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
289
dalam keadaan sangat sengsara dan menderita. Kasihanilah dia, Fahri. Kumohon
demi rasa cintamu pada nabimu.”
“Masalahnya bukan cinta atau kasihan Madame.”
“Lantas apa?”
“Aku sudah menikah. Dan saat menikah aku menyepakati syarat yang
diberikan isteriku agar aku menjadikan dia isteri yang pertama dan terakhir. Dan
aku harus menunaikan janji itu. Aku tidak boleh melanggarnya.”
“Aku akan minta pada Aisha untuk memberikan belas kasihnya pada
Maria. Aku yakin Aisha seorang perempuan shalihah yang baik hati. Kebetulan
itu dia, baru datang. Kau tunggulah di sini bersama Boutros. Aku mau bicara
empat mata dengan Aisha.” Kata Madame Nahed sambil berjalan menyambut
Aisha. Keduanya lalu berjalan memasuki sebuah ruangan. Entah apa yang akan
dikatakan Madame Nahed pada Aisha. Semoga Aisha tidak terluka hatinya. Dan
aku sama sekali tidak punya niat sedetikpun untuk menduakan Aisha dengan
Maria. Aku tidak pernah berpikir kalau Maria mencintaiku sedemikian rupa.
* * *
Setelah berbincang dengan Madame Nahed, Aisha mengajakku berbicara
empat mata. Matanya berkaca-kaca.
“Fahri, menikahlah dengan Maria. Aku ikhlas.”
“Tidak Aisha, tidak! Aku tidak bisa.”
“Menikahlah dengan dia, demi anak kita. Kumohon! Jika Maria tidak
memberikan kesaksiannya maka aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk
menyelamatkan ayah dari anak yang kukandung ini.” Setetes air bening keluar
dari sudut matanya.
“Aisha, hidup dan mati ada di tangan Allah.”
“Tapi manusia harus berusaha sekuat tenaga. Tidak boleh pasrah begitu
saja. Menikahlah dengan Maria lalu lakukanlah seluruh petunjuk dokter untuk
menyelamatkannya.”
“Aku tak bisa Aisha. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau yang
pertama dan terakhir bagiku.”
“Kalau kau mencintaiku maka kau harus berusaha melakukan yang terbaik
untuk anak kita. Aku ini sebentar lagi menjadi ibu. Dan seorang ibu akan

Tinggalkan Balasan