Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 270-279
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
270
“Ada kabar kurang menggembirakan untukmu. Surat permohonan agar
jadwal sidang berikutnya diundur sampai janin Noura bisa diperiksa DNAnya
ditolak oleh pengadilan.” Kata Amru dengan wajah mengguratkan kemuraman.
“Aku tidak kaget. Sudah aku kira.” Jawabku lirih. Kemudian aku
menjelaskan prediksi-prediksi Profesor Abdul Rauf dan saran dari Ismail.
“Aku juga memiliki prediksi dan kalkulasi yang tidak jauh berbeda.
Sekarang senjata kita tinggal kesaksian Maria. Dan dia masih koma di rumah
sakit. Kondisinya sangat memprihatinkan, susah untuk kita harapkan.” Kata Amru
lemas.
“Saran Ismail itu cukup bagus. Memang dibelakang Noura adalah seorang
perwira menengah di badan intelijen khusus keamanan negara. Dia adik bungsu
Madame Yasmin, ibu kandung Noura. Dialah yang mendalangi semua ini. Si
Kumis yang mau berbuat tidak baik pada Madame Aisha itu akhirnya buka mulut
juga. Tapi dia sulit disentuh. Kecuali oleh orang yang pangkatnya lebih tinggi
darinya. Kebetulan aku tidak punya akses ke badan intelijen khusus. Aksesku
hanya intel polisi biasa jadi tidak bisa berbuat banyak. Si Kumis itu kalau bukan
desakan diplomatik dari Jerman dia juga tidak akan terproses secara hukum.”
Ucap Magdi.
“Hmm..aku ingat sekarang. Syaikh Ahmad punya sepupu yang juga
bertugas di dalam badan intelijen khusus keamanan negara, namanya Ridha
Shahata. Siapa tahu bisa membantu.” Sahutku sedikit optimis.
“Saya sudah menghubungi Syaikh Ahmad, tapi sayang Ridha Shahata
sedang ditugaskan ke Iran selama dua bulan. Dia baru akan kembali ke Mesir
sekitar pertengahan Syawal, ketika sidang telah usai.” Tukas paman Eqbal Hakan
Erbakan.
Azan maghrib berkumandang. Kami berbuka bersama. Pembicaraan sore
itu belum menghasilkan sesuatu yang nyata untuk membuktikan bahwa diriku
sama sekali tidak berdosa melakukan perbuatan yang hina yang dituduhkan
kepadaku. Aisha pamit dengan air mata tak terbendung. “Aku akan cari jalan
untuk menyelamatkan nyawamu, Suamiku. Aku tak mau jadi janda. Aku tak ingin
anakku ini nanti lahir dalam keadaan yatim. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Kau
adalah karunia agung yang diberikan oleh Allah kepadaku.” Kalimat dari bibirnya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
271
yang bergetar itu membuat hatiku terasa pilu dan sedih. Tak lama lagi akan
memiliki seorang anak. Dan aku tidak tahu apakah masih akan sempat melihat
wajah anakku itu apa tidak? Hanya Tuhanlah yang tahu akan akhir nasibku.
Apapun yang akan terjadi aku harus siap menerimanya.Untuk membesarkan hati,
aku kembali mengingat kisah Nabi Yahya yang mati muda, kepalanya dipenggal
dan dihadiahkan kepada seorang pelacur. Kalau kehidupan dunia adalah segalanya
maka kesalehan seorang nabi tiada artinya.
* * *
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
272
26. Ayat Ayat Cinta
Musim dingin yang beku membuat tulang-tulangku terasa ngilu. Aku
nyaris tidak kuat dengan keadaan sel yang sangat menyiksa. Tanpa disiksapun
musim dingin dalam sel gelap, pengap, basah dan berbau pesing itu sangat
menyiksa. Seluruh sumsum tulang terasa pedih bernanah. Aku memasuki hari-hari
yang sangat berat.
Suatu sore, satu jam sebelum buka, tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri
Aisha menjenguk bersama paman Eqbal, dia tampak terpukul melihat keadaanku
yang sangat mengenaskan. Menjalani musim dingin dengan tanpa pelindung
tubuh yang cukup telah membuat seluruh persendianku kaku. Selama ini aku
nyaris tidak pernah tidur kecuali dengan posisi jongkok, tangan memegang kedua
kaki erat-erat. Beberapa kali aku merasa sangat tersiksa bagaikan orang yang
sedang sekarat.
“Suamiku, izinkanlah aku melakukan sesuatu untukmu!” Kata Aisha
dengan mata berkaca-kaca.
“Apa itu?”
“Beberapa waktu yang lalu Magdi mengatakan harapan kau bisa
dibebaskan sangat tipis sekali. Maria masih juga koma. Mungkin hanya mukjizat
yang akan menyadarkannya. Magdi berseloroh, jika punya uang untuk diberikan
pada keluarga Noura dan pihak hakim mungkin kau bisa diselamatkan. Kalau kau
mengizinkan aku akan bernegosiasi dengan keluarga Noura. Bagiku uang tidak
ada artinya dibandingkan dengan nyawa dan keselamatanmu.”
“Maksudmu menyuap mereka?”
“Dengan sangat terpaksa. Bukan untuk membebaskan orang salah tapi
untuk membebaskan orang tidak bersalah!”
“Lebih baik aku mati daripada kau melakukan itu!”
“Terus apalagi yang bisa aku lakukan? Aku tak ingin kau mati. Aku tak
ingin kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayi ini nanti tidak punya ayah. Aku tak
ingin jadi janda. Aku tak ingin tersiksa. Apalagi yang bisa aku lakukan?”
“Dekatkan diri pada Allah! Dekatkan diri pada Allah! Dan dekatkan diri
pada Allah! Kita ini orang yang sudah tahu hukum Allah dalam menguji hamba-
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
273
hamba-Nya yang beriman. Kita ini orang yang mengerti ajaran agama. Jika kita
melakukan hal itu dengan alasan terpaksa maka apa yang akan dilakukan oleh
mereka, orang-orang awan yang tidak tahu apa-apa. Bisa jadi dalam keadaan kritis
sekarang ini hal itu bisa jadi darurat yang diperbolehkan, tapi bukan untuk orang
seperti kita, Isteriku. Orang seperti kita harus tetap teguh tidak melakukan hal itu.
Kau ingat Imam Ahmad bin Hambal yang dipenjara, dicambuk dan disiksa habishabisan
ketika teguh memegang keyakinan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk. Al-
Qur’an adalah kalam Ilahi. Ratusan ulama pergi meninggalkan Bagdad dengan
alasan keadaan darurat membolehkan mereka pergi untuk menghindari siksaan.
Jika semua ulama saat itu berpikiran seperti itu, maka siapa yang akan memberi
teladan kepada umat untuk teguh memegang keyakinan dan kebenaran. Maka
Imam Ahmad merasa jika ikut pergi juga ia akan berdosa. Imam Ahmad tetap
berada di Bagdad mempertahankan keyakinan dan kebenaran meskipun harus
menghadapi siksaan yang tidak ringan bahkan bisa berujung pada kematian. Sama
dengan kita saat ini. Jika aku yang telah belajar di Al Azhar sampai merelakan
isteriku menyuap maka bagaimana dengan mereka yang tidak belajar agama sama
sekali. Suap menyuap adalah perbuatan yang diharamkan dengan tegas oleh
Baginda Nabi. Beliau bersabda, ‘Arraasyi wal murtasyi fin naar!’ Artinya, orang
yang menyuap dan disuap masuk neraka! Isteriku, hidup di dunia ini bukan
segalanya. Jika kita tidak bisa lama hidup bersama di dunia, maka insya Allah
kehidupan akherat akan kekal abadi. Jadi, kumohon isteriku jangan kau lakukan
itu! Aku tidak rela, demi Allah, aku tidak rela!”
Aisha tersedu-sedu mendengar penjelasanku. Dalam tangisnya ia berkata
dengan penuh penyesalan, “Astaghfirullah…astaghfirullaahal adhiim!” Paman
Eqbal ikut sedih dan meneteskan air mata.
“Aisha isteriku, apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.
Aisha menganggukkan kepala.
“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita yang sekarang ini
saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling
memusuhi.”
“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di
akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
274
“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada Allah maka
keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya
justru menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun besar. Tentu
kelak mereka berdua akan bertengkar di akhirat. Seseorang yang sangat mencintai
kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak peduli pada apa pun
juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa. Jika
yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan keduanya akan bermusuhan
kelak di akhirat. Sebab mereka akan berseteru di hadapan pengadilan Allah Swt.
Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah Swt dalam surat Az Zuhruf ayat 67:
‘Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya
menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.’
Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini saling menyayangi dan saling
mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin kelak di
akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan oleh Allah Swt. Aku
tak menginginkan yang lain kecuali itu isteriku. Hidup dan mati sudah ada
ajalnya. Allahlah yang menentukan bukan keluarga Noura juga bukan hakim
pengadilan itu. Jika memang kematianku ada di tiang gantungan itu bukan suatu
hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab tapi kematian adalah satu yaitu
kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah
besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin
kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangan dirimu di
akhirat nanti. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh agar kita tetap bersama
dan tidak kehilangan adalah bertakwa dengan sepenuh takwa kepada Allah Azza
Wa Jalla.”
Tangis Aisha semakin menjadi-jadi.
“Ka…kau benar Suamiku, terima kasih kau telah mengingatkan diriku.
Sungguh beruntung aku memiliki suami seperti dirimu. Aku mencintaimu
suamiku. Aku mencintaimu karena kau adalah suamiku. Aku juga mencintaimu
karena Allah Swt. Ayat yang kau baca dan kau jelaskan kandungannya adalah
satu ayat cinta di antara sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada
manusia. Keteguhan imanmu mencintai kebenaran, ketakwaan dan kesucian
dalam hidup adalah juga ayat cinta yang dianugerahkan Tuhan kepadaku dan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
275
kepada anak dalam kandunganku. Aku berjanji akan setia menempatkan cinta
yang kita bina ini di dalam cahaya kerelaan-Nya.”
Kalimat-kalimat yang terucap dari mulut Aisha menjadi penyejuk jiwa
yang tiada pernah kurasa sebelumnya. Ia seorang perempuan yang lunak hatinya
dan bersih nuraninya.
“Kisah percintaan kalian membuat hatiku sangat terharu. Aisha, memiliki
rasa cinta dan kesetiaan pada suami yang luar biasa. Kau seperti ibumu. Kau
mewarisi kelembutan hati seperti nenekmu yang asli Palestina. Jika beliau masih
ada pasti akan sangat bangga memiliki cucu sepertimu. Dan kau Fahri, aku belum
pernah melihat seorang lelaki yang seteguh dirimu dan sekuat dirimu dalam
bertanggung jawab mempertahankan cinta suci di dunia dan di akhirat. Kau benar,
hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat. Hidup yang kekal abadi tiada
penghabisannya. Sesungguhnya sore ini aku mendapatkan nasihat agung yang
tiada ternilai harganya.”
Azan berkumandang dan kami bersiap untuk buka. Sambil menjawab
azan, lirih kudengar Aisha berdoa, “Ya Allah kekalkan cinta kami di dunia dan di
akhirat. Ya Allah masukkan kami ke dalam surga Firdaus-Mu agar kami dapat
terus bercinta selama-lamanya. Amin.”
Setelah mereka pulang di dalam sel penjara aku menyatukan diri dalam
rengkuhan tangan Tuhan. Meskipun berada di dalam penjara aku masih
merasakan kenikmatan-kenikmatan yang kelihatannya biasa-biasa namun luar
biasa agungnya. Tuhan masih memberikan sentuhan cinta dan kasih sayang-Nya.
Aku tiada kuasa berbuat apa-apa kecuali meletakkan kening bersujud kepada-Nya.
Ilahi, setiap kali,
bila kurenungkan kemurahanMu
yang begitu sederhana mendalam
akupun tergugu
dan membulatkan sembahku padaMu113
* * *
113 Diadaptasi dengan sedikit perubahan dari puisi berjudul “Saat-saat Sadar” karya penyair Belgia,
Emile Verhaeren (1855-1916), yang sangat terkenal pasca perang dunia pertama.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
276
Hari raya Idul Fitri tiba. Aku merayakannya di dalam penjara berteman
duka dan air mata. Tidak seperti hari raya yang telah lalu. Aku tidak bisa
berbicara langsung dengan kedua orang tua di Indonesia. Aku hanya berpesan
kepada Aisha agar minta tolong kepada Rudi membelikan kartu lebaran di Attaba
dan mengirimnya tanpa memberitahukan keadaanku sebenarnya. Aku tak ingin
membuat mereka berdua berduka tiada terkira. Aku telah berpesan pada Ketua
PPMI agar jika ada teman mahasiswa dari Jawa pulang berkenan mampir ke
rumah orang tuaku dan menceritakan masalah yang menimpaku dengan baik dan
bijaksana.
Yang sedikit mengurangi kesedihanku pada hari raya itu adalah kunjungan
yang datang silih berganti dari pagi sampai sore. Pagi sekali, tak lama setelah
shalat Ied selesai Aisha, paman Eqbal dan bibi Sarah menjenguk. Setelah itu
teman-teman satu rumah alias Rudi dkk. Lalu Mas Khalid dan anak buahnya.
Ketua Kelompok Studi Walisongo (KSW) dan bala kurawanya. Takmir masjid
Indonesia. Beberapa staf KBRI yang rendah hati. Teman-teman S2 dan S3. Dan
beberapa kenalan lainnya.
Yang cukup mengejutkan diriku adalah kunjungan Nurul bersama Ustadz
Jalal dan isterinya. Nurul menyampaikan rasa terima kasihnya atas surat yang aku
tulis untuknya. Dia minta doanya tiga hari lagi akan melangsungkan akad nikah
dengan salah seorang mahasiswa Indonesia.
“Siapa dia calon suamimu yang beruntung itu, kalau aku boleh tahu?”
Tanyaku pada Nurul. Dia menundukkan kepala dan dia diam saja. Malu.
“Dia juga sedang menulis tesis. Juga kawan dekatmu.” Kata Ustadz Jalal
menanggapi pertanyaanku. Aku berpikir sesaat mencari seseorang yang
diisyaratkan oleh Ustadz Jalal.
“Apakah dia itu Mas Khalid?” tebakku.
“Tebakkanmu tidak salah,” jawab Ustadz Jalal.
“Dia orang yang shaleh, baik dan memiliki karakter dan dedikasi tinggi.”
kataku.
“Tapi cinta pertama sangat susah dilupakan.” Lirih Nurul.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
277
“Sekali lagi cinta sejati adalah yang telah diikat dengan tali suci
pernikahan. Jadikanlah Mas Khalid sebagai cinta pertama dan terakhirmu.”
pelanku.
“Insya Allah, aku sedang berusaha untuk melakukan itu dengan segenap
usaha. Doakanlah pernikahan kami barakah, dan kami bahagia dan menemukan
mawaddah,” lirih Nurul.
“Sama-sama. Kita saling mendoakan,” jawabku.
Aku bahagia mendapat kunjungan yang membawa berita baik itu. Mas
Khalid memang pasangan yang cocok untuk Nurul. Keduanya sama-sama berasal
dari keluarga pesantren. Dan kepiawaian Mas Khalid dalam membaca kitab
kuning ala pesantren salaf akan sangat berguna bagi pengembangan pesantren
milik ayah Nurul. Mas Khalid bisa menjadi pengasuh pesantren yang baik. Dalam
banyak acara diskusi di Cairo dia paling sering diminta untuk memimpin doa.
Doanya panjang namun mampu membuat orang meneteskan air mata di hadapan
Tuhannya.
Dan yang tak kalah bahagianya hatiku adalah kunjungan Syaikh Prof. Dr.
Abdul Ghafur Ja’far bersama puteranya yang bernama Umar. Beliau berpesan
agar aku bersabar dan tidak pernah putus asa sedetikpun atas datangnya rahmat
Allah Swt. Beliau meminta maaf atas ketidakberdayaan beliau mempertahankan
diriku atas pengeluaranku dari Al Azhar. Beliau juga menjelaskan bahwa
sebenarnya Al Azhar mendapatkan tekanan dari keamanan untuk melakukan hal
itu padaku. Sebelum pulang beliau memelukku erat-erat lalu mengecup ubunubun
kepalaku.
“Ingat baik-baik Anakku, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja!”114
Pesan beliau kepadaku. Kunjungan Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar itu
membuat diriku memang benar-benar terasa ada. Orang sepenting dia masih
berkenan menengokku di penjara. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupa.
Menjelang Isya’, Syaikh Ahmad dan isterinya, Ummu Aiman datang.
Syaikh Ahmad sedikit membawa berita baik untukku. Yaitu saudara sepupunya,
Ridha Shahata, yang ditugaskan keluar Mesir pulang lebih awal dari jadwal yang
ditetapkan karena dia telah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Ridha
114 Dan siapa yang bertakwa kepada Allah maka dia akan menjadikan untuknya jalan keluar.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
278
Shahata berjanji akan membantu sebisanya. Yang paling penting menurut Ridha
Shahata dari cerita Syaikh Ahmad adalah bagaimana caranya Maria bisa
memberikan kesaksiannya di depan pengadilan. Aku lebih banyak diam, dalam
hati kukatakan, ‘Maria sangat susah diharapkan, jika memang aku harus mati di
tiang gantungan berarti memang Tuhan berkehendak demikian.’
Sejujurnya kukatakan, selama merayakan Iedul Fitri di Mesir aku belum
pernah mendapatkan kunjungan sebanyak itu. Meskipun berada di penjara, namun
hari raya yang kulewati cukup mengesan. Aku ikhlas seandainya hari raya yang
aku lewati adalah hari raya terakhirku di dunia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
279
27. Diary Maria
Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, Tuan Boutros dan Madame Nahed
datang. Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan datang menjenguk dan
mengucapkan selamat hari raya. Ternyata maksud kedatangan mereka tidak
semata-mata berkunjung. Tuan Boutros berkata, “Kedatangan kami berdua kemari
mau minta pertolonganmu sekali lagi untuk kesembuhan Maria.”
“Aku tidak mengerti maksud Tuan. Apa yang bisa aku lakukan dalam
keadaan seperti ini?” jawabku.
“Kaset rekaman suaramu itu bisa menyadarkan Maria beberapa menit.
Begitu sadar ia menanyakan dirimu. Ia terus menanyakan dirimu sampai tak
sadarkan diri kembali. Dokter ahli syaraf yang menanganinya meminta agar bisa
mendatangkan dirimu beberapa saat untuk menyadarkan Maria. Dengan suara dan
dengan sentuhan tanganmu ada kemungkinan Maria bisa sadar. Dan ketika
mendapatkan dirimu berada di sisinya, dia akan memiliki semangat hidup
kembali. Maria itu ternyata persis seperti ibunya yang tidak mudah jatuh cinta.
Namun sekali jatuh cinta dia bisa melupakan sama sekali orang yang dicintainya.
Madame Nahed ini dulu juga sakit seperti Maria sekarang, cuma tidak separah
Maria,” kata Tuan Boutros.
“Tolonglah Anakku, aku tak mau kehilangan Maria. Aku sudah pernah
mengalami apa yang dialami Maria. Hanya suaramu, sentuhanmu dan
kehadiranmu di sisinya yang akan membuat dirinya kembali memiliki cahaya
hidup yang telah redup,” desak Madame Nahed.
“Kalau hanya memperdengarkan suaraku padanya, insya Allah aku bisa.
Tapi kalau sampai menyentuhnya aku tidak bisa. Anda tentu sudah tahu kenapa?
Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu sementara aku berada di dalam penjara.
Apakah akan rekaman lagi?” jawabku.
“Kami akan minta izin kepada pihak kepolisian untuk membawamu ke
rumah sakit beberapa saat lamanya dengan jaminan,” kata Tuan Boutros.
“Semoga bisa,” sahutku pelan.
Keduanya lalu keluar. Aku menunggu di ruang tamu penjara dengan
penuh harap berdoa mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit menemui

Tinggalkan Balasan