Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Di San Stefano, Alexandria)

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

223

21. Di San Stefano, Alexandria

Selesai pelatihan kami mempersiap segala sesuatu untuk pergi ke

Alexandria. Dengan cermat Aisha mendata semua keperluan yang harus dibawa.

Termasuk laktopnya. Selama satu minggu di sana ia berencana menulis biografi

ibunya. Ia pernah ke Alexandria bersama ibunya. Jadwal di Alexandria telah

tersusun baik. Di antaranya adalah pergi ke perpustakaan Universitas Alexandria

untuk mencari tambahan referensi dan menemui Syaikh Zakaria Orabi, seorang

imam masjid yang menurut keterangan Syaikh Utsman pernah berjumpa dengan

Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.

Dengan Nissan Terrano kami sampai di kota Alexandria. Kota kebanggaan

rakyat Mesir. Aku tidak hafal betul route kota budaya ini. Setelah bertanya

beberapa kali akhirnya kami sampai di San Stefano Hotel. Sebenarnya aku ingin

naik bis saja. Tapi Aisha memaksa menggunakan mobil pribadi. Ketika aku

sedikit ragu akan keputusannya. Ia meyakinkan diriku dengan berkata:

“Di Jerman aku sering keluar kota dengan mobil pribadi. Aku bahkan

pernah menempuh jarak Munchen-Hamburg dengan mobil sendiri. Kau jangan

kuatir, insya Allah selamat. Apalagi Cairo-Alexandria cuma 177 km, jalannya pun

lebar dan lurus, dengan kecepatan santai tiga-empat jam sampai!”

Karena dia merasa yakin sekali semuanya akan baik-baik saja. Dia juga

ingin sekali berkeliling Alexandria dengan mobil sendiri maka aku pun

menyetujuinya. Untuk menginap sebenarnya sudah aku tawarkan padanya

menginap di rumah khusus tamu milik mahasiswi Malaysia, tapi Aisha tidak mau.

Aisha Aisha ingin menginap di hotel San Stefano dan di kamar yang ia dan ibunya

dulu pernah menginap. Sudah jauh-jauh hari ia pesan kamar itu. Ia ingin

bernostalgia sambil menulis biografi ibunya. Itulah untuk pertama kalinya aku

menginap di hotel berbintang. Sudah empat kali aku ke Alexandria dan tidak

pernah menginap di hotel. Dua kali ikut mukhayyam 106 musim panas yang

diadakan oleh Universitas Al Azhar. Dan yang dua kali bersama teman-teman

Malaysia dan menginap di rumah khusus tamu milik organisasi mahasiswi

Malaysia di Alexandria.

106 Perkemahan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

224

Hotel San Stefano terletak tepat di garis pantai laut Mediterania. Balkon

kami kami menghadap ke laut. Malam pertama di San Stefano Aisha berbisik,

“Sayang, Dhab Mashrinya dicoba yuk!”

Aku tersenyum. Aisha selalu berterus terang. Apakah karena dia bukan

perempuan Jawa? Tapi keterusterangannya membuat aku senang. Aku teringat

perkataan Sayyidina Muhammad Al Baqir, “Wanita yang terbaik di antara kamu

adalah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya,

dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi!” Dan Aisha adalah wanita

seperti itu.

Dhab Mashrinya tidak kubawa?”

“Kenapa?”

“Aku takut menjelma jadi kadal.”

Aisha tertawa geli.

Di Alexandria kami melewati hari-hari indah. Tidak terlalu kalah indahnya

dengan hari-hari di tepi sungai Nil. Tapi tepi sungai Nil tetaplah lebih terkesan,

karena kami menghabiskan malam paling indah sepanjang hayat di sana. Satu

minggu telah berlalu, tapi Aisha ingin menambah satu minggu lagi untuk

menuntaskan biografi ibunya. Ternyata dengan memandang laut yang indah Aisha

merasa pikirannya lebih jernih. Banyak kenangan yang bersama ibunya yang terus

berkelabat di kepalanya. Ia sudah menulis tiga ratus halaman dan biografi itu

belum juga selesai. Aku merasa tidak ada masalah menambah hari lagi. Sementara

dia sibuk dengan biografi ibunya, aku sibuk talaqqi kitab hadits Shahih Bukhari di

Masjid Imam Abdul Halim Mahmud yang diajar oleh Syaikh Zainuddin El-

Maula.

Suatu malam ada sms masuk ke handphone-ku. Dari Yousef . Kubuka:

“Maria sakit, mama minta agar memberi tahu kamu.”

Aku tersenyum. Madame Nahed masih menganggap aku bagian dari

keluarganya. Puterinya sakit langsung memberi kabar. Aku tidak membalas apaapa.

Aku hanya berdoa dalam hati semoga Maria segera sembuh. Dan nanti jika

sudah kembali ke Cairo, aku akan mengajak Aisha mengunjungi mereka, sekalian

mengunjungi teman-teman seperjuangan di Hadayek Helwan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

225

Setelah dua minggu di Alexandria, waktu pulang pun tiba. Dari mengaji

pada Syaikh Zainuddin aku mendapatkan pengetahuan tentang fiqhul hadits yang

sangat berharga. Dari Syaikh Zakaria Orabi aku mendapatkan kisah perjalanan

hidup Said An-Nursi, juga beberapa lembar teks khutbah Jum’atnya yang ditulis

tangan oleh Syaikh Zakaria. Dan Aisha berhasil menyelesaikan biografi ibunya.

Tertulis dalam bahasa Jerman sebanyak 545 halaman satu spaso, Microsoft Word,

Times New Roman, font 12. Sehari menjelang pulang ke Cairo kami jalan-jalan

ke kawasan El-Manshiya yang merupakan pusat kota Alexandria dan disebut juga

Alexandria lama. Di El-Manshiya itulah tepatnya kota Alexandria kuno berada.

Puing-puing peninggalan Romawi masih ada di sana. Misalnya dapat di lihat

bekasnya di Graeco-Roman Museum dan Achaeological and Roman

Amphitheatre. Kami juga belanja di sana, tak lupa kami membeli dua jaket untuk

Hosam dan Magdi, dua penjaga keamanan apartemen kami. Sekadar sebagai

hadiah dan pengikat jiwa.

Terakhir kami berziarah ke makam Luqman Al Hakim yang namanya

disebut dalam Al-Qur’an dan dijadikan nama surat ketiga puluh satu. Makam

Luqman berdampingan dengan makam Nabi Daniyal. Berada di goa bawah tanah

masjid Nabi Daniyal, tak jauh dari terminal utama Alexandria. Selama menatap

makam Luqman air mataku meleleh teringat nasihat Luqman pada anaknya:

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya

mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji

sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah

akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi

Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang

baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah

terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk

hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).107I

Luqman seperti masih hidup dan menasihati diriku dengan suaranya yang

penuh wibawa dan mengetarkan jiwa. Jika aku punya anak kelak, aku ingin

107 Surat Luqman: 13,16, dan 17.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

226

mendidiknya seperti Luqman mendidik anaknya. Aku ingin menasihatinya seperti

Luqman menasihati anaknya. Aku ingin bersikap bijaksana padanya seperti

Luqman bersikap bijaksana pada anaknya. Ya Tuhan, kabulkan.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Penangkapan)

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

227

22. Penangkapan

Dalam perjalanan pulang entah kenapa aku merasakan kecemasan yang

menyusup begitu saja dalam jiwa. Selama melewati jalan lurus yang membelah

lautan padang pasir aku terus berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan.

Kupandang lekat-lekat wajah Aisha yang sedang konsentrasi mengemudikan

kendaraan. Dalam hati aku berkata:

Aku cemas bila kehilangan kau

Aku cemas pada kecemasanku108

Aisha terus mengebut dengan tenang. 90 km/jam. Semua kendaraan

berjalan cepat. Tak ada yang lambat. Bus West Delta menyalib dengan kecepatan

gila. Memasuki Giza, awal masuk kota Kairo dari arah Alexandria, kami mampir

di sebuah restoran untuk makan malam dan sedikit membeli oleh-oleh buat Si

Hosam dan Magdi. Dua penjaga apartemen yang dalam waktu singkat sudah

sangat akrab dengan kami. Tepat pukul sembilan malam kami tiba di gerbang

apartemen. Dua malam sebelum Ramadhan tiba. Rencana berangkat umrah awal

Ramadhan terpaksa diundur satu minggu. Baru masuk rumah sms dari Yousef

datang, mengabarkan kondisi Maria semakin memburuk dan terpaksa harus

dirawat di rumah sakit Maadi. Kondisi kami sangat lelah. Tidak mungkin

langsung meluncur ke Maadi. Aku membalas dengan mengabarkan baru tiba dari

Alexandria dan insya Allah besok pagi akan datang menjenguk.

Selesai membersihkan badan dengan air hangat kami shalat berjamaah.

Selesai shalat aku turun ke bawah membawa oleh-oleh untuk Hosam dan Magdi.

Dua bungkus ayam panggang dan dua jaket baru. Mereka senang sekali

menerimanya. Aku kembali naik dan mengajak Aisha istirahat. Ketika mata baru

saja akan terlelap, Aisha terbangun dan berlari ke kamar mandi. Ia muntahmuntah.

Kubuntuti dia. Kupijit-pijit tengkuknya. Mukanya pucat. Dalam

pikiranku dia masuk angin dan kelelahan. Ia telah bekerja keras, memforsir tenaga

dan pikirannya untuk menulis biografi ibunya selama di Alexandria. Ia juga harus

konsentrasi selama tiga jam mengendarai mobil. Aku merasa sangat kasihan pada

108 Petikah puisi berjudul “Sajak” karya Penyair Amerika, John Cornford, diterjemahkan oleh

Chairil Anwar.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

228

isteriku. Aku berniat aku harus bisa menyetir agar isteriku tidak kelelahan.

Kugosok punggungnya dengan minyak kayu putih. Telapak tangan, kaki, perut

dan lehernya kuolesi minyak kayu putih. Kubuatkan ramuan obat andalanku jika

lelah dan meriang. Segelas madu hangat diberi habbah barakah. Rasulullah

pernah memberi tahu bahwa habbah barakah bisa menjadi obat segala penyakit.

Setelah meminum ramuan itu Aisya kuajak tidur.

Pagi hari ia tampak segar. Pukul sembilan saat aku bersiap mengajaknya

ke rumah sakit Maadi. Tiba-tiba dia kembali muntah-muntah. Aku bingung. Aku

takut ia terkena penyakit yang orang Jawa bilang masuk angin kasep, yaitu masuk

angin yang bertumpuk-tumpuk dan parah. Aku urung ke Maadi, dengan taksi

kubawa Aisha ke klinik terdekat. Seorang dokter berjilbab memeriksanya. Hampir

setengah jam lamanya Aisha berada dalam kamar periksa dengan dokter berjilbab.

Ketika keduanya keluar, dokter berjilbab itu tersenyum, “Selamat! Setelah kami

periksa air seninya dan kami lanjutkan dengan USG, isteri anda positif hamil!”

Wajah Aisha cerah. Kepadaku ia mengerlingkan mata kanannya. Aku

merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu sampai di flat Aisha berkata dengan

wajah cerah,

“Melodi cinta yang kau mainkan sungguh ampuh suamiku. Dan memang

saat malam pertama dan malam-malam indah setelah itu adalah saat aku sedang

berada dalam masa subur. Allah telah mengatur sedemikian indahnya. Segala puji

bagi-Nya yang telah memberikan anugerahNya yang agung ini pada kita berdua.”

Aku tersenyum dan langsung mencium pipinya yang bersih. Aisha

menggeliat manja. Ia lalu mengangkat telpon memberi tahu bibinya, Sarah. Ia

juga memberi tahu Akbar Ali, pamannya di Turki. Aku melihat kalender. Tak

terasa kami telah hidup bersama sejak malam pertama itu selama satu bulan lebih.

Hari-hari indah selalu berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya aku baru sehari

bersama Aisha.

Untuk menghayati keagungan nikmat yang telah Tuhan berikan, kuajak

Aisha sujud syukur dan shalat dhuha. Kepadanya aku berpesan untuk tidak

banyak beraktifitas keluar rumah. Menjelang zhuhur aku bersiap untuk menjenguk

Maria yang sakit. Aisha kuminta di rumah. Dia pesan dibelikan buah pir dan

korma. Tiba-tiba ada orang membunyikan bel dengan kasar sekali. Aku bergegas

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

229

membuka pintu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang membunyikan bel

seperti orang gila itu. Begitu pintu kubuka. Tiga orang polisi berbadan kekar

menerobos masuk tanpa permisi dan menghardik,

“Kau yang bernama Fahri Abdullah?!”

“Ya benar, ada apa?”

“Kami mendapatkan perintah untuk menangkapmu dan menyeretmu ke

penjara, ya Mugrim!”109 bentak polisi yang berkumis tebal.

“Kalian bawa surat penangkapan dan apa kesalahanku?”

“Ini suratnya, dan kesalahanmu lihat saja nanti di pengadilan!”

Aku membaca selembar kertas itu. Aku ditangkap atas tuduhan

memperkosa. Bagaimana ini bisa terjadi.

“Ini tidak mungkin! Ini pasti ada kesalahan. Saya tidak mau ditangkap!”

bantahku.

“Jangan macam-macam, atau kami gunakan kekerasan!” bentak polisi

Mesir. Aku sangat geram pada sikapnya yang sangat jauh dari sopan dan kelihatan

sangat angkut. Aisha cemas dan memegangi tanganku. Polisi Mesir itu berkatakata

dengan suara keras seperti anjing menyalak.

“Ayo ikut kami!” tegas polisi kurus hitam sambil memegang erat-erat

tangan kananku. Aku menarik tanganku tapi polisi hitam mencengkeramnya kuatkuat

dan memasang borgol. Tangan kiriku dipegang Aisha, dia menangis.

“Ada apa ini Fahri, ada apa!?” tanya Aisha dengan muka pucat.

Polisi berkumis menarik tangan kiriku dari pegangan Aisha dan memaksa

memborgolku.

“Sebentar Kapten biarkan aku sedikit bicara pada isteriku!?” ucapku

dengan suara tegas.

“Boleh. Dua menit saja!” kata Si Kumis.

Aku lalu menjelaskan pada Aisha, hal seperti ini sering terjadi di Mesir.

Polisi Mesir tidak memakai azas praduga tak bersalah. Tapi praduga bersalah. Jika

dicurigai langsung ditangkap akan dibebaskan kalau terbukti tidak bersalah. Aku

berpesan pada Aisha untuk bersabar dan langsung menghubungi Paman Eqbal,

teman-teman PPMI, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Surat

109 Wahai penjahat.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

230

penangkapannya kuminta untuk aku berikan kepada Aisha. Tujuanku agar nanti

mudah dilacak keberadaanku. Tapi polisi itu tidak memperbolehkannya. Aku pun

pasrah digelandang tiga polisi itu. Kulihat Aisha terisak-isak. Aku dibawa turun

melalui lift. Di halaman mobil kerangkeng besi menungguku. Sebelum masuk

mobil kerangkeng aku sempat mendongakkan kepala ke arah jendela flat lantai 7.

Di sana kulihat wajah Aisha yang basah air mata. Aku tidak tahu akan dibawa ke

mana. Dalam beberapa jam saja kegembiraan yang aku rasakan berubah menjadi

kesedihan dan kecemasan. Kota Cairo yang indah tiba-tiba terasa seperti sarang

monster yang menakutkan.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Dalam Penjara Bawah Tanah)

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

231

23. Dalam Penjara Bawah Tanah

Aku dibawa ke markas polisi Abbasea. Diseret seperti anjing kurap. Lalu

diinterogasi habis-habisan, dibentak-bentak, dimaki-maki dan disumpahserapahi

dengan kata-kata kotor. Dianggap tak ubahnya makhluk najis yang menjijikkan.

Tuduhan yang dialamatkan kepadaku sangat menyakitkan: memperkosa seorang

gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan.

“Orang Indonesia kau sungguh anak haram. Saat mengandung dirimu,

ibumu makan apa heh? Makan bangkai anjing ya? Kau pura-pura menolong gadis

malang itu ternyata kau menerkamnya. Kau berani menginjak-injak kehormatan

perempuan kami. Kau ini mahasiswa Al Azhar, katanya belajar agama, ternyata

manusia bejat berwatak serigala!” Seorang polisi hitam besar membentakku lalu

menampar mukaku dengan seluruh kekuatan tangannya. Kurasakan darah

mengalir dari hidungku.

“Akui saja, kau yang memperkosa gadis bernama Noura yang jadi

tetanggamu di Hadayek Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8

Agustus yang lalu? Akui saja, atau kami paksa kau untuk mengaku! Jika kau

mengakuinya maka urusannya akan cepat.”

Kata-kata polisi itu membuatku kaget bukan main. Noura hamil dan aku

yang dituduh memperkosanya. Sungguh celaka!

Dengan tetap berusaha berkepala dingin aku mencoba menjelaskan kepada

mereka itu adalah sebuah tuduhan keji. Lalu kujelaskan semua kronologis

kejadian malam itu. Sejak mendengar jeritan Noura disiksa ayah dan kakaknya

sampai paginya dititipkan ke rumah Nurul. Tapi penjelasanku dianggap seolah

suara keledai. Mereka malah tertawa. Dan menjadikan aku bulan-bulanan oleh

hinaan, makian dan tamparan yang membuat bibirku pecah.

“Kami memiliki bukti kuat kaulah pemerkosa gadis malang itu. Dia sangat

menyesal mengikuti bujuk rayumu. Dia telah menceritakan semuanya. Dan dia

juga punya saksi kau melakukan perbuatan terkutuk yang merusak masa depannya

itu. Kau sudah tahu bahwa hukuman pemerkosa di negara ini adalah hukuman

gantung. Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Mengakui perbuatanmu itu,

dan kau mungkin akan mendapat keringanan atas kerja samamu. Sehingga kau

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

232

mungkin tidak akan dihukum gantung. Atau kau tetap bersikeras mengingkarinya

dan terpaksa nanti pengadilan akan menggantungmu. Pilih mana?” Polisi hitam

besar kembali menggertak. Hatiku sempat ciut. Aku teringat ulama-ulama yang

mengalami nasib tragis di tangan para algojo negara ini. Apa pun jalannya,

kematian itu satu yaitu mati. Allah sudah menentukan ajal seseorang. Tak akan

dimajukan dan dimundurkan. Maka tak ada gunanya bersikap lemah dan takut

menghadapi kematian. Dan aku tidak mau mati dalam keadaan mengakui

perbuatan biadab yang memang tidak pernah aku lakukan.

“Kapten, aku memilih membuktikan di pengadilan bahwa aku tidak

bersalah. Aku yakin negara ini punya undang-undang dan hukum. Aku minta

disediakan pengacara!”

“Tindakan bodoh! Di pengadilan kau akan kalah! Kau akan dihukum

gantung! Lebih dari itu kau akan masuk surat kabar! Kau akan diteriaki orangorang

sebagai pemerkosa! Kenapa kau tidak memilih mengakuinya dan kita tutup

kasus ini diam-diam. Kita buat kesepakatan-kesepakatan dengan keluarga Noura

sekarang. Kalau mereka memaafkan kau mungkin akan bernasib lebih baik.Kami

masih sedikit berbelas kasihan padamu karena kau orang asing. Kalau kau orang

Mesir sudah kami binasakan!” bentak polisi hitam dengan mata melotot.

“Aku bukan pelaku pemerkosaan itu Kapten! Aku akan buktikan bahwa

aku tidak bersalah!” tegasku.

“Baiklah aku akan memberimu waktu berpikir dua hari. Jika kau tetap

bersikeras tidak mau mengaku dan mengambil jalan kompromi maka terpaksa kau

kami seret ke meja hijau dan jangan salahkan kami jika nasibmu berakhir di tiang

gantungan dan namamu dilaknat semua orang!”

“Yang berhak melaknat hanya Allah. Dan hanya Allahlah yang tahu

segalanya. Aku tidak akan takut dengan caci maki manusia selama aku merasa

berada di jalan yang benar!”

“Hahaha…kau ini sok pintar! Jalan benar apa? Apa memperkosa itu jalan

yang benar? Kau ini sudah selesai S.1. di Al Azhar. Gadis-gadis Indonesia saja

banyak kenapa ketika itu kau tidak memilih menikah dengan salah satu dari

mereka. Kenapa kau malah memilih memperkosa gadis malang itu dengan purapura

mau menolong? Dan itu kau anggap jalan yang benar? Dasar anak anjing!

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

233

Dasar anak pelacur!” Polisi hitam itu mengumpat-umpat kasar. Entah kenapa

mendengar kalimat umpatan terakhir darahku mendidih.

“Kau yang anak anjing! Wajahmu hitam penuh dosa! Kau yang anak

pelacur! Yakhrab baitak!” balasku mengumpat dengan sama kasarnya. Wajah

polisi itu semakin gosong. Giginya gemerutuk seperti monster mau menelanku. Ia

pun melayangkan tangan kanannya ke mukaku.

“Bawa dia ke penjara dan cambuk sepuluh kali atas penghinaannya

padaku!” Perintahnya pada tiga anak buahnya yang tadi menangkapku. Tiga polisi

itu lalu menggelandangku ke penjara. Inilah untuk pertama kalinya aku masuk

penjara. Kami melewati sel-sel yang berisi tahanan yang semuanya orang Mesir.

Mereka semua terheran-heran melihat kehadiranku. Tiga polisi itu terus

menggelandangku hingga sampai disebuah ruangan kosong. Ada sebuah kursi

kayu kusam dan didindingnya tergantung beberapa alat penyiksa. Cambuk.

Pentungan dari karet. Ganco. Tali. Dan lain sebagainya.

Polisi gendut melepas pakaianku. Lalu menyuruhku berdiri menghadap

tembok. Setelah itu aku merasakan sabetan cambuk yang perih di punggungku.

Tidak sepuluh kali tapi lima belas kali. Aku merasakan sakit luar biasa. Mereka

lalu melepas borgolku dan menyeretku ke sebuah ruangan, melucuti semua

pakaianku kecuali pakaian dalam. Juga sepatuku. Dalam keadaan hanya memakai

celana dalam mereka menggunduliku. Lalu melempar seragam tahanan ke arahku.

Cepat-cepat aku menutup aurat. Si Kumis menyuruh aku berdiri tegap dengan

tangan diletakkan dibelakang punggung. Si Hitam memegang kedua tanganku

yang kulipat dibelakang punggung kuat-kuat. Sementara Si Gendut mengikat

kedua kakiku. Lalu dengan sangat kurang ajar Si Kumis mempermainkan

kemaluanku. Aku menjerit-jerit dan meronta-ronta. Meludahi Si Kumis. Tapi

mereka terus saja terbahak-bahak seperti setan. “Ini yang digunakan untuk

memperkosa itu oh..oh..oh! Burung kakak tua..hehehe..kecil sekali tak ada apaapanya

dengan milikku…hehehe..tapi berani kurang ajar ya hehehe..hahaha!”

Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Aku merasakan

penghinaan yang luar biasa. Aku belum pernah merasakan diriku dihina dan

kehormatanku dinistakan senista itu. Aku lebih suka dirajam daripada dihina

seperti itu. Jika aku sampai terlihat mengucurkan air mata, maka ketiga setan itu

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

234

akan semakin gila tertawanya. Aku merintih dalam hati. Batinku menangis sejadijadinya

memohon keadilan kepada Allah. Agar mereka diganjar atas

kekurangajaran mereka. Aku terus menjadi bulan-bulanan mereka sampai aku

tidak sadarkan diri.

* * *

Ketika sadar, aku berada di sebuah kamar gelap dan pengap.

Alhamdulillah, kau sudah sadar.” Suara orang yang kurasa sangat tua. Di

keremangan cahaya buram lampu di luar kamar yang masuk melalui jeruji pintu

sel aku bisa menangkap wajah orang tua berjenggot putih duduk di dekatku.lalu

empat orang lainnya. Dua setengah baya dan dua lainnya muda. Mereka semua

memakai pakaian tahanan yang lusuh.

“Kelihatannya kau bukan orang Mesir?” tanya kakek tua ramah. Aku

sedikit tenang mendengar suaranya yang lembut. Tapi aku kuatir dengan yang

empat, kalau mereka orang-orang yang jahat aku bisa jadi bulan-bulanan di

penjara ini. Aku pernah mendengar adanya hukum rimba di dalam penjara.

Apalagi aku asing sendiri di sini.

“Dari Indonesia.”

“Siapa namamu?”

“Fahri Abdullah Shiddiq.”

“Nama yang bagus. Namaku Abdur Rauf.”

“Apa yang kau lakukan di Mesir?”

“Hanya belajar.”

“Di mana?”

“Di Al Azhar.”

Masya Allah. Lantas bagaimana ceritanya kau bisa masuk penjara ini?”

“Musibah ini datang begitu saja. Aku dituduh memperkosa gadis Mesir,

padahal aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Bagaimana mungkin aku

akan melakukannya padahal aku memiliki seorang ibu, bibi, isteri dan nanti

mungkin seorang anak perempuan. Aku terkadang tidak bisa memahami sistem

yang berlaku di negara ini?”

“Di mana kau ditangkap?”

“Di rumah.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

235

“Nasibmu masih lebih bagus dariku Anak muda. Aku ditangkap disaat

sedang menguji tesis magister di universitas. Di depan sekian banyak orang aku

diperlakukan seperti tikus.”

“Jadi Anda seorang guru besar?”

Pemuda berwajah putih yang sejak tadi mematung di pojok ruangan

menyahut sambil mendekat, “Beliau adalah Prof. Dr. Abdur Rauf Manshour,

guru besar ekonomi pembangunan di Universitas El-Menya. Beliau kemungkinan

ditangkap karena kritik-kritik tajamnya di koran! Oh ya perkenalkan namaku

Ismail, mahasiswa kedokteran tahun ketiga Universitas Ains Syam, ditangkap

karena memimpin demonstrasi di dalam kampus mengutuk tindakan Ariel Sharon

menginjak-injak Masjidil Aqsha dan perlakuan kejam tentara Israel pada anakanak

Palestina terutama penembakan Muhammad Al Dorrah dua tahun lalu.”

“Jadi kau sudah dua tahun mendekam di sini?”

“Ya.”

“Dan hanya karena memimpin demonstrasi di dalam kampus?”

“Ya.”

“Aku lebih tragis lagi!” Pemuda yang satunya menyahut, “aku tidak

melakukan apa-apa juga ditangkap. Kau tentu tahu demonstrasi di masjid Al

Azhar usai shalat Jum’at satu tahun yang lalu yang menentang agresi Amerika ke

Afganistan. Demonstrasi itu tidak besar. Bisa dikatakan bukan demonstrasi malah.

Lebih tepat dikatakan protes. Ketika orang-orang bertakbir aku ikut bertakbir.

Hanya itu. Keluar masjid aku ditangkap dan mendekam di sini sampai sekarang.

Kenalkan namaku Ahmad biasa dipanggil Hamada. Aku tidak kuliah, lulus SLTA

langsung bekerja di penerbit Muassasa Resala.”

“Muassasa Resala di dekat Abidin Attaba itu?” tanyaku.

“Benar.”

Kami lalu berbincang banyak dan saling mengenal satu sama lain. Dua

lelaki setengah baya bernama Haj Rashed, dia kepala sekolah SD dan imam

sebuah masjid kecil di Mathariyah. Ditangkap dua bulan lalu karena khutbah

Jum’atnya yang pedas. Yang satunya bernama Marwan, mantan pegawai jawatan

kereta api, dipenjara sejak setengah tahun lalu karena membunuh tetangganya

yang menggoda isterinya.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

236

“Aku ini orang paling besar cemburunya di dunia. Sebenarnya aku sudah

bersabar dan beberapa memberi peringatan pada pria kurang ajar itu. Tapi dia

sungguh keterlaluan. Rumah kami dua tingkat di atasnya. Suatu ketika isteriku

belanja, ketika pulang satu lift dengannya. Di dalam lift itulah dia menggerayangi

isteriku. Isteriku lapor padaku. Seketika itu juga kudatangi dia dan kupancung dia.

Dia keliru kalau menganggap diriku tidak bisa berbuat sesuatu. Seandainya

dengan perbuatanku ini aku akan dihukum mati aku akan menerimanya dengan

senang hati. Aku merasa puas karena aku telah membela kehormatan isteriku.”

Cerita Marwan langsung mengingatkan diriku pada Aisha. Oh Aisha, dia

tentu sangat sedih sekarang. Dia sendirian di flat memikirkan nasibku dengan

penuh kecemasan. Aku menitikkan air mata dan berdoa kepada Allah agar

memberikan ketabahan pada Aisha dan agar melindunginya dari segala mara

bahaya.

“Orang Indonesia, siapkanlah mentalmu! Kau akan menghadapi hari-hari

yang mencekam. Hari-hari yang tidak kau ketahui apakah kau masih hidup atau

telah mati. Kamar kita ini hanya berukuran tiga kali tiga. Kau lihat aku berdiri di

atas genangan Air. Padahal sekarang sudah mulai masuk musim dingin. Setengah

ruangan ini tergenang air. Kau kini duduk dibagian yang kering. Selama ini kita

tidur bergantian. Terkadang tidur sambil berdiri. Kita diberi kesempatan ke WC

dan kamar mandi sehari sekali menjelang shubuh. Itupun dalam antrean yang

panjang dan terkadang kita sama sekali tidak punya kesempatan ke WC karena

waktu yang diberikan telah habis. Siapkanlah mentalmu!” kata Professor Abdul

Rauf.

“Gelap dan pengap. Apakah kita berada di bawah tanah?” tanyaku.

“Benar! Oh ya, tadi kau pingsan cukup lama. Kelihatannya kau belum

shalat ashar,” jawab Professor Abdul Rauf.

Astaghfirullah. Pukul berapa sekarang?” tanyaku.

“Pastinya tidak tahu, tapi sebentar lagi maghrib datang.”

“Tayammum?”

“Ya.”

Aku lalu tayammum dan shalat. Selesai shalat Professor Abdul Rauf

memimpin kami membaca doa dan dzikir sore hari. Ditutup doa rabithah yang

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

237

dibaca oleh Haj Rashed. Tak lama setelah itu azan maghrib berkumandang. Adil

bergumam lirih,

“Ya Allah, inilah saat malam-Mu datang menjelang, dan siang-Mu telah

berlalu, dan inilah suara dari para penyeru-Mu maka ampunilah kami.”

Karena tempat yang sempit kami tidak bisa berjamaah sekaligus. Terpaksa

dibagi dua jamaah bergantian. Aku diminta menjadi imam jamaah kedua, dengan

alasan aku satu-satunya yang dari Al Azhar. Aku membaca surat Yusuf, ayat-ayat

yang menceritakan nabi mulia itu dipenjara di Mesir karena tuduhan Zulaikha.

Sungguh nasibku tak jauh berbeda dengan Yusuf. Noura mengaku aku telah

memperkosanya. Aku menangis dalam shalat.

“Bacaan Al-Qur’anmu indah dan tartil, di mana kau talaqqi?” tanya Haj

Rashed

“Di Shubra. Pada Syaikh Ustman Abdul Fattah.”

“Yang di masjid Abu Bakar itu?”

“Benar.”

“Pantas. Besok malam sudah mulai tarawih. Kau saja imamnya ya?”

Pertanyaannya kembali mengigatkan aku pada Aisha. Dia akan menjalani

Ramadhan sendirian dengan hati sedih. Rencana umrah ke tanah suci dan berhari

raya di Indonesia tidak jadi. Oh begitu cepat perubahan terjadi. Kemarin malam

aku masih tidur nyaman di hotel berbintang di Alexandria bercinta dengan Aisha

begitu mesranya. Malam ini aku meringkuk kedinginan di penjara bawah tanah.

Aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Seluruh tulang terasa ngilu, kulit

kedinginan, punggung perih bukan main, dan kemaluan sakit luar biasa. Bayangbayang

kematian mengintai di semua sudut ruangan, tapi aku bersikeras untuk

bertahan.

Keesokan harinya terdengar langkah sepatu bot. Lalu suara orang

membentak sambil menggedor pintu sel, “Tahanan nomor 879!”

Tak ada yang menjawab. Semua diam. Ismail dan Haj Rashed

berpandangan.

“Hai tahanan 879! Anjing! Dungu ya?” Sipir penjara itu marah sekali.

Ismail menepuk pundakku. “Coba lihat nomormu!” Pelannya. Ia lalu

mendekatkan matanya ke dadaku. Dalam keremangan gelap tertulis di sana nomor

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

238

879. Berarti aku yang dimaksud. Aku lalu beranjak menuju pintu yang telah

dibuka. Sipir itu langsung menarikku dengan kasar dan menendangku, “Dungu

kau!”

Aku kembali dibawa ke ruang interogasi. Polisi hitam besar yang kemarin

mengintrogasiku telah menunggu dengan segelas teh kental di tangan kanannya.

Begitu aku masuk ia tersenyum sinis. Dua orang polisi yang kemarin

menangkapku juga ada di situ. Si Hitam dan Si Gendut. Aku tidak melihat Si

Kumis yang kurang ajar itu.

“Bagaimana orang Indonesia? Kau mau mengakui perbuatanmu? Aku

berjanji akan mengusahakan keringanan hukumannya?” tanyanya.

“Aku tidak berubah pikiran. Aku tidak melakukan perbuatan dosa itu.

Bagaimana mungkin aku akan mengakuinya. Aku akan buktikan bahwa aku tidak

bersalah!” jawabku tegas.

“Semua penjahat selalu berkata begitu. Kau sungguh bodoh! Jika kau

sampai ke meja hijau kau akan kalah. Bukti kau bersalah sangat kuat! Kau akan

digantung! Kau masih punya kesempatan satu hari untuk berpikir. Sipir beri dia

sedikit sarapan pagi biar pikirannya cerah!”

Dua anak buahnya itu lalu membawaku ke ruangan penyiksaan. Aku

disuruh berdiri tegak. Si hitam mengangkat kursi kayu, dua kaki belakang kursi

itu diletakkan diatas telapak kakiku. Dan Si Polisi Gendut lalu menduduki kursi

itu. Terang saja aku menjerit kesakitan. Telapak kakiku terasa remuk tulangtulangnya.

Dan ketika aku menjerit Si Hitam menjejalkan roti keras ke mulutku

hingga menyodok tenggorokanku. Aku mau muntah tapi raoti kering itu tetap

dijejalkan ke mulutku. Ketika aku sudah tidak tahan dan nyaris pingsan ia

menarik roti itu dan si gendut bangkit dari kursi itu. Aku dibiarkan istirahat

sebentar, lalu disuruh menghadap ke dinding dan dicambuk lima kali. Belum juga

puas, mereka lalu menyodok perutku yang masih kosong dengan popor bedil tiga

kali sampai aku muntah. Rupanya itu yang dimaksud dengan sedikit sarapan pagi.

Dengan tubuh lemas aku diseret dan dilempar kembali di sel bawah tanah. Dan

aku jatuh tertelungkup di dalam sel tak sadarkan diri.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Tangis Aisha)

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

239

24. Tangis Aisha

Yang kulihat pertama kali adalah wajah Ismail ketika aku bangun.

Kepalaku ada di atas pahanya. Ia tersenyum padaku. Aku merasa haus sekali.

Sejak kemarin tenggorokanku belum terkena setetes air sama sekali.

“Aku haus sekali,” lirihku sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhku.

“Hamada, ambilkan susu itu!” Kata Professor Abdul Rauf.

Hamada mengambil botol berisi susu dan meminumkan padaku. Aku

menenggak tiga teguk. “Sudah,” kataku.

“Minumlah lagi, biar tubuhmu segar!” paksa Ismail.

Aku menenggak tiga teguk lagi. “Sudah!” kataku.

“Apa yang mereka perlakukan terhadapmu?”

Dengan suara terbata aku menceritakan semua bentuk penyiksaan yang

aku terima sejak kemarin sampai tadi pagi. Juga perlakuan mereka yang keji atas

kemaluanku.

“Mereka sungguh biadab!” geram Ismail mendengar ceritaku.

“Mereka memang sangat biadab. Lebih biadab dari Iblis! Dan apa kau

terima masih belum seberapa dibandingkan para ulama yang disiksa habis-habisan

tahun enam puluhan. Bahkan ada dua orang ulama yang ditelanjangi dan dipaksa

melakukan perbuatan kaum nabi Luth. Tentu saja mereka tidak mau melakukan

perbuatan terkutuk itu. Akhirnya mereka berdua mati syahid jadi santapan anjing

ganas yang lapar.” Kisah Professor Abdul Rauf dengan suara bergetar.

Aku bergidik mendengarnya. Perlakuan mereka yang keji padaku

terbayang kembali. Membuat hatiku perih dan sakit sekali. Aku tak bisa

membayangkan sakitnya seorang perempuan diperkosa. Kehormatannya dinodai.

Betapa sakitnya mereka. Gilanya aku dituduh melakukan perbuatan bejat yang

menyakitkan perempuan itu. Perbuatan yang sangat kubenci dan kukutuk, tidak

mungkin aku lakukan. Rasa gilu dan sakit bergumul dalam hati bercampur marah,

bertumpuk-tumpuk, mendera-dera, menyesak-nyesak dalam dada.

“Sudahlah kita makan dulu. Alhamdulillah, ada sedikit rizki dari Allah

Swt.!” kata Professor Abdul Rauf.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

240

Haj Rashed mengambil bungkusan dari pojok ruangan. Tiga roti isy yang

empuk dan lebar, satu ayam panggang digelar dan satu plastik apel. Aku bangkit

duduk perlahan.

“Apakah semewah ini jatah dari penjara?” tanyaku.

“Tak lama lagi kau akan tahu seperti apa jatah penjara,” sahut Hamada.

“Lebih kayak untuk santapan binatang!” tukas Marwan.

Haj Rashed berkata:

“Yang kita makan ini adalah kiriman dari isteri Professor Abdul Rauf.

Untuk bisa memasukkan makanan ini ke penjara dia harus membayar seratus

pound kepada petugas. Kirimannya juga dirampas setengahnya. Aslinya adalah

dua botol susu, enam lembar roti Isy, dua buah ayam bakar dan dua kilo apel. Tapi

para sipir itu minta separo bagian. Tidak setiap saat keluarga kami boleh

mengirim makanan. Satu bulan hanya diizinkan dua kali saja. Makanan ini sudah

datang sejak tadi pagi. Beberapa menit setelah kamu dibawa keluar. Kami tidak

mungkin makan tanpa menunggumu. Kami yakin kau pasti sudah lapar. Wajahmu

sedemikian pucatnya. Rasulullah tidak mengizinkan perut kita kenyang sementara

orang terdekat kita kelaparan.”

Penjelasan Haj Rashed membuat diriku terharu. Bahwa diriku berada di

tengah-tengah orang baik. Mereka begitu perhatian padaku. Kami pun makan

bersama penuh nikmat dengan diselimuti rasa persaudaraan yang kuat. Setelah

makan dan minum beberapa teguk susu tubuhku terasa memiliki kekuatan

kembali.

Tak lama setelah itu seorang sipir menggedor pintu dan dari jeruji atas ia

melemparkan enam roti isy kering. Ia melempar roti itu seperti melempar

makanan pada anjing. Isy itu melayang bertebaran. Ada yang mengenai muka

Professor. Ada yang jatuh di kaki Ismail dan ada yang masuk air yang

menggenang di sebagian lantai.

“Ini jubnahnya!”110 teriak sipir itu melempar bungkusan hitam.

Ismail memunguti isy itu dan mengumpulkannya. Yang jatuh ke genangan

air ia pisahkan. Ia mengambil selembar Isya yang sudah kering itu serta

bungkusan hitam dan menyerahkannya padaku.

110 Jubnah: keju putih seperti tahu.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

241

“Inilah jatahnya. Sehari sekali. Coba kau lihat!” ujarnya padaku.

Aku pegang isy itu. Kering dan kaku. Kubuka plastik hitam, baunya sudah

tidak karuan.

“Tapi kita tetap harus menerimanya dengan sabar. Yang jatuh ke dalam

genangan air kotor itu pun suatu ketika ada gunanya. Dahulu baginda nabi dan

para sahabat pernah sampai makan rerumputan dan akar pepohonan,” lanjut

Ismail.

Kembali aku teringat hari-hari indah bersama Aisha. Makan tidak pernah

kurang. Selama di Alexandria selalu di restoran hotel. Semua enak dan penuh gizi.

Dan tiba-tiba kini aku harus siap dengan makanan yang layaknya untuk tikus dan

kecoa. Aku masih merasakan Allah Maha Pemurah, makan pertama di penjara

adalah ayam panggang lengkap dengan sebutir apel merah yang segar.

Malam harinya kami tarawih. Kami mengatur sedemikian rupa agar kami

tetap bisa shalat tarawih berjamaah bersama. Haj Rashed minta satu juz dalam

delapan rakaat. Inilah untuk pertama kalinya aku jadi imam tarawih di Mesir. Dan

di dalam penjara. Setengah tiga kami bangun, tahajjud sebentar lalu sahur.

Apalagi yang kami makan kalau bukan jatah tadi siang. Aku hampir muntah tapi

kutahan-tahan. Kulihat Professor dan teman-teman lainnya makan dengan santai.

Di pojok ruangan ada ember plastik. Kami bergantian minum dari air yang ada di

ember itu.

“Kita beruntung minum dari ember. Di kamar paling pojok sana tempat

airnya adalah kaleng bekas yang sudah karatan,” kata Hamada.

Aku teringat Aisha, bagaimanakah dia sekarang. Apakah juga sedang

sahur, ataukah sedang menangis sendirian. Aku sangat merindukannya.

* * *

Sampai hari ketiga ditahan, belum juga ada yang menjengukku. Meskipun

diinterogasi dan dipaksa seperti apapun aku tetap bersikukuh tidak mau mengakui

dakwaan itu. Aku tetap memilih membuktikan tidak bersalah di pengadilan.

Pengadilan pertama akan digelar tiga hari lagi. Aku cemas. Aku perlu pengacara

dan saksi yang membelaku bahwa aku tidak bersalah. Teman-teman satu rumah di

Hadayek Helwan. Kelurga Tuan Boutros. Nurul dan teman-temannya. Dan Syaikh

Ahmad. Mereka bisa menjadi saksi. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

242

mereka. Isteriku, Aisha yang sangat kurindukan belum juga datang menjenguk.

KBRI atau PPMI belum juga tampak batang hidungnya. Aku sangat gelisah dan

sedih. Aku kuatir mereka tidak mau mengerti karena termakan oleh fitnah keji itu.

Aku takut Aisha tidak percaya padaku dan membenciku. Aku tak kuat memendam

semua kegekisahan dan kekuatiran ini. Akhirnya kuutarakan semuanya pada

Profesor Abdul Rauf dan teman-teman.

“Fahri, kau jangan kuatir. Aku yakin mereka semua sudah tahu dan sudah

bergerak. Cuma memang pihak kepolisian yang sengaja mengulur waktu agar kau

tidak segera bisa bertemu dengan mereka. Dulu, waktu aku ditangkap, satu bulan

keluargaku mencariku ingin bertemu tapi tidak bisa. Baru bulan kedua mereka

menemukanku. Isterimu mungkin sekarang sedang pontang-panting dipermainkan

para polisi tidak bertanggung jawab itu. Mungkin sudah sampai di kantor penjara

ini. Tapi pihak keamanan akan bilang sudah dipindah ke Tahrir. Nanti yang Tahrir

akan bilang dipindah ke Nasr City. Dan seterusnya. Begini saja nanti ibuku mau

menjengukku. Berikanlah nomor handphone isterimu, biar ibuku memberitahu dia

bahwa kau ada dipenjara ini,” kata Ismail memberi saran. Untung aku ingat nomor

handphone Aisha. Aku beritahu nomor itu pada Ismail sampai dia hafal betul. Dan

nanti ibunya akan menghafal nomor itu. Jika satu angka saja salah maka nasibku

akan semakin buruk.

* * *

Hari keempat.

Setelah menerima sarapan pagi dari sipir penjara berupa cambukan,

pukulan dan tamparan aku mendapat panggilan. Seorang sipir menggelandangku

dengan tergesa-gesa ke balai pengobatan penjara. Seorang dokter militer dan dua

perawat membersihkan muka dan beberapa bagian tubuhku yang luka.

Penampilanku mereka perbaiki sedemikian rupa. Lalu aku diajak ke sebuah

ruangan. Di sana ada tiga sosok menungguku, Paman Eqbal, Magdi penjaga

apartemen kami dan seorang perempuan bercadar yang aku yakin dia adalah

Aisha. Begitu melihat sosokku perempuan bercadar itu berhambur ke arahku. Ia

memelukku erat-erat sambil menangis. Aku pun menangis. Ia menatapku dalamdalam

dan meraba wajahku dengan kedua tangannya yang halus.

“Bagaimana keadaanmu, Fahri, Suamiku?”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

243

“Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”

Aisha menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. “Apa dosa kita berdua

Fahri sampai kita harus menanggung cobaan seberat ini. Aku nyaris kehilangan

sesuatu yang paling berharga yang aku miliki kalau seandainya tidak diselamatkan

oleh Magdi. Kau harus berterima kasih padanya. Dia telah menyelamatkan

kesucian isterimu ini Fahri.” Aisha berkata sambil terisak-isak.

“Apa sebenarnya yang terjadi setelah hari itu?” tanyaku penasaran.

“Aku tak sanggup menceritakannya. Tanyakanlah pada Magdi?” jawab

Aisha dengan tetap memeluk erat diriku.

Kami lalu duduk. Kutanyakan apa yang terjadi pada Aisha pada Magdi.

Dengan tenang Magdi, polisi yang sering kujumpai shalat berjamaah di masjid

dekat apartemen itu bercerita:

“Sebelumnya maafkan diriku, aku tidak bisa membantumu saat kau

ditangkap. Karena mereka membawa surat penangkapan lengkap. Meskipun aku

secara pribadi tidak yakin akan kebenaran tuduhan yang digunakan sebagai alasan

penangkapanmu. Dan anggapanku ini agaknya benar. Satu hari setelah kau

ditangkap, sekitar jam sepuluh pagi polisi berkumis yang ikut menangkapmu itu

kembali datang. Ia minta izin mau bertanya sedikit pada Madame Aisha, isterimu.

Aku menanyakan surat izinnya. Dia bilang tidak bawa tapi ini tugas penting yang

harus dikerjakannya. Dia hanya akan bertanya beberapa hal pada Aisha,

membutuhkan waktu tak lebih dari sepuluh menit saja. Akhirnya kuizinkan dia

naik. Namun aku dan Hosam punya firasat tidak baik dan curiga dengan tindaktanduknya.

Diam-diam kami naik juga ke atas membuntutinya memakai lift

satunya. Sampai di lantai 7 kami kaget oleh teriakan Madame Aisha. Kami berdua

langsung mendobrak pintu sekuat tenaga. Dan kami melihat Si Kumis sedang

mengejar Madame Aisha di ruang tamu hendak memperkosanya. Seketika itu juga

dia kami bekuk!”

Darahku mendidih, aku nyaris tidak bisa menguasai amarahku mendengar

cerita Magdi.

“Kurang ajar! Akan kucari dan kubunuh keparat itu!” teriakku dengan

mengepalkan tangan kuat-kuat. Bagiku kehormatan isteriku adalah segalagalanya,

jauh diatas kehormatan diriku sendiri. Kesucian isteriku sama dengan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

244

kesucian kitab suci, tidak boleh ada seorang pun yang menodainya apalagi

menginjak-injaknya. Kesucian isteriku adalah nyawaku. Ketika ada orang yang

berusaha menjamah kesuciannya maka nyawaku akan kupertaruhkan untuk

membelanya. Seandainya aku punya seribu nyawa akan aku korbankan semuanya

untuk menjaga kesucian isteriku tercinta. Mati seribu kali lebih ringan bagiku

daripada ada orang yang menjamah kesuciannya. Malaikat maut pun akan aku

hajar jika dia mencoba-coba menodainya. Aku rela dijuluki apa saja untuk

membela kesucian isteriku tercinta.

Insya Allah, kau tidak akan lagi bertemu dengannya!” kata Magdi sambil

tersenyum.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Dia sedang diproses ke tiang gantungan. Dia terlalu bodoh. Dia salah

perhitungan. Dia mengira isterimu adalah orang Indonesia. Dan kau tentu tahu

banyak perempuan Indonesia diperkosa di mana-mana, di Saudi, di Singapura, di

Malaysia, di Hongkong, di Taiwan, juga beberapa kali di Mesir dan para

pemerkosanya tidak tersentuh hukum sama sekali. Diplomasi Indonesia sangat

lemah. Si Kumis itu beranggapan begitu. Dia merasa perbuatannya akan amanaman

saja sebab yang akan ia perkosa adalah perempuan Indonesia. Dia

menganggap kami berdua seperti penjaga apartemen biasa yang tidak akan berani

mengusiknya. Tapi dia keliru. Kami tidak akan membiarkan siapa pun berbuat

jahat di apartemen yang kami jaga. Dia langsung kami bekuk begitu tertangkap

basah hendak melakukan perbuatan jahat itu. Madame Aisha langsung mengontak

Mr. Minnich, Atase Politik Kedutaan Jerman. Kedutaan Jerman langsung

mengontak kementerian luar negeri meminta agar penjahat yang mencoba

menyakiti warganya ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku di Mesir yaitu

hukuman gantung. Si Kumis itu dalam tahanan kami masih bisa tertawa karena ia

yakin akan ada yang membebaskannya. Benar, lima jam setelah itu ada perintah

untuk membebaskannya. Namun belum sempat kami bebaskan sudah ada perintah

lagi untuk memprosesnya secara hukum. Yang kami tahu Jerman mengancam

akan mengopinikan di negaranya dan di Eropa bahwa Mesir tidak aman jika polisi

brengsek itu tidak ditindak tegas. Jerman juga mengancam akan membatalkan

beberapa kerjasama perdagangan dan perindustrian dengan Mesir. Menurut Mr.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

245

Minnich keselamatan seorang warganya sama dengan keselamatan presidennya.

Tak ada pilihan bagi pemerintah Mesir kecuali menindak tegas seorang oknum

tidak bertanggung jawab itu. Tapi setelah kami selidiki agaknya memang ada

skenario jahat yang ingin menghancurkan dirimu dan keluargamu, Fahri!” jawab

Magdi.

“Maksudmu?”

“Aku sudah bertemu Syaikh Ahmad. Beliau meyakinkan padaku bahwa

kau tidak mungkin melakukan hal itu. Selama tiga hari kemarin di samping

menangani kasus Si Kumis, aku dan Eqbal berusaha mencari di mana kau berada.

Si Kumis bilang di serahkan ke penjara Tahrir. Pihak Tahrir bilang sudah dibawa

ke Nasr City. Nasr City bilang sudah diambil Abbasea. Pihak Abbasea bilang

sudah dibawa lagi ke Tahrir. Ada orang yang cukup punya kuasa yang

mendalangi semua ini, kemungkinan dia seorang oknum dari Keamanan Negara,

sampai aku nyaris tidak berdaya dan para polisi itu juga takut memberikan

keterangan jelas mengenai keberadaanmu. Pihak Kedutaan Indonesia juga alot di

Tahrir. Untung tadi pagi Aisha mendapat telpon dari seorang perempuan yang

mengatakan anaknya satu sel denganmu. Dan kami langsung meluncur kemari.

Kasus Aisha sudah beres, kau tinggal menunggu kabar penjahat itu digantung.

Sekarang tinggal masalahmu. Masalah yang tidak mudah. Coba ceritakanlah

padaku bagaimana sebenarnya yang terjadi sampai kau dituduh memperkosa gadis

bernama Noura itu?”

Aku lalu menjelaskan semua yang terjadi malam itu, dimulai dari kabar

kelulusanku, makan ayam panggang di Sutuh bersama teman-teman, jeritan

Noura, minta tolong Maria, sampai menitipkan Noura pada Nurul di Masakin

Utsman. Juga aku ceritakan sepucuk surat cinta dan ucapan terima kasih dari

Noura.

“Di mana surat itu sekarang?”

“Aku berikan pada Syaikh Ahmad.”

Seorang polisi memberi tahu waktu berkunjung telah habis. Aisha

memberikan bungkusan berisi makanan. Dia mengajakku ke pojok ruangan. Di

sana dia membuka cadarnya sehingga aku bisa menatap wajahnya. Dia menangis

dan tampak sedih. Aku mencium pipinya. “Jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

246

dan kandunganmu, teruslah berdoa dan mendekatkan diri pada Allah agar semua

masalah ini dapat teratasi. Aku sangat mencintaimu, isteriku.”

Aisha terisak, “Aku juga sangat mencintaimu. Kau besarkanlah jiwamu

suamiku, aku berada disampingmu. Aku tidak akan termakan tuduhan jahat itu.

Aku yakin akan kesucianmu. Kalau seandainya kau mengizinkan aku ingin

dipenjara bersamamu agar aku bisa menyediakan sahur dan buka untukmu.”

“Kau jangan berpikir seperti itu. Kau tenangkanlah pikiranmu. Yakinlah

semuanya akan selesai dengan baik. Banyak orang baik yang akan membantu kita.

Sekarang yang harus kau prioritaskan adalah perhatianmu pada kandunganmu.

Sekarang kau tinggal di mana? Apa sendirian di Zamalek?”

“Tidak. Sejak kejadian itu aku tinggal bersama bibi Sarah dan paman

Eqbal.”

“Bagus. Kau akan lebih tenang di sana.”

Aisha kembali memasang cadarnya. Paman Eqbal dan Magdi mendekati

kami. Mereka pamitan. Aku merangkul paman Eqbal dan minta doanya. Juga

merangkul Magdi dan mengucapkan banyak terima kasih padanya. Mereka lalu

keluar. Aku beranjak mengambil bungkusan besar berisi makanan. Tiba-tiba

Magdi kembali.

“Sst..Fahri ceritakan padaku kau diinterogasi bagaimana?”

Aku menceritakan semuanya. Paksaan untuk mengakui perbuatan itu dan

aku bersikukuh tidak mau mengakuinya.

“Keputusan yang tepat sekali. Sebab jika kau mengaku dan

menandatangani berkas pengakuan maka sangat sulit diselamatkan. Aku dan

Eqbal akan mencari pengacara yang baik untukmu. Kapan sidangnya?”

“Tiga hari lagi.”

“Siksaan apa yang kau terima selama tiga hari ini?”

Aku menceritakan semuanya. Termasuk kekurangajaran Si Kumis

mempermainkan kemaluanku. Juga siksaan setiap pagi.

“Tapi kumohon kau jangan ceritakan siksaan-siksaan ini pada Aisha atau

paman Eqbal mereka akan sedih. Biarlah nanti kuceritakan sendiri setelah keluar

dari penjara ini.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

247

“Yang kau terima itu masih termasuk ringan. Jangan kuatir. Sakit hatimu

pada Si Kumis itu biar teman-temanku yang nanti membalasnya. Dia memang

polisi kurang ajar. Aku akan mencoba berbicara pada kepala penjara ini. Dan

makanan ini, jika dirampas sama sipir penjara nanti bilang. Terus ciri-ciri sipir itu

bagaimana? Aku akan mengurusnya. Sudah ya satu hari sebelum sidang, insya

Allah aku dan pengacara yang akan membelamu akan datang kemari. Aku pamit

dulu. Selamat beribadah oh ya ada salam dari Syaikh Abdurrahim Hasuna,

imam masjid kita. Beliau ikut berbela sungkawa atas musibah yang menimpamu

dan beliau akan ikut serta mendoakanmu.”

“Terima kasih atas segalanya Magdi, salam balik untuk beliau.”

Magdi pergi. Aku kembali ke sel. Aku beritahu mereka apa yang terjadi.

Mereka semua ikut senang dan berdoa semoga aku cepat bebas dari penjara ini.

Bisa kembali belajar dan pulang ke Indonesia mengamalkan ilmu yang kudapat di

bumi para nabi ini. Ismail membuka bungkusan besar yang kubawa. Ia heran

bagaimana aku bisa membawa makanan sebanyak itu. Kujelaskan semuanya.

Alhamdulillah, di dunia ini masih ada polisi baik seperti Magdi,” gumam

Ismail.

“Dia SLTA di ma’had Al Azhar Damanhur,” sahutku.

“Pantas.”

“Tapi Si Noura, gadis itu juga ma’had Al Azhar, kenapa dia bisa berbuat

sejahat itu?” heranku.

“Aku yakin itu bukan semata-mata kemauan Noura. Setidaknya ada

sesuatu yang menekannya. Puteriku yang nomor tiga juga di Al Azhar, dan dia

sangat jujur,” tukas Haj Rashed.

Belum puas kami berbincang terdengar langkah sepatu bot dan pintu kami

digedor.

“Tahanan 879!” teriaknya seperti anjing menyalak.

“Ya!” jawabku dengan suara keras.

“Ayo ikut!”

Aku dibawa ke ruang penerimaan tamu. Di sana sudah ada Staf Konsuler

KBRI dan Ketua PPMI. Keduanya memelukku erat-erat. Mereka berdua ingin

tahu sebenarnya apa yang terjadi denganku. Aku ceritakan kronologis

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

248

penangkapanku dan dakwaan yang dialamatkan kepadaku. Staf konsuler berjanji

akan membantu sekuat tenaga membebaskan aku dengan upaya diplomatis,

meskipun dengan nada yang agak pesimis,

“Tahun 1995 pernah ada mahasiswa kita yang mengalami nasib mirip

denganmu. Dia naik lift. Di dalam lift ada anak kecil Mesir. Entah kenapa anak

kecil itu menangis. Anak kecil itu melapor pada kedua orang tuanya takut pada

mahasiswa kita itu. Orang tuanya melapor pada polisi menuduh mahasiswa kita

mencoba mencabuli anaknya. Padahal mahasiswa kita tidak berbuat demikian, dia

hanya menyapanya dan mengajaknya bicara seperti kalau bertemu dengan anakanak

di Indonesia. Polisi lebih percaya pada pengaduan orang tua anak itu. Orang

Mesir jika sudah menyinggung kehormatan perempuan sangat sensitif. Menyiul

perempuan berjalan saja bisa ditangkap polisi jika perempuan itu merasa terhina

dan tidak terima. Akhirnya mahasiswa kita itu dipenjara beberapa bulan. Ia

dikeluarkan dari Al Azhar dan dideportasi. Ia tidak dihukum gantung karena

setelah divisum anak kecil itu memang tidak apa-apa. Bayangkan, hanya karena

mengajak bicara anak kecil di dalam lift, mahasiswa kita dipenjara. Dan pihak

KBRI tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mahasiswa kita itu harus keluar dari

Mesir. Sekarang ia belajar di Turki. Bahkan ikut membantu staf KBRI di sana.

Juga menjadi pemandu travel bagi orang Indonesia yang melancong ke Turki

yang biasanya satu paket dengan umrah. Di sana dia malah kaya dan makmur

sekarang. Untuk kasusmu ini, kita akan berusaha sekuat tenaga. Tapi kita tidak

bisa menjamin keberhasilannya.”

Kata-kata staf konsuler KBRI itu membuat hatiku ciut. Aku tiba-tiba ingin

jadi warga negara Amerika saja. Jika aku warga negara Amerika pasti polisi Mesir

tidak berani berbuat macam-macam. Menyentuh kulitku saja mereka tidak akan

berani apalagi mengancam hukuman gantung. Jika aku jadi warga negara

Amerika, mungkin seandainya benar-benar memperkosa pun, tetap selamat.

Sebab presiden Amerika akan ikut bicara membela warganya seperti ketika

Clinton membela warganya yang dicambuk di Singapura. Lain Amerika lain

Indonesia. Apa yang dibela oleh presiden Indonesia kalau bukan jabatan dan

perutnya sendiri? Mana mungkin dia mendengar rintihan dan rasa sakitku

dicambuk tiap pagi dan membeku kedinginan di bawah tanah dalam musim dingin

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

249

yang membuat tulang ngilu? Apalagi diriku yang jauh di Mesir. Sedangkan ribuan

gadis Indonesia dijual, dirobek-robek kehormatannya dan diperlakukan seperti

binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam sejarahnya ada

Presiden Indonesia membela rakyatnya? Kecuali Soekarno di zaman

mempertahankan kemerdekaan.

“Kalau kami, apa yang bisa kami bantu menurut Mas Fahri?” kata Ketua

PPMI.

Pertama, aku ingin dukungan seluruh teman-teman dari Indonesia. Demi

Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi, aku tidak

melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadaku itu. Aku ingin dukungan moral

dari teman-teman semua. Tolong disosialisasikan kisah yang sebenarnya. Orang

satu rumah denganku dan Nurul tahu akan hal itu. Jika nanti ada wartawan Mesir

mewawancarai tolong opinikan yang baik mengenai diriku, tolong! Juga temanteman

yang jadi koresponden media massa di tanah air tolong kisahkan yang

sebenarnya jangan yang malah menimbulkan interpretasi yang macam-macam.

Kedua, kepada PPMI dan KBRI mohon kerjasama dengan pengacaraku nanti.

Sekarang isteriku dan seorang polisi Mesir yang baik sedang mencari pengacara

untuk membelaku. Tolong bantu mereka. Ketiga, mohon doa teman-teman

Indonesia semuanya, ketika sahur, ketika tarawih, ketika shalat malam. Doakan

aku selamat dari ujian berat ini. Itu saja harapanku saat ini.” Jelasku dengan

sedikit terisak, sebab masalah yang aku hadapi sangat serius. Nyawaku sedang

terancam. Staf KBRI dan Ketua PPMI berjanji akan memenuhi keinginanku itu.

Aku mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka. Mereka minta maaf

terlambat tapi itu karena pihak kepolisian Mesir yang membuat urusan berbelitbelit.

Sesedih apapun, kunjungan KBRI dan PPMI menambah kekuatan dalam

diri. Kedatangan mereka berdua seolah berisi dorongan moral dari seluruh

saudara setanah air di Indonesia. Di negeri orang, orang satu tanah air yang

berlainan pulaupun menjadi seperti saudara sendiri. Apalagi yang satu pulau. Satu

propinsi. Satu kabupaten. Satu kecamatan. Aku merasa diperhatikan oleh dua ribu

lima ratus lebih mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Rasa cintaku pada

mereka semakin membulat, juga pada segenap saudara di KBRI.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

250

* * *

Satu hari menjelang sidang Aisha, paman Eqbal, dan Magdi datang

membawa seorang pengacara bernama Amru. Dia menginginkan diriku

menceritakan semua hal yang kira berkaitan dengan masalah yang sedang aku

hadapi. Aku menceritakan semuanya dari kejadian ribut malam itu sampai berita

terakhir dari Syaikh Ahmad bahwa Noura telah menemukan orang tuanya yang

asli setelah melalui test DNA. Amru dan Magdi akan membantu sekuat tenaga

untuk membebaskan aku dari segala tuduhan itu. Semua saksi dan bukti yang

kira-kira bisa membela diriku akan dia gunakan. Amru juga mengingatkan diriku

agar dalam sidang besok bersikap tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jaksa

penuntut akan menggunakan teror kata-kata dan psikologis untuk melemahkan

diriku dan menjebakku. Aku mungkin akan sangat dihina oleh kepandaiannya

bersilat lidah dan berargumentasi tapi aku tidak boleh terbawa oleh irama

permainannya. Kemungkinan besar besok adalah sidang untuk mendengarkan

pengakuan Noura dan pengakuanku. Serta teror investigasi dengan perkataan dan

pertanyaan di depan sidang. Aku mengucapkan terima kasih atas segala

bantuannya. Amru tersenyum.

“Meski berliku, aku yakin kebenaran akan menang. Apa pun yang terjadi

pada akhirnya kebenaran akan menang. Jangan kuatir, Saudaraku. Nanti malam

perbanyaklah shalat dan memohon pertolongan kepada Allah.” Kata Amru

mengingatkan. Mereka pamitan. Seperti saat mengunjungi sebelumnya sebelum

pergi, Aisha mengajakku ke pojok ruangan. Dia membuka cadarnya agar aku

dapat melihat wajahnya. Kami berangkulan dalam tangis.

“Fahri, kuatkanlah dirimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau

kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayiku ini lahir tanpa dirimu disisiku.” Isak

Aisha yang membuat hatiku bagai diremas-remas. Aku merasa langit-langit

ruangan itu basah, dan dinding-dindingnya melelehkan air mata. Kuusap air

matanya dengan ujung jilbabnya, pelan kubisikkan padanya sebuah harapan:

Sayang, tancapkan dalam hati

walau tak kini

esok insya Allah terjadi

kita akan bulan madu lagi

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

251

berkali kali

lebih indah dari yang telah kita lalui

apalagi di sorga nanti

walau tak kini

esok insya Allah terjadi

selama cinta kita tak pernah mati

selama iman masih terpatri dalam diri

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta(Persidangan)

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

252

25. Persidangan

“Nona Noura, saya persilakan Anda mengisahkan apa yang menimpa pada

diri Anda?” Hakim gemuk dengan rambut hitam bercampur uban mempersilakan

Noura yang sudah berdiri dipodium untuk berbicara. Sementara aku berada di

tempat terdakwa yang berbentuk seperti kerangkeng. Ratusan mata memandang

Noura dengan seksama. Aku melihat orang-orang yang kukenal turut serta

menghadiri sidang pertamaku ini. Teman-teman satu rumah di Hadayek Helwan ;

Rudi, Saiful, Hamdi dan Mishbah duduk dibagian agak belakang. Beberapa puluh

mahasiswa Indonesia, Ketua dan pengurus PPMI, Pengurus Wihdah—termasuk

Nurul sang ketua—juga datang. Sekitas aku memandang ke arah Nurul, mata

kami bertemu. Ia tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

Pengacaraku duduk bersama Maqdi. Di belakangnya ada Aisha, paman Eqbal,

Syaikh Ahmad dan isterinya. Bibi Sarah tidak datang. Keluarga Tuan Boutros

juga tidak satu pun yang kelihatan. Di barisan dekat jaksa penuntut banyak sekali

orang Mesir. Mungkin mereka keluarga Noura. Beberapa wartawan sibuk

merekam dan membidikkan kamera. Aku pasrah pada apa yang akan ditulis

mereka. Jika ada ketidakadilan dalam tulisan mereka aku akan menuntutnya kelak

di akherat sana.

“Saya akan menceritakan dengan sejujurnya tragedi yang menimpa diri

saya. Tragedi yang menginjak-injak kehormatan saya dan menghancurkan masa

depan saya.” Kata Noura dengan terisak. Air matanya meleleh. Aku tidak tahu apa

yang akan dia katakan. Apakah dia akan mengatakan dengan sejujurnya siapa

yang mengamili dirinya ataukah justru akan menghabisi diriku dengan

sandiwaranya seperti Zulaikha pura-pura menangis dan menjebloskan Yusuf ke

dalam penjara.

“Pada hari Rabu, 7 Agustus yang lalu saya masih hidup bersama keluarga

Bahadur. Hari itu sore hari setelah aku shalat ashar, Bahadur yang saat itu masih

saya anggap sebagai ayah memaksaku untuk ikut Mona selepas maghrib ke

sebuah Nigh Club mengapung di sungai Nil, tempat di mana Badahur dan Mona

bekerja. Bahadur sebagai pukang tukul dan Mona sebagai penari dan wanita

penghibur. Saya tidak mau. Bahadur mengancam akan membunuh saya jika

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

253

sampai jam sembilan malam tidak sampai di sana bersama Mona. Saat itu juga ia

menjambak rambut saya kuat-kuat dan menyambuk punggung saya dengan ikat

pinggang. Saya tidak tahan, akhirnya saya pura-pura mau. Bahadur lalu berangkat

kerja dengan sebuah ancaman saya akan mati jika tidak datang. Saya bertanya

pada Mona apa kerja saya di sana. Dia bilang, ‘Seperti pertama aku kerja di sana.

Menyerahkan keperawanan pada turis bule dengan imbalan sepuluh ribu pound!’

Jawaban Mona membuat saya merinding. Saya tidak mungkin melakukan

perbuatan terkutuk itu. Saya bertekad lebih baik mati daripada menjual diri.

Akhirnya begitu shalat maghrib saya mengurung diri di kamar. Pintu kamar dan

jendela saya kunci. Mona berteriak-teriak dan menggedor-gedor tidak saya

pedulikan. Mona pun berangkat sendirian. Saya terus di kamar sampai tengah

malam. Jam setengah satu ayah pulang bersama Noura dengan kemarahan

meluap. Pintu kamarku didobrak dan saya disiksanya habis-habisan lalu diusir dan

diseret ke jalan. Ternyata saya tidak dibunuhnya hanya diusir saja. Tapi malam itu

saya merasa sangat merana. Saya meratapi nasib saya sambil memeluk tiang

lampu di jalan, depan apartemen. Saya meratap sendirian agak lama. Lalu, kirakira

pukul setengah dua datanglah Maria menghibur saya. Ia juga mengajak saya

naik dan tidur di kamarnya, saya pun ikut. Di kamar Maria aku mencurahkan

semua kesedihanku padanya. Yang tidak kuduga Maria menceritakan sebenarnya

yang membuatnya turun menghiburku adalah Fahri, mahasiswa dari Indonesia

yang malam itu kebetulan tidak tidur. Sebenarnya Maria takut sekali pada

Bahadur. Keluarga Maria juga tidak mau berurusan dengan Bahadur. Maria

meminta bagaimana kalau malam itu menginap sementara di rumah Fahri. Saya

merasa kediaman Fahri adalah tempat yang aman untuk sementara. Akhirnya tepat

pukul tiga Maria mengantarkan aku turun ke tempat Fahri. Fahri sendiri yang

masih bangun. Ia membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk ke kamarnya.

Maria kembali ke rumahnya. Mulanya Fahri banyak menghibur. Dia lalu

merayuku dan membujukku dengan kata-kata Manis. Entah dari mana ia tahu

kalau aku mau dijual pada turis bule. Fahri menawari saya untuk kawin

dengannya dan akan diajak hidup bahagia di Indonesia. Ia berjanji akan membuat

hidupku bahagia. Akan mencurahkan segala kasih sayang dan cintanya padaku.

Fahri juga mengungkapkan sebenarnya dia telah lama jatuh cinta pada saya. Fahri

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

254

mampu memanfaatkan keadaan saya yang sedih, yang selama itu belum pernah

merasakan kasih sayang dan cinta. Malam itu saya menangis dalam pelukan Fahri.

Saya merasakan Fahri adalah dewa penyelamat. Entah bagaimana prosesnya

malam itu saya telah menyerahkan kehormatan saya padanya. Saya terhipnotis

oleh manisnya janji yang ia berikan. Ketika masjid melantunkan azan pertama

saya tersadar. Saya menangis sejadi-jadinya atas apa yang menimpa diri saya.

Saya melihat Fahri sedang tertidur. Saya pun keluar dan kembali ke tempat Maria.

Saya menangis Maria bertanya pada saya ada apa. Saya tidak menjawabnya. Saya

malu untuk menceritakannya. Pukul tujuh pagi Fahri datang ke tempat Maria.

Keluarga Maria minta agar saya meninggalkan rumah mereka sebelum Bahadur

bangun. Akhirnya Fahri menyuruh saya untuk menginap di tempat mahasiswi

Indonesia bernama Noura. Sebelum berangkat Fahri memberi uang sebanyak dua

puluh pound untuk ongkos jalan. Beberapa hari di rumah Nurul saya dijemput

Syaikh Ahmad dan isterinya dan diamankan di Tafahna, Zaqaziq. Syaikh Ahmad

membantu saya menemukan saya dengan orang tua saya asli yang ternyata

bernama Adel dan Yasmin. Beliau berdua dosen di Ain Syams University. Sejak

itu saya tinggal bersama mereka. Suatu hari setelah satu minggu tinggal bersama

mereka saya muntah-muntah. Mama Yasmin membawa saya ke dokter dan saya

ketahuan hamil satu bulan setengah. Mama mendesak untuk mengatakan siapa

yang menghamili saya. Saya tidak mau mengatakannya. Ayah mengancam akan

mengusir saya jika tidak mengatakan siapa yang menghamili saya. Terpaksa saya

jelaskan siapa sebenarnya yang menghamili saya. Tak lain dan tak bukan adalah

Fahri Abdullah. Dia manusia berhati serigala pura-pura menolong ternyata

menerkam. Saya telah beberapa kali minta pertanggung jawabannya dan

menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Saya menuntut janjinya mau

mengawini saya ternyata ia berkelit. Ia bahkan menuduh saya pelacur. Uang dua

puluh pound yang dia berikan itu ternyata dianggap sebagai harga diri saya.

Betapa remuk dan hancur hati saya. Dia malah menikah dengan seorang gadis

Turki. Dia benar-benar manusia yang sangat busuk hatinya. Saya minta kepada

pengadilan untuk memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan

terkutuknya!”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

255

Noura lalu menangis terisak-isak di podium. Orang-orang Mesir yang

tidak tahu masalah sesungguhnya terbakar emosinya. Mereka berteriak-teriak

minta kepada hakim menggantung diriku. Aku sendiri sangat terpukul mendengar

semua yang dikatakan Noura. Aku tidak percaya bahwa yang dipodium itu adalah

Noura. Gadis innocent yang sangat pendiam yang dulu sangat aku kasihani. Kini

Noura seperti puteri jahat yang siap mencincangku dengan belati beracun yang ia

sembunyikan di balik bajunya.

Aku melihat ke arah orang-orang yang simpati padaku. Wajah Syaikh

Ahmad tampak marah. Aisha jatuh pingsan. Tiba-tiba Nurul berteriak lantang dan

memaki-maki Noura yang tidak tahu balas budi dan mengarang cerita bohong.

Hakim mengetuk palunya berkali-kali meminta semuanya untuk tenang. Dia lalu

meminta tanggapanku. Dengan emosi yang kutahan aku menolak tuduhan Noura.

Aku jelaskan bahwa Noura sama sekali tidak pernah masuk kamarku. Aku bahkan

belum pernah menyentuh kulit Noura. Malam itu Noura bersama Maria sampai

pagi. Tiba-tiba Noura berteriak menganggap diriku yang bohong. Hakim

menenangkan Noura. Pihak jaksa mengajukan saksi. Seorang lelaki ceking

bernama Gamal. Hakim mempersilakan saksi itu bicara setelah disumpah.

Seorang lelaki mengaku melihat aku membukakan pintu dan mengajak Noura

masuk rumah jam tiga dini hari, Kamis 8 Agustus 2003.

Amru pengacaraku mengintrogasi saksi itu. Sang saksi bersikukuh melihat

dengan jelas Noura masuk rumahku. Amru bertanya posisinya di mana dan

sedang apa dia sampai begitu jelas melihat Noura masuk rumahku. Dia menjawab

dia seorang pemburu burung hantu. Hobinya berburu pada waktu malam.

Kebetulan ia melintas di apartemen dan di sutuh melihat ada burung hantu. Ia

hendak menembaknya dari jarak dekat dengan cara naik ke sutuh melalui tangga.

Ketika ia naik itulah dari jarak tiga meter ia melihat Noura masuk flat di lantai

tiga.

Aku heran dengan lelaki ceking bernama Gamal. Bagaimana mungkin dia

berani membuat kesaksian palsu seperti itu. Belum pernah aku mendengar ada

seorang yang hobinya sedemikian aneh. Untuk apa burung hanru diburu?

Tubuhku tiba-tiba terasa dingin dan gemetaran. Aku yakin keluarga Noura telah

menggunakan segala cara untuk menggantung diriku. Yang aku tidak bisa

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

256

mengerti adalah perubahan diri Noura. Beberapa waktu yang lalu ia menulis surat

sangat mencintaiku. Kini tiba-tiba ia ingin membunuhku. Apa dosa dan salahku

padanya? Apakah karena aku tidak menanggapi perasaannya dia lalu dendam

yang ingin membunuhku? Kenapa dia begitu keji memfitnahku. Kapan

sebenarnya dirinya kehilangan kegadisannya sehingga hamil? Dan siapa

sebenarnya yang menghamili dirinya? Semua pertanyaan itu bagaikan palu yang

menghantam-hantam batok kepalaku. Aku nyaris tak sanggup menegakkan

kepalaku. Hakim memutuskan melanjutkan sidang minggu depan. Aku turun dari

kerangkeng terdakwa dengan dikawal dua polisi. Orang-orang Mesir

mencacimaki diriku dengan kata-kata kotor. Seorang ibu setengah baya bahkan

melempar botol air mineral dan mengenai mukaku. Polisi yang mengawalku tidak

begitu peduli. Aku dibawa kembali ke penjara. Di dalam penjara aku teringat

Aisha yang tadi jatuh pingsan. Aku takut kondisi psikisnya berpengaruh pada

janin yang dikandungnya.

* * *

Sampai di dalam penjara, Profesor Abdul Rauf menanyakan jalannya

sidang. Aku ceritakan semuanya dari awal masuk ruang sidang sampai dilempar

botol mineral oleh seorang wanita setengah baya saat berjalan meninggalkan

ruang sidang. “Profesor, perlakuan wanita setengah baya itu aku maklumi dia

tidak tahu masalah sebenarnya. Yang aku heran dan belum bisa kumengerti adalah

Noura. Gadis itu pernah menulis surat ucapan terima kasih dan perasaan cinta

padaku dengan sedemikian tulusnya. Tapi dipengadilan itu ia menjadi orang yang

sama sekali tak kukenal. Ia tampak sangat membenci aku dan ingin sekali

membinasakan diriku. Aku juga heran dengan lelaki ceking bernama Gamal.

Bagaimana mungkin dia bisa setega itu memberikan kesaksian palsu untuk

membinasakan orang? Apakah dia sudah tidak punya nurani?” Kataku.

“Noura itu sebenarnya sangat mencintaimu. Karena dia tidak

mendapatkan apa yang dia inginkan darimu dia berubah membencimu. Cinta yang

berubah jadi kebencian tiada tara itu seringkali terjadi dalam sejarah kehidupan

manusia,” jawab Profesor Abdul Rauf.

“Dan orang seperti Gamal jangan kau herankan keberadaannya di zaman

yang telah kehilangan nurani kemanusiaannya seperti sekarang. Uang menjelma

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

257

menjadi tuhan. Uang adalah segalanya. Demi uang begundal seperti Gamal siap

mengerjakan apapun saja,” sahut Haj Rashed.

“Berbicara tentang kemanusiaan, aku jadi teringat sebuah film sukses yang

dibuat oleh Spielberg yaitu ET. Lewat film itu Spielberg ingin menunjukkan

bahwa mungkin tempat terbaik untuk untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan

adalah diangkasa, tidak di bumi.” Suara Ismail terdengar parau. Tadi malam ia

menjadi bulan-bulanan para algojo penjara.

“Kau suka menonton film Amerika juga rupanya?” Haj Rashed agak

kurang senang.

“Sebenarnya tidak juga. Aku menonton film itu karena penasaran pada

analisa Profesor Akbar S. Ahmad dalam karyanya Postmodernism and Islam. Dan

memang seperti itu ironi yang dibangun Spielberg dalam film ET. Nilai-nilai

kemanusiaan di bumi semakin punah,”jJawab Ismail.

“Tapi, insya Allah, selama masih ada yang teguh kukuh mengamalkan Al-

Qur’an dan As Sunnah, nilai-nilai kemanusiaan tidak akan hilang dari muka bumi

ini!” tukas Professor Abdul Rauf Manshour mantap.

Insya Allah,” sahut kami semua hampir kompak.

Tiba-tiba pintu digedor. “Tahanan nomor 543!” Kali ini sipir bersuara

cempreng yang memanggil. Meskipun suaranya cempreng tapi kalau menyiksa

para tahanan tak kenal belas kasihan. Menurut cerita Hamada ia pernah

menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Si Cempreng itu

memasukkan mata ganco ke dalam lubang hidung seorang tahanan yang tangan

dan kakinya diikat lalu menarik ganco itu kuat-kuat. Tak ayal hidung tahanan

miskin itu sobek tak karuan bentuknya. Tahanan miskin itu sudah lama tiada

kabarnya. Mungkin telah mati.

“Hai, keledai 543 apa kau dungu!? Apa aku perlu menyeretmu dengan

ganco?” Si Cempreng kembali mendesis seperti ular.

“Ya saya!” jawab Marwan santai sambil melangkah ke pintu. Setelah pintu

terbuka. Kami mendengar suara: buk! buk!

“Doakanlah Marwan, semoga dia tidak cedera berat!” Suara Profesor

Abdul Rauf membuat hati kami gerimis. Setiap hari selalu ada yang jadi mainan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

258

para algojo penjara. Aku bersyukur bahwa setelah kedatangan Magdi, KBRI, dan

PPMI siksaan yang kuterima sebagai sarapan pagi semakin ringan.

* * *

Satu hari menjelang persidangan kedua Syaikh Utsman datang menjenguk

bersama Paman Eqbal. Syaikh Utsman banyak memberi siraman jiwa. “Kau harus

ikhlas menerima cobaan ini. Kau tidak boleh sedikitpun merasa ragu akan kasih

sayang Allah kepadamu. Kau tentu tahu, Allah sangat mencintai Nabi Yahya. Dan

Nabi Yahya itu kepalanya dipenggal untuk dihadiahkan kepada seorang pelacur.

Husein cucu baginda Nabi juga dipenggal kepalanya. Ditancapkan diujung

tombak dan diarak di kota Kufah. Mereka tetaplah manusia-manusia mulia

meskipun kelihatannya dinistakan dan dihina. Orang yang divonis salah oleh

pengadilan dunia belum tentu salah di pengadilan akhirat dan sebaliknya.

Dekatkanlah dirimu kepada Allah!” Kunjungan Syaikh Utsman sangat berarti

bagiku. Nasihat beliau bagaikan embun menetes di pagi hari musim semi. Aku

semakin mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang terjadi.

Setelah Syaikh Utsman, tanpa kuduga Madame Nahed, dan Yousef

menjenguk. Mereka berdua meneteskan air mata melihat keadaanku.

Madame, maafkan aku yang tidak sempat menjenguk Maria.”

“Tak masalah. Sungguh sangat tragis nasibmu, Anakku. Kau menolong dia

tapi dia malah membalasnya dengan fitnah yang keji sekali. Aku sudah membaca

semuanya di koran. Seluruh koran yang memuat berita persidangan itu tak ada

yang membelamu. Andaikan Maria sehat dia pasti akan menulis membelamu.

Sayang dia…ah!” Madame Nahed terisak. Aku takut sesuatu telah terjadi pada

Maria.

“Kenapa Maria, Madame?” tanyaku cemas.

“Sakitnya sangat parah. Empat hari ini dia koma. Hanya kadang-kadang

dia seperti sadar, mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu. Dan apakah kau

tahu apa yang dia katakan, Anakku?” Suara Madame Nadia terbata-bata.

“Apa Madame?”

“Dia menyebut-nyebut namamu. Hanya namamu, Anakku. Dia ternyata

sangat mencintaimu!”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

259

Kalimat yang diucapkan Madame Nadia bagaikan guntur yang menyambar

kepalaku.”Tak mungkin itu terjadi, Madame!” bantahku.

Yousef langsung menyahut:

“Benar Fahri, Maria sangat mencintaimu. Aku telah membaca diary

khususnya. Dia menulis semua perasaan cintanya padamu di sana. Dalam

diarynya itu aku juga menemukan kwitansi pembayaran semua biaya

pengobatanmu. Maria diam-diam mengambil tabungannya dan membayar

pengobatanmu tanpa ada satupun dari kami yang tahu. Dia sangat mencintaimu.

Sayang diarynya tidak aku bawa. Nanti akan aku bawa kemari agar kau bisa

membacanya sendiri.”

Keterangan Yousef membuat hatiku mau runtuh. Air mataku tanpa terasa

meleleh. Baru aku tahu bahwa malaikat itu adalah Maria.

“Kenapa dia tidak mengungkapkan isi hatinya padaku?” lirihku.

“Dia malu. Dia menunggu saat yang tepat untuk membangun

keberaniannya tapi terlambat. Ketika tahu kau telah menikah dengan Aisha yang

baru beberapa bulan kenal denganmu dia sangat terpukul. Dia sangat menyesal.

Padahal dirinya telah mengenalmu jauh lebih lama dan lebih dalam dari Aisha. Itu

ia tulis setelah pulang dari Hurgada dan tahu kabar pernikahanmu. Aku baru tahu

kenapa dia selalu murung dan tidak bersemangat hidup. Maria menulis dibaris

terakhir, when some one is in love he cannot think of anything else. Bila seseorang

dimabuk asmara, dia tak bisa memikirkan hal yang lain. Dia tidak bisa lepas untuk

memikirkan dirimu, memikirkan cintanya, sampai akhirnya jatuh sakit.” Yousef

meneteskan air mata.

“Anakku, aku takut dia akan mati..hiks..hiks!” Madame Nahed terisakisak.

Aku jadi melupakan nasibku sendiri. Mataku basah melihat kesedihan

Madame Nahed. Dan Maria, oh, kenapa semua ini bisa terjadi!?

“Oh, andaikan aku bisa membantu. Aku merasa menjadi manusia paling

tiada berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri sekarang dibayangbayangi

vonis hukuman gantung. Oh apa yang bisa aku lakukan?” Ucapku sedih.

Yousef mengeluarkan tape kecil dari jaketnya dan berkata, “Kata dokter,

Maria harus dirangsang dengan suara atau sentuhan dari orang-orang yang

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

260

dicintainya. Dia sepertinya telah kehilangan gairah untuk hidup. Suara orang yang

dicintainya harus mendorongnya untuk hidup, harus memberikan harapan-harapan

yang indah baginya. Fahri tolonglah, bicaralah pada Maria apa saja. Ini salah satu

usaha menolong dia. Nanti akan kami perdengarkan suaramu di telinganya.”

“Iya anakku tolonglah! Maria sangat mencintaimu dan merindukan

suaramu,” desak Madame Nahed.

Demi sebuah nyawa aku memenuhi permintaan Yousef dan Madame

Nahed. Dengan suara kupaksakan kebiasa-biasanya, aku berbicara apa saja pada

Maria. Terkadang aku berusaha tertawa. Atau mengingatkan sesuatu yang kirakira

berkesan baginya. Hanya satu yang tidak kuucapkan di sana yaitu kalimat aku

mencintaimu. Tak mungkin, karena kalimat itu hanya berhak untuk Aisha

seorang. Aku berharap suaraku berguna untuk membantu menyembuhkan Maria.

Bahwa di dalam penjara sekali pun aku bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.

Namun begitu mengingat kata-kata Madame Nahed dan Yousef bahwa Maria

sakit karena mencintaiku aku jadi sedih sekali. Aku jadi tidak mengerti apa itu

cinta sebenarnya? Yang kutahu cinta adalah apa yang terjadi antara diriku dengan

Aisha. Itu saja. Tapi apa yang dirasakan Nurul. Yang dirasakan Noura dan yang

dirasakan Maria aku tidak tahu. Apakah itu cinta? Ah cinta. Semacam duka.

Mengiris jiwa.

* * *

Persidangan kedua sangat menegangkan. Tuan Boutros hadir memberikan

kesaksiannya. Beliau membantah keterangan Noura yang mengatakan malam itu

masuk di kamarku. “Jam lima pagi ketika saya bangun, saya menemukan Noura

bersama Maria di kamarnya. Dan Maria bercerita Noura sejak tengah malam ada

dikamarnya.”

Penuntut bertanya pada Tuan Boutros, “Apakah antara jam 2 sampai jam 5

anda tidak tidur, jadi anda tahu persis Noura selalu bersama Maria, misalnya

mendengar suara mereka dalam rentang waktu itu?”

Tuan Boutros dengan jujur menjawab, “Tidak saya sedang tidur. Bahkan

jeritan Noura dipukuk Bahadur juga tidak saya dengar. Saya terlelap dan bangun

setengah lima.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

261

Noura diminta bicara. “Maria berkata tidak benar kalau aku bersamanya

terus. Yang benar pukul tiga Maria mengantarku ke tempat Fahri yang hanya

berada di bawahnya. Di kamar Fahri pemerkosaan atas diriku terjadi. Dan ketika

azan pertama berkumandang, aku kembali ke tempat Maria. Saat itu seluruh isi

rumah Maria masih tidur, termasuk Tuan Boutros, kecuali Maria.” Kata Noura.

Teman-teman satu rumah yang pada malam kejadian itu ada di rumah ikut

memberikan kesaksian. Mereka semua menolak tuduhan Noura. Tapi mereka juga

jujur menjawab ketika ditanya sedang apa antara jam tiga sampai azan pertama?

Jawabnya tidur. Hamdi masih berusaha membela, “Saya ini termasuk manusia

yang sangat sensitif. Seringkali dalam keadaan tidur jika pintu dibuka saya

terbangun. Jika Noura masuk rumah pasti saya terbangun. Saya tidak terbangun

malam itu?”

Penuntut malah tersenyum dan berkata, “Menurut cerita Fahri kalian

malam itu berpesta hingga kenyang, benarkah?”

“Benar!” jawab Hamdi.

“Itulah salah satu penyebab kenapa kau tidak terbangun ketika Noura

masuk. Karena kau terlalu kenyang. Dan itu sudah sangat wajar terjadi!”

Nurul memberikan kesaksian dengan suara terbata-bata menahan emosi. Ia

menceritakan cerita yang dikisahkan sendiri oleh Noura kepadanya ketika Noura

menginap beberapa hari di rumahnya. Cerita yang sangat berbeda dengan yang

dikatakan Noura di sidang pengadilan. “Saya yakin Noura saat ini sedang

berbohong. Apa yang dia katakan di pengadilan ini dusta. Dia bercerita malam itu

di kamar Maria dan baru bertemu Fahri pukul tujuh pagi. Dan uang dua puluh

pound itu diberikan kepadanya bukan sebagai harga atas kegadisannya. Itu fitnah.

Fahri tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Dia menyentuh tangan

perempuan saja tidak mau.”

Noura menolak kesaksian Nurul dan berkata dengan tenang, “Memang

seperti itu yang aku kisahkan pada Nurul. Saat itu aku tidak mungkin dengan jujur

menceritakan apa yang terjadi pada diriku di kamar Fahri. Aku tidak mungkin

menceritakan aib. Aib diriku dan aib orang yang akan jadi suamiku, karena dia

memang berjanji akan menikahiku. Sebenarnya yang terjadi adalah seperti apa

yang aku ceritakan. Saat itu aku juga mengira uang dua puluh pound itu ikhlas

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

262

diberikan oleh Fahri sebagai ongkos pergi ke Masakin Utsman. Aku tidak mengira

sama sekali saat itu kalau itu adalah sebagai harga akan kegadisanku yang

direnggut Fahri. Aku tahu kebusukkannya setelah dia terang-terangan tidak mau

menikahiku dan malah mengatakan diriku pelacur sebab telah ia bayar dengan dua

puluh pound saja mau.”

Di akhir sidang terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Bahadur

memberikan kesaksian bahwa dia katanya pernah melihatku beberapa kali

menyiuli Noura dari jendela kamarku. “Saat itu aku sebenarnya sangat marah

pada penjahat itu. Tapi aku masih menghormatinya sebagai tamu di negeri ini dan

aku mengira itu hanyalah iseng anak muda. Apalagi dia kulihat juga rajin ke

masjid. Aku tidak menyangka kalau dia sebenarnya serigala. Dan aku yakin dialah

yang menodai Noura. Dia harus dihukum yang seberat-beratnya!”

Hakim lalu bertanya pada pengacaraku apakah masih ada saksi atau bukti

untuk membela diriku. Pengacaraku bilang masih. Yaitu kesaksian Syaikh Ahmad

dan isterinya, surat yang ditulis Noura untukku, dan Maria. Hakim memutuskan

sidang akan dilanjutkan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Itu berarti aku

akan menjalani hari raya terberat selama hidup.

Amru, Magdi dan paman Eqbal mengikutiku sampai ke penjara. Di ruang

tamu penjara mereka mangajakku berbicara. Eqbal terus memintaku untuk tabah

dan besar hati. Magdi dan Amru menganalisa jalannya sidang yang telah terjadi.

“Saksi yang kita ajukan adalah orang-orang yang sangat jujur. Mulai dari

Tuan Boutros sampai teman-temanmu. Aku salut atas kejujuran itu, meskipun

dalam kasus ini kejujuran teman-temanmu tidak membantu. Kalau mereka ada

yang berani bohong sedikit saja, misalnya pukul tiga terbangun untuk shalat

malam dan mendapati keadaan rumah dalam keadaan sepi seperti biasa tidak ada

Noura di kamarmu. Karena kamarmu berdekataan dengan kamar mandi tempat

wudhu, dakwaan Noura akan runtuh,” ucap Amru sambil memandang lurus

kepadaku.

“Tapi insya Allah kejujuran itu tetap akan membantu. Setidaknya

membantu kekuatan moral kita. Kebersihan nurani kita. Dan semoga dengan

kejujuran itu Allah memberikan jalan keluar yang lebih baik,” sahut Eqbal.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

263

“Dalam sejarah kejahatan selalu dilancarkan dengan segala cara. Dan

kebenaran selalu dipertahankan dengan cara-cara yang jantan dan bersih,” imbuh

Magdi.

“Bisa jadi sidang setelah hari raya adalah sidang penentuan. Dan dalam

sidang itu kita harus membalik keadaan dan meruntuhkan semua tuduhan dan

rekayasa mereka. Senjata kita yang tersisa adalah surat cinta Noura yang disana

dia mengungkapkan semua pengakuannya secara jujur dan pengakuan Maria.

Yang paling penting sebenarnya adalah kesaksian Maria. Sebab dialah yang

paling tahu. Dialah—yang dalam penuturan Noura—mengantarkan dirinya ke

tempatmu. Dan dia juga yang membukakan pintu ketika Noura kembali lagi naik.

Adapun kesaksian Syaikh Ahmad dan isterinya kekuatannya tak akan berbeda

dengan kesaksian Nurul yang memang malam itu tidak tahu apa-apa. Marialah

sebenarnya saksi kunci, tapi sayang dia sekarang sedang koma.” jelas Amru.

“Bagaimana dengan surat Noura itu?” tanya Eqbal.

“Cukup kuat, jika benar-benar bisa dibuktikan itu tulisan tangannya. Tapi

surat itu sekarang ada di mana masih jadi masalah. Oleh Fahri surat itu diberikan

kepada Syaikh Ahmad. Syaikh Ahmad memberikan kepada isterinya. Isterinya

memberikan kepada Noura waktu masih di Tafahna. Sekarang sedang dicari di

Tafahna, siapa tahu ditinggal oleh Noura di sana. Jika surat itu ternyata dibawa

Noura ya kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu mukjizat Maria bisa

membaik dan pada sidang setelah hari raya nanti bisa memberikan kesaksian,”

jelas Amru.

Mendengar semua pembicaraan itu aku merasa nasibku benar-benar

berada di ujung tanduk. Jika nyawaku akhirnya harus melayang dengan

sedemikian tragisnya, aku pasrah saja kepada Yang Mahakuasa. Aku teringat

nasihat Syaikh Utsman agar selalu menjaga keikhlasan menerima takdir Ilahi

setelah berusaha sekuat tenaga. Yang divonis salah dalam pengadilan dunia tidak

selamanya salah di pengadilan akhirat. Kepala Nabi Yahya dipenggal dan

dihadiahkan kepada seorang pelacur. Dalam hati aku berdoa, jika aku harus mati

di tiang gantungan, maka “Allaahumma amitni alasy syahaadati fi

sabilik.Amin.”111

111 Ya Allah matikanlah diriku dalam keadaan mati syahid di jalanMu. Amin.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

264

“Apa tidak ada jalan lain untuk membuktikan bahwa yang menghamili

Noura bukan Fahri? Bagaimana dengan test DNA? Bukankah Noura menemukan

orang tua kandungnya karena test DNA?” ucap Eqbal dengan mata berbinar.

Amru dan Magdi mengangguk-anggukkan kepala. Aku merasa di dalam

dadaku ada cahaya. “Benar test DNA!” lirihku.

“Ini ide yang sangat menggembirakan. Aku nanti akan mencoba bertanya

pada dokter apakah janin yang dikandung Noura bisa diperiksa DNA-nya. Agar

ketahuan siapa sebenarnya ayahnya? Jika bukan Fahri yang menghamili tentu

DNA janin itu akan berbeda dengan DNA Fahri. Sebentar aku mau mengontak

Dokter Fatema Zaki, apakah janin bisa diperiksa DNA-nya.” Kata Amru sambil

memenjet handphone-nya dan meletakkan di telinganya. Amru lalu terlibat

pembicaraan dengan orang yang ditujunya. Tiba-tiba mukanya agak pucat, ia

berkata setengah berteriak, “Apa? Tidak bisa! Menunggu sampai lahir?! Oh,

begitu. Ya, terima kasih atas informasinya.”

“Bagaimana Amru?” tanya Eqbal.

“Menurut keterangan Dokter Fatema Zaki, janin yang masih berada di

dalam kandungan tidak bisa diperiksa DNA-nya. Karena harus pakai sampel

jaringan/sel tubuh. Janin tidak bisa diambil jaringan tubuhnya. Yang bisa diambil

cuma sampel air ketuban, tidak bisa untuk pemeriksaan DNA. Jadi harus

menunggu janin itu dilahirkan baru bisa diperiksa DNA-nya,” jelas Amru yang

membuat diriku lemas kembali. Menunggu Noura sampai melahirkan janinnya,

bukan waktu yang singkat di dalam penjara buruk seperti ini. Tapi aku tetap

merasa lebih berbesar hati bahwa jalan untuk membebaskan diri dari tuduhan dan

fitnah itu masih ada.

“Aku akan membuat surat permohonan kepada pengadilan agar sidang

selanjutnya diundur sampai Noura melahirkan bayinya untuk pemeriksaan DNA.”

Ujar Amru dengan wajah optimis.

“Jika pengadilan tidak mengabulkan?” sahut Magdi.

“Kita lihat nanti. Oh ya Magdi, tolong bagaimana caranya keamanan

Maria terjamin. Sebab walau bagaimana pun sebelum test DNA, Maria adalah

saksi kunci. Kau tentu tahu maksudku?” kata Amru.

Insya Allah,” jawab Magdi pelan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

265

Mereka bertiga lalu pamintan. Amru berjanji akan menengok ke penjara

lagi jika ada perkembangan.

* * *

Sampai di dalam sel, sebelum Profesor Abdul Rauf dan teman-teman

menanyakan yang terjadi di dalam sidang kedua, aku langsung mengisahkan

semuanya. Termasuk pembicaraan berempat dengan Amru, Magdi dan Eqbal di

ruang tamu penjara.

“Bolehkan aku membuat suatu analisa? Siapa tahu ada gunanya,” ujar

Profesor Abdul Rauf begitu aku selesai bercerita.

“Tentu, Profesor,” jawabku senang.

“Pemohonanmu untuk mengundurkan sidang setelah Noura melahirkan

bayinya agar bisa diperiksa DNAnya tidak akan dikabulkan pengadilan.

Pengadilan akan tetap berjalan sesuai yang diinginkan hakim. Dan hakim berjalan

sesuai yang diinginkan oleh keluarga Noura. Mereka sudah tahu saksi kunci sudah

tidak berdaya. Seandainya pun Maria bisa memberikan kesaksian mereka sudah

mempersiapkan jurus yang akan mengejutkan. Selama ini yang terjadi, tertuduh

yang berada dalam posisi seperti dirimu jarang bisa menang. Apalagi kau orang

asing. Mereka juga tahu akan adanya test DNA, maka mereka akan menggunakan

cara agar di pengadilan ini kau kalah. Tindakan yang akan kau ambil adalah naik

banding, menunggu bayi Noura bisa ditest DNAnya. Begitu kau kalah, maka

setelah itu rekayasa yang akan mereka mainkan susah diprediksi. Bisa jadi diamdiam

mereka akan menggugurkan kandungan Noura dengan alasan keguguran dan

membuangnya entah di mana yang penting tidak bisa ditest DNAnya. Dan kau

tidak akan bisa menuntut apa-apa. Atau tidak begitu, tetap membiarkan bayi itu

lahir tapi permohonan bandingmu tidak dikabulkan dengan alasan yang seringkali

tidak masuk. Atau dikabulkan tapi setelah menunggu sekian tahun, setelah dirimu

mengalami penderitaan luar biasa dan sekarat di dalam penjara. Sebab begitu kau

diputuskan pengadilan bersalah kau akan diperlakukan sebagai orang bersalah

meskipun sedang mengajukan banding. Itu analisaku. Aku tidak ingin

menakutimu tapi agar pengacaramu dan pihak kedutaanmu berusaha lebih

maksimal untuk membebaskan dirimu dalam pengadilan terakhir nanti.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

266

Aku merasa apa yang disampaikan profesor benar. Dalam pengadilan

Mesir seringkali terjadi hal-hal yang tidak masuk akal. Adanya saksi seorang

lelaki yang hobinya berburu burung hantu adalah suatu yang ganjil. Dan sejak

kapan di suthuh apartemen di Hadayek Helwan itu ada burung hantu?

“Menurut Profesor apa yang harus kami lakukan?” tanyaku dengan hati

cemas.

“Minta pertolongan Tuhan. Dan terus berusaha untuk menang!” ucap

Profesor mantap.

“Aku punya sesuatu yang ingin aku katakan, Akhi.” sahut Ismail.

“Boleh.” kataku pelan.

“Mendengar semua kisahmu sejak kau ditangkap sampai sekarang, aku

melihat ada satu kekuatan yang mengaturnya. Mintalah kepada Magdi untuk

menyelidiki kekuatan backing dibelakang keluarga Noura. Kau masih beruntung

karena kasusmu bukan kasus yang oleh pihak keamanan dianggap mengancam

kekuasaan seperti Profesor Abdul Rauf. Asal bisa menjinakkan kekuatan di

belakang Noura maka jalan pembebasanmu menjadi lebih mudah. Firasatku

mengatakan, yang menghamili Noura adalah seseorang yang sangat memalukan

untuk disebut, jadi mereka mencari kambing hitam. Dan kambing hitamnya

adalah dirimu.Yang aku kuatirkan jika backing Noura adalah orang penting di

Keamanan Negara yang memang sangat berkuasa di negara ini.”

“Namun kau jangan kecil hati Fahri, di atas segalanya Allahlah yang

menentukan. Daya dan kekuatan manusia tiada berarti apa-apa di hadapan

kemahakuasaan Allah. Jika Dia berkehendak apa pun bisa terjadi.” Haj Rashed

menghibur. Aku diam saja. Semuanya lalu diam. Ruangan sel bawah tanah yang

pengap dan dingin itu dicekam suasana senyap sesaat. Keheningan menebarkan

aroma ketakutan yang menguji keimanan. Kini dalam ruangan sempit itu tinggal

kami berempat. Marwan sejak diambil sipir bersuara cempreng itu tak ketahuan

nasibnya. Apakah dipindahkan ke penjara lain? Ataukah dibebaskan? Atau malah

telah menemui kematian. Hamada juga tidak lagi terdengar beritanya sejak dua

hari lalu. Yang paling cemas atas nasib Hamada adalah Ismail. Katanya ia

bermimpi melihat Hamada berpakaian putih di sebuah tanah yang sangat lapang.

Ia kuatir itu adalah pertanda keburukan. Tapi Profesor malah menafsirkan mimpi

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

267

itu dengan hal yang menyenangkan, tanah lapang adalah kebebasan. Hamada

berarti sudah dibebaskan.

* * *

Hari berikutnya, kira-kira pukul sepuluh pagi, aku dibawa sipir hitam ke

kantor. Di sana kepala penjara menyerahkan sepucuk surat. “Ini surat dari

Universitas Al Azhar. Selamat!” Kata kepala penjara dengan nada yang sangat

sinis. Aku menerima surat itu dengan tangan bergetar. Aku teringat peristiwa

tahun 1995 seperti yang diceritakan staf konsuler KBRI. Kubuka amplop surat

cokelat buram itu dan kukeluarkan isinya. Lalu kubaca huruf demi huruf. Selesai

membaca surat itu aku tak mampu menahan isak tangisku. Usahaku sekian tahun

belajar mati-matian seakan sia-sia belaka. “Karena tidak asusila yang Anda

lakukan, maka Anda dikeluarkan dari Universitas Al Azhar dan gelar licence yang

telah Anda dapat dicabut sejak surat ini dibuat!” Demikian salah satu baris surat

dari Universitas Al Azhar itu. Melihat aku sedih dan meneteskan air mata, kepala

penjara malah tertawa mengejek. Ia tentu sudah tahu isi surat itu. Aku kembali ke

penjara dengan memendam kesedihan tiada tara. Al Azhar yang kucintai itu tidak

lagi menganggapku sebagai bagian dari anak muridnya. Alangkah malang

nasibku.

Di dalam sel aku menangis sejadi-jadinya. Aku belum pernah menangis

sesedu itu. Profesor Abdul Rauf menghiburku seperti seorang ayah menghibur

anaknya. Ia bertanya ada apa? Aku tak kuasa menceritakannya. Aku terus

menangis dengan sesak dada yang tiada terkira. Aku teringat semua pengorbanan

orang tua. Sawah warisan kakek, harta satu-satunya, dijual demi agar aku bisa

kuliah di Al Azhar Mesir. Dan kini semuanya seperti sia-sia. Aku merasa menjadi

manusia yang paling tiada gunanya di dunia. Hampir satu jam aku menangis.

Profesor Abdul Rauf masih terus menghibur dan membesarkan hatiku. Akhirnya

aku ceritakan berita duka itu padanya, dengan isak tangis yang tersisa.

“Kau percayalah padaku, Al Azhar sebenarnya tidak semudah itu

mengeluarkanmu. Di sana masih banyak ulama dan guru besar yang arif

bijaksana. Tapi Al Azhar tidak bisa berbuat apa-apa jika mendapat tekanan dari

penguasa. Apalagi jika datang dari Amn Daulah112. Aku sangat yakin Al Azhar

112 Keamanan Negara.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

268

mengeluarkanmu karena mendapat tekanan. Itu sama seperti Universitas El-

Menya waktu mengeluarkan diriku dan mencopot gelar guru besarku. Jadi

sebenarnya sekarang ini saya bukan seorang profesor lagi, karena gelar guru

besarku telah dicabut. Rektor Universitas El-Menya adalah temanku waktu

mengambil doktor di Universits Lyon, Perancis. Dia tidak mungkin berbuat buruk

padaku, tapi dia mendapat tekanan dari penguasa agar memejatku dari dosen dan

menandatangani surat pencabutan guru besarku. Untungnya aku mendapat gelar

doktor dari Perancis, kalau aku mendapatkan gelar doktor dari salah satu

universitas di sini maka seluruh gelar akademisku juga akan dipreteli. Ah

sebenarnya gelar itu tidaklah segalanya yang paling penting adalah kemampuan

kita. Meskipun kau dikeluarkan dan gelarmu dicopot tapi ilmu yang telah melekat

dalam otakmu tidak bisa mereka copot. Seandainya nanti kau bebas dan kembali

ke tanah airmu kau masih bisa mengamalkan ilmumu meskipun tanpa gelar. Di

dunia ini sangat banyak orang yang sukses tanpa gelar akademis. Aku malah

pernah membaca sejarah Indonesia, bahwa salah seorang Wakil Presiden

Indonesia yang sangat disegani yaitu Adam Malik, tidak memiliki gelar akademis

apapun. Tapi kemampuannya tidak diragukan. Jadi janganlah masalah sekecil itu

kau tangisi. Kau harus menjadi seorang lelaki sejati yang berjiwa besar. Dan aku

yakin kau mampu untuk itu.”

Kata-kata profesor Abdul Rauf mampu menyeka air mata sedihku. Aku

semestinya malu pada diriku sendiri jika menangisi hilangnya sebuah gelar. Jika

aku diharamkan belajar di Al Azhar, maka Allah mungkin akan membuka jalan

untuk belajar di tempat yang lain, termasuk belajar di dalam penjara. Bahkan bisa

jadi penjara adalah universitas paling dahsyat di dunia. Banyak terjadi orangorang

besar di dunia melahirkan karya-karya monumental di penjara. Ibnu

Taimiyah, ulama terkemuka pada zamannya yang mendapat gelar “Syaikhul

Islam” menulis Fatawanya yang berjilid-jilid di dalam penjara. Sayyid Qutb

menulis tafsir Zhilalnya yang sangat indah bahasa dan isinya, juga di dalam

penjara. Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi juga menulis karya-karyanya yang

monumental di dalam penjara. Kenapa aku tidak berpikiran positif seperti

mereka? Penjara bukanlah penghalang untuk berkarya dan berbuat. Seandainya

aku tidak bisa menelorkan karya di dalam penjara, kenapa aku tidak menggunakan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

269

kesempatan yang ada untuk belajar pada Profesor Abdul Rauf. Beliau adalah guru

besar bidang ilmu ekonomi. Beliau juga pernah belajar di Perancis. Dengan beliau

aku semestinya bisa belajar satu rumus ilmu ekonomi, atau bahasa Perancis

menskipun cuma satu kosa kata.. Rasanya mempersiapkan diri saja untuk

menikmati hidup di dalam penjara, itu lebih realistis dan lebih baik daripada

bersedih, berkeluh kesah dan meratapi nasib. Kuutarakan kemauanku pada beliau.

Hari itu juga aku mulai menimba ilmu pada beliau. Lumayan selain ‘bonjour’ aku

mendapatkan sebuah kalimat dari Victor Hugo saat merenungi suatu keadaan

nyata bahwa tangan manusia banyak melakukan suatu kejahilan. Hugo

mengatakan: Tempos edax, home edacior! Artinya: Waktu kejam tapi manusia

lebih kejam lagi!

* * *

Tiga hari setelah itu, kira-kira satu jam menjelang buka puasa, sipir

bersuara cempreng memanggilku. Aku yang biasanya tidak pernah takut kali ini

menyahut panggilannya dengan bulu kuduk merinding. Aku bersyukur ketika Si

Cempreng tidak berbuat macam-macam padaku, ia hanya membawaku ke ruang

tamu penjara. Di sana ada Aisha, paman Eqbal, Maqdi, dan Amru yang telah

menunggu.

“Sore ini kita akan sedikit berbincang dan buka puasa bersama.” kata

Aisha.

“Untuk buka puasanya mungkin aku tidak bisa,” jawabku.

“Kenapa?”

“Aku tidak mungkin makan enak sementara teman-teman satu sel berbuka

hanya dengan seteguk air dan roti isy kering dengan jubnah kadaluwarsa.”

Aisha langsung mengerti apa maksudku. Dia langsung membagi beberapa

bungkus makanan yang dibawa menjadi dua bagian.

“Ini untuk mereka.”

“Biar kuantar dulu.”

Selesai mengantar buka untuk teman-teman satu sel, barulah aku

mendengarkan semua perkembangan yang terjadi dari mereka.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 270-279

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

270

“Ada kabar kurang menggembirakan untukmu. Surat permohonan agar

jadwal sidang berikutnya diundur sampai janin Noura bisa diperiksa DNAnya

ditolak oleh pengadilan.” Kata Amru dengan wajah mengguratkan kemuraman.

“Aku tidak kaget. Sudah aku kira.” Jawabku lirih. Kemudian aku

menjelaskan prediksi-prediksi Profesor Abdul Rauf dan saran dari Ismail.

“Aku juga memiliki prediksi dan kalkulasi yang tidak jauh berbeda.

Sekarang senjata kita tinggal kesaksian Maria. Dan dia masih koma di rumah

sakit. Kondisinya sangat memprihatinkan, susah untuk kita harapkan.” Kata Amru

lemas.

“Saran Ismail itu cukup bagus. Memang dibelakang Noura adalah seorang

perwira menengah di badan intelijen khusus keamanan negara. Dia adik bungsu

Madame Yasmin, ibu kandung Noura. Dialah yang mendalangi semua ini. Si

Kumis yang mau berbuat tidak baik pada Madame Aisha itu akhirnya buka mulut

juga. Tapi dia sulit disentuh. Kecuali oleh orang yang pangkatnya lebih tinggi

darinya. Kebetulan aku tidak punya akses ke badan intelijen khusus. Aksesku

hanya intel polisi biasa jadi tidak bisa berbuat banyak. Si Kumis itu kalau bukan

desakan diplomatik dari Jerman dia juga tidak akan terproses secara hukum.”

Ucap Magdi.

“Hmm..aku ingat sekarang. Syaikh Ahmad punya sepupu yang juga

bertugas di dalam badan intelijen khusus keamanan negara, namanya Ridha

Shahata. Siapa tahu bisa membantu.” Sahutku sedikit optimis.

“Saya sudah menghubungi Syaikh Ahmad, tapi sayang Ridha Shahata

sedang ditugaskan ke Iran selama dua bulan. Dia baru akan kembali ke Mesir

sekitar pertengahan Syawal, ketika sidang telah usai.” Tukas paman Eqbal Hakan

Erbakan.

Azan maghrib berkumandang. Kami berbuka bersama. Pembicaraan sore

itu belum menghasilkan sesuatu yang nyata untuk membuktikan bahwa diriku

sama sekali tidak berdosa melakukan perbuatan yang hina yang dituduhkan

kepadaku. Aisha pamit dengan air mata tak terbendung. “Aku akan cari jalan

untuk menyelamatkan nyawamu, Suamiku. Aku tak mau jadi janda. Aku tak ingin

anakku ini nanti lahir dalam keadaan yatim. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Kau

adalah karunia agung yang diberikan oleh Allah kepadaku.” Kalimat dari bibirnya

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

271

yang bergetar itu membuat hatiku terasa pilu dan sedih. Tak lama lagi akan

memiliki seorang anak. Dan aku tidak tahu apakah masih akan sempat melihat

wajah anakku itu apa tidak? Hanya Tuhanlah yang tahu akan akhir nasibku.

Apapun yang akan terjadi aku harus siap menerimanya.Untuk membesarkan hati,

aku kembali mengingat kisah Nabi Yahya yang mati muda, kepalanya dipenggal

dan dihadiahkan kepada seorang pelacur. Kalau kehidupan dunia adalah segalanya

maka kesalehan seorang nabi tiada artinya.

* * *

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

272

26. Ayat Ayat Cinta

Musim dingin yang beku membuat tulang-tulangku terasa ngilu. Aku

nyaris tidak kuat dengan keadaan sel yang sangat menyiksa. Tanpa disiksapun

musim dingin dalam sel gelap, pengap, basah dan berbau pesing itu sangat

menyiksa. Seluruh sumsum tulang terasa pedih bernanah. Aku memasuki hari-hari

yang sangat berat.

Suatu sore, satu jam sebelum buka, tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri

Aisha menjenguk bersama paman Eqbal, dia tampak terpukul melihat keadaanku

yang sangat mengenaskan. Menjalani musim dingin dengan tanpa pelindung

tubuh yang cukup telah membuat seluruh persendianku kaku. Selama ini aku

nyaris tidak pernah tidur kecuali dengan posisi jongkok, tangan memegang kedua

kaki erat-erat. Beberapa kali aku merasa sangat tersiksa bagaikan orang yang

sedang sekarat.

“Suamiku, izinkanlah aku melakukan sesuatu untukmu!” Kata Aisha

dengan mata berkaca-kaca.

“Apa itu?”

“Beberapa waktu yang lalu Magdi mengatakan harapan kau bisa

dibebaskan sangat tipis sekali. Maria masih juga koma. Mungkin hanya mukjizat

yang akan menyadarkannya. Magdi berseloroh, jika punya uang untuk diberikan

pada keluarga Noura dan pihak hakim mungkin kau bisa diselamatkan. Kalau kau

mengizinkan aku akan bernegosiasi dengan keluarga Noura. Bagiku uang tidak

ada artinya dibandingkan dengan nyawa dan keselamatanmu.”

“Maksudmu menyuap mereka?”

“Dengan sangat terpaksa. Bukan untuk membebaskan orang salah tapi

untuk membebaskan orang tidak bersalah!”

“Lebih baik aku mati daripada kau melakukan itu!”

“Terus apalagi yang bisa aku lakukan? Aku tak ingin kau mati. Aku tak

ingin kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayi ini nanti tidak punya ayah. Aku tak

ingin jadi janda. Aku tak ingin tersiksa. Apalagi yang bisa aku lakukan?”

“Dekatkan diri pada Allah! Dekatkan diri pada Allah! Dan dekatkan diri

pada Allah! Kita ini orang yang sudah tahu hukum Allah dalam menguji hamba-

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

273

hamba-Nya yang beriman. Kita ini orang yang mengerti ajaran agama. Jika kita

melakukan hal itu dengan alasan terpaksa maka apa yang akan dilakukan oleh

mereka, orang-orang awan yang tidak tahu apa-apa. Bisa jadi dalam keadaan kritis

sekarang ini hal itu bisa jadi darurat yang diperbolehkan, tapi bukan untuk orang

seperti kita, Isteriku. Orang seperti kita harus tetap teguh tidak melakukan hal itu.

Kau ingat Imam Ahmad bin Hambal yang dipenjara, dicambuk dan disiksa habishabisan

ketika teguh memegang keyakinan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk. Al-

Qur’an adalah kalam Ilahi. Ratusan ulama pergi meninggalkan Bagdad dengan

alasan keadaan darurat membolehkan mereka pergi untuk menghindari siksaan.

Jika semua ulama saat itu berpikiran seperti itu, maka siapa yang akan memberi

teladan kepada umat untuk teguh memegang keyakinan dan kebenaran. Maka

Imam Ahmad merasa jika ikut pergi juga ia akan berdosa. Imam Ahmad tetap

berada di Bagdad mempertahankan keyakinan dan kebenaran meskipun harus

menghadapi siksaan yang tidak ringan bahkan bisa berujung pada kematian. Sama

dengan kita saat ini. Jika aku yang telah belajar di Al Azhar sampai merelakan

isteriku menyuap maka bagaimana dengan mereka yang tidak belajar agama sama

sekali. Suap menyuap adalah perbuatan yang diharamkan dengan tegas oleh

Baginda Nabi. Beliau bersabda, ‘Arraasyi wal murtasyi fin naar!’ Artinya, orang

yang menyuap dan disuap masuk neraka! Isteriku, hidup di dunia ini bukan

segalanya. Jika kita tidak bisa lama hidup bersama di dunia, maka insya Allah

kehidupan akherat akan kekal abadi. Jadi, kumohon isteriku jangan kau lakukan

itu! Aku tidak rela, demi Allah, aku tidak rela!”

Aisha tersedu-sedu mendengar penjelasanku. Dalam tangisnya ia berkata

dengan penuh penyesalan, “Astaghfirullah…astaghfirullaahal adhiim!” Paman

Eqbal ikut sedih dan meneteskan air mata.

“Aisha isteriku, apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.

Aisha menganggukkan kepala.

“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita yang sekarang ini

saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling

memusuhi.”

“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di

akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

274

“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada Allah maka

keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya

justru menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun besar. Tentu

kelak mereka berdua akan bertengkar di akhirat. Seseorang yang sangat mencintai

kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak peduli pada apa pun

juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa. Jika

yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan keduanya akan bermusuhan

kelak di akhirat. Sebab mereka akan berseteru di hadapan pengadilan Allah Swt.

Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah Swt dalam surat Az Zuhruf ayat 67:

‘Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya

menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.’

Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini saling menyayangi dan saling

mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin kelak di

akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan oleh Allah Swt. Aku

tak menginginkan yang lain kecuali itu isteriku. Hidup dan mati sudah ada

ajalnya. Allahlah yang menentukan bukan keluarga Noura juga bukan hakim

pengadilan itu. Jika memang kematianku ada di tiang gantungan itu bukan suatu

hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab tapi kematian adalah satu yaitu

kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah

besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin

kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangan dirimu di

akhirat nanti. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh agar kita tetap bersama

dan tidak kehilangan adalah bertakwa dengan sepenuh takwa kepada Allah Azza

Wa Jalla.”

Tangis Aisha semakin menjadi-jadi.

“Ka…kau benar Suamiku, terima kasih kau telah mengingatkan diriku.

Sungguh beruntung aku memiliki suami seperti dirimu. Aku mencintaimu

suamiku. Aku mencintaimu karena kau adalah suamiku. Aku juga mencintaimu

karena Allah Swt. Ayat yang kau baca dan kau jelaskan kandungannya adalah

satu ayat cinta di antara sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada

manusia. Keteguhan imanmu mencintai kebenaran, ketakwaan dan kesucian

dalam hidup adalah juga ayat cinta yang dianugerahkan Tuhan kepadaku dan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

275

kepada anak dalam kandunganku. Aku berjanji akan setia menempatkan cinta

yang kita bina ini di dalam cahaya kerelaan-Nya.”

Kalimat-kalimat yang terucap dari mulut Aisha menjadi penyejuk jiwa

yang tiada pernah kurasa sebelumnya. Ia seorang perempuan yang lunak hatinya

dan bersih nuraninya.

“Kisah percintaan kalian membuat hatiku sangat terharu. Aisha, memiliki

rasa cinta dan kesetiaan pada suami yang luar biasa. Kau seperti ibumu. Kau

mewarisi kelembutan hati seperti nenekmu yang asli Palestina. Jika beliau masih

ada pasti akan sangat bangga memiliki cucu sepertimu. Dan kau Fahri, aku belum

pernah melihat seorang lelaki yang seteguh dirimu dan sekuat dirimu dalam

bertanggung jawab mempertahankan cinta suci di dunia dan di akhirat. Kau benar,

hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat. Hidup yang kekal abadi tiada

penghabisannya. Sesungguhnya sore ini aku mendapatkan nasihat agung yang

tiada ternilai harganya.”

Azan berkumandang dan kami bersiap untuk buka. Sambil menjawab

azan, lirih kudengar Aisha berdoa, “Ya Allah kekalkan cinta kami di dunia dan di

akhirat. Ya Allah masukkan kami ke dalam surga Firdaus-Mu agar kami dapat

terus bercinta selama-lamanya. Amin.”

Setelah mereka pulang di dalam sel penjara aku menyatukan diri dalam

rengkuhan tangan Tuhan. Meskipun berada di dalam penjara aku masih

merasakan kenikmatan-kenikmatan yang kelihatannya biasa-biasa namun luar

biasa agungnya. Tuhan masih memberikan sentuhan cinta dan kasih sayang-Nya.

Aku tiada kuasa berbuat apa-apa kecuali meletakkan kening bersujud kepada-Nya.

Ilahi, setiap kali,

bila kurenungkan kemurahanMu

yang begitu sederhana mendalam

akupun tergugu

dan membulatkan sembahku padaMu113

* * *

113 Diadaptasi dengan sedikit perubahan dari puisi berjudul “Saat-saat Sadar” karya penyair Belgia,

Emile Verhaeren (1855-1916), yang sangat terkenal pasca perang dunia pertama.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

276

Hari raya Idul Fitri tiba. Aku merayakannya di dalam penjara berteman

duka dan air mata. Tidak seperti hari raya yang telah lalu. Aku tidak bisa

berbicara langsung dengan kedua orang tua di Indonesia. Aku hanya berpesan

kepada Aisha agar minta tolong kepada Rudi membelikan kartu lebaran di Attaba

dan mengirimnya tanpa memberitahukan keadaanku sebenarnya. Aku tak ingin

membuat mereka berdua berduka tiada terkira. Aku telah berpesan pada Ketua

PPMI agar jika ada teman mahasiswa dari Jawa pulang berkenan mampir ke

rumah orang tuaku dan menceritakan masalah yang menimpaku dengan baik dan

bijaksana.

Yang sedikit mengurangi kesedihanku pada hari raya itu adalah kunjungan

yang datang silih berganti dari pagi sampai sore. Pagi sekali, tak lama setelah

shalat Ied selesai Aisha, paman Eqbal dan bibi Sarah menjenguk. Setelah itu

teman-teman satu rumah alias Rudi dkk. Lalu Mas Khalid dan anak buahnya.

Ketua Kelompok Studi Walisongo (KSW) dan bala kurawanya. Takmir masjid

Indonesia. Beberapa staf KBRI yang rendah hati. Teman-teman S2 dan S3. Dan

beberapa kenalan lainnya.

Yang cukup mengejutkan diriku adalah kunjungan Nurul bersama Ustadz

Jalal dan isterinya. Nurul menyampaikan rasa terima kasihnya atas surat yang aku

tulis untuknya. Dia minta doanya tiga hari lagi akan melangsungkan akad nikah

dengan salah seorang mahasiswa Indonesia.

“Siapa dia calon suamimu yang beruntung itu, kalau aku boleh tahu?”

Tanyaku pada Nurul. Dia menundukkan kepala dan dia diam saja. Malu.

“Dia juga sedang menulis tesis. Juga kawan dekatmu.” Kata Ustadz Jalal

menanggapi pertanyaanku. Aku berpikir sesaat mencari seseorang yang

diisyaratkan oleh Ustadz Jalal.

“Apakah dia itu Mas Khalid?” tebakku.

“Tebakkanmu tidak salah,” jawab Ustadz Jalal.

“Dia orang yang shaleh, baik dan memiliki karakter dan dedikasi tinggi.”

kataku.

“Tapi cinta pertama sangat susah dilupakan.” Lirih Nurul.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

277

“Sekali lagi cinta sejati adalah yang telah diikat dengan tali suci

pernikahan. Jadikanlah Mas Khalid sebagai cinta pertama dan terakhirmu.”

pelanku.

Insya Allah, aku sedang berusaha untuk melakukan itu dengan segenap

usaha. Doakanlah pernikahan kami barakah, dan kami bahagia dan menemukan

mawaddah,” lirih Nurul.

“Sama-sama. Kita saling mendoakan,” jawabku.

Aku bahagia mendapat kunjungan yang membawa berita baik itu. Mas

Khalid memang pasangan yang cocok untuk Nurul. Keduanya sama-sama berasal

dari keluarga pesantren. Dan kepiawaian Mas Khalid dalam membaca kitab

kuning ala pesantren salaf akan sangat berguna bagi pengembangan pesantren

milik ayah Nurul. Mas Khalid bisa menjadi pengasuh pesantren yang baik. Dalam

banyak acara diskusi di Cairo dia paling sering diminta untuk memimpin doa.

Doanya panjang namun mampu membuat orang meneteskan air mata di hadapan

Tuhannya.

Dan yang tak kalah bahagianya hatiku adalah kunjungan Syaikh Prof. Dr.

Abdul Ghafur Ja’far bersama puteranya yang bernama Umar. Beliau berpesan

agar aku bersabar dan tidak pernah putus asa sedetikpun atas datangnya rahmat

Allah Swt. Beliau meminta maaf atas ketidakberdayaan beliau mempertahankan

diriku atas pengeluaranku dari Al Azhar. Beliau juga menjelaskan bahwa

sebenarnya Al Azhar mendapatkan tekanan dari keamanan untuk melakukan hal

itu padaku. Sebelum pulang beliau memelukku erat-erat lalu mengecup ubunubun

kepalaku.

“Ingat baik-baik Anakku, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja!”114

Pesan beliau kepadaku. Kunjungan Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar itu

membuat diriku memang benar-benar terasa ada. Orang sepenting dia masih

berkenan menengokku di penjara. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupa.

Menjelang Isya’, Syaikh Ahmad dan isterinya, Ummu Aiman datang.

Syaikh Ahmad sedikit membawa berita baik untukku. Yaitu saudara sepupunya,

Ridha Shahata, yang ditugaskan keluar Mesir pulang lebih awal dari jadwal yang

ditetapkan karena dia telah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Ridha

114 Dan siapa yang bertakwa kepada Allah maka dia akan menjadikan untuknya jalan keluar.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

278

Shahata berjanji akan membantu sebisanya. Yang paling penting menurut Ridha

Shahata dari cerita Syaikh Ahmad adalah bagaimana caranya Maria bisa

memberikan kesaksiannya di depan pengadilan. Aku lebih banyak diam, dalam

hati kukatakan, ‘Maria sangat susah diharapkan, jika memang aku harus mati di

tiang gantungan berarti memang Tuhan berkehendak demikian.’

Sejujurnya kukatakan, selama merayakan Iedul Fitri di Mesir aku belum

pernah mendapatkan kunjungan sebanyak itu. Meskipun berada di penjara, namun

hari raya yang kulewati cukup mengesan. Aku ikhlas seandainya hari raya yang

aku lewati adalah hari raya terakhirku di dunia.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

279

27. Diary Maria

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, Tuan Boutros dan Madame Nahed

datang. Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan datang menjenguk dan

mengucapkan selamat hari raya. Ternyata maksud kedatangan mereka tidak

semata-mata berkunjung. Tuan Boutros berkata, “Kedatangan kami berdua kemari

mau minta pertolonganmu sekali lagi untuk kesembuhan Maria.”

“Aku tidak mengerti maksud Tuan. Apa yang bisa aku lakukan dalam

keadaan seperti ini?” jawabku.

“Kaset rekaman suaramu itu bisa menyadarkan Maria beberapa menit.

Begitu sadar ia menanyakan dirimu. Ia terus menanyakan dirimu sampai tak

sadarkan diri kembali. Dokter ahli syaraf yang menanganinya meminta agar bisa

mendatangkan dirimu beberapa saat untuk menyadarkan Maria. Dengan suara dan

dengan sentuhan tanganmu ada kemungkinan Maria bisa sadar. Dan ketika

mendapatkan dirimu berada di sisinya, dia akan memiliki semangat hidup

kembali. Maria itu ternyata persis seperti ibunya yang tidak mudah jatuh cinta.

Namun sekali jatuh cinta dia bisa melupakan sama sekali orang yang dicintainya.

Madame Nahed ini dulu juga sakit seperti Maria sekarang, cuma tidak separah

Maria,” kata Tuan Boutros.

“Tolonglah Anakku, aku tak mau kehilangan Maria. Aku sudah pernah

mengalami apa yang dialami Maria. Hanya suaramu, sentuhanmu dan

kehadiranmu di sisinya yang akan membuat dirinya kembali memiliki cahaya

hidup yang telah redup,” desak Madame Nahed.

“Kalau hanya memperdengarkan suaraku padanya, insya Allah aku bisa.

Tapi kalau sampai menyentuhnya aku tidak bisa. Anda tentu sudah tahu kenapa?

Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu sementara aku berada di dalam penjara.

Apakah akan rekaman lagi?” jawabku.

“Kami akan minta izin kepada pihak kepolisian untuk membawamu ke

rumah sakit beberapa saat lamanya dengan jaminan,” kata Tuan Boutros.

“Semoga bisa,” sahutku pelan.

Keduanya lalu keluar. Aku menunggu di ruang tamu penjara dengan

penuh harap berdoa mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit menemui

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 280-289

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

280

Maria. Dan semoga aku bisa menyadarkan Maria sehingga nanti dia bisa menjadi

saksi dalam persidangan penentuan yang tidak lama lagi akan dilangsungkan.

Entah bagaimana diplomasi mereka pada pihak kepolisian dan jaminan apa yang

mereka berikan akhirnya mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit sampai

maghrib tiba. Saat azan maghrib berkumandang aku harus sudah berada di dalam

penjara lagi. Borgolku dilepas. Aku melihat jam dinding yang ada di ruangan itu.

Baru pukul setengah delapan pagi. Maghrib sekitar pukul lima empat lima. Ada

waktu sembilan jam setengah. Semoga waktu yang ada itu cukup untuk membantu

Maria.

Tuan Boutros dan Madame Nahed membawaku ke mobil mereka. Aku

heran, sama sekali kami tidak dikawal. Apa mereka tidak takut aku akan

melarikan diri. Aku tanyakan hal itu pada Tuan Boutros. Beliau menjawab, “Jika

kau lari maka kami sekeluarga akan mati. Kami sekeluarga yang menjadi

jaminanmu.”

“Apa Tuan tidak kuatir aku akan melarikan diri?” tanyaku.

“Aku sudah mengenal siapa dirimu. Kau bukan seorang pengecut yang

akan melakukan hal itu,” jawab Tuan Boutros mantap.

“Terima kasih atas kepercayaannya,” tukasku.

Rumah sakit tempat Maria dirawat adalah rumah sakit tempat aku dulu

dirawat. Begitu sampai di sana Madame Nahed yang juga seorang dokter

langsung meminta temannya untuk memeriksa kesehatanku. Aku sempat minta

pada Madame Nahed menghubungi Aisha yang tinggal di rumah paman Eqbal

yang tak jauh dari rumah sakit. Seorang dokter memeriksa tekanan darahku dan

lain sebagainya dengan proses yang cepat. Dia minta aku mandi dengan air

kemerahan yang telah disiapkan seorang perawat. Lalu salin pakaian rumah sakit.

Aku mandi dengan cepat. Setelah itu aku disuntik. Barulah aku diajak ke kamar di

mana Maria tergeletak seperti mayat. Aku tak kuasa menatapnya. Maria yang

kulihat itu tidak seperti Maria yang dulu. Ia tampak begitu kurus. Mukanya pucat

dan layu. Tak ada senyum di bibirnya. Matanya terpejam rapat. Air matanya terus

meleleh. Entah kenapa tiba-tiba mataku basah. Seorang dokter setengah baya

memintaku untuk berbicara dengan suara yang datang dari jiwa agar bisa masuk

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

281

ke dalam jiwa Maria. “Ini penyakit cinta, hanya bisa disembuhkan dengan

getaran-getaran cinta,” katanya padaku.

Aku duduk di kursi dekat Maria berbaring. Mulutku tak jauh dari telinga

Maria. Aku memanggil-manggil namanya. Menyuruhnya untuk membukakan

mata. Aku bercerita dan lain sebagainya. Satu jam sudah aku berbicara tapi Maria

tetap tidak sadar juga. Dokter setengah baya mengajakku bicara. Dia minta agar

aku mengucapkan kata-kata yang mesra, kata-kata pernyataan cinta pada Maria

sambil memegang-megang tangannya atau menyentuh keningnya.

Kujawab, “Maafkan diriku atas ketidakmampuanku melakukan hal itu.

Aku tidak mungkin menyatakan cinta dan menyentuh bagian tubuh seorang

wanita, kecuali pada isteriku saja.”

“Tolonglah, lakukan itu untuk merangsang syarafnya dan membuatnya

sadar. Kau harus mengatakan dan melakukan sesuatu yang memiliki efek pada

syaraf dan memorinya. Dan lebih dari itu pada jiwanya. Utarakanlah rasa cintamu

padanya, mungkin itu akan menolongnya.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak menyesal.”

“Ini tidak sungguhan.”

“Aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak bisa melakukan hal itu, juga

tidak bisa untuk melakukan suatu kebohongan. Bagaimana jika aku

mengungkapkan rasa cinta lalu dia sadar. Kemudian dia tahu aku membohonginya

apakah itu bukan suatu penyiksaan yang kejam padanya?”

Dokter setengah baya diam. Ia lalu keluar dan beranjak keluar untuk

berbicara pada Tuan Boutros dan Madame Nahed. Aku duduk terpekur dalam

ketermanguan. Lakon hidup ini kenapa begitu rumit? Aku melihat bibir Maria

bergetar menyebut sebuah nama. Hatiku berdesir. Yang ia sebut adalah namaku.

Aku menjawab dengan menyebut namanya tapi ia tidak juga membuka matanya.

Ingin aku menggoyang-goyang tubuhnya agar ia sadar, agar ia tahu aku ada di

dekatnya tapi itu tak mungkin aku lakukan. Tuan Boutros mengajakku berbicara

enam mata dengan Madame Nahed di sebuah ruangan. Tuan Boutros

menyerahkan sebuah agenda berwarna biru.

“Fahri, ini agenda pribadi Maria. Tempat ia mencurahkan segala perasaan

dan pengalamannya yang sangat pribadi yang terkadang kami tidak

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

282

mengetahuinya. Termasuk cintanya padamu yang luar biasa. Kami tidak pernah

menyalahkanmu dalam masalah ini. Sebab kamu memang tidak bersalah. Kamu

tidak pernah melakukan tindakan yang tidak baik pada Maria. Kami juga tidak

bisa menyalahkan Maria. Bacalah beberapa halaman yang telah kami tandai itu

agar kau mengetahui bagaimana perasaan Maria terhadapmu sebenarnya,” kata

Tuan Boutros.

Aku menerima agenda pribadi Maria itu dan membaca pada halamanhalaman

yang telah ditandai dengan sedikit dilipat ujung atas halamannya.

Kubuka lipatan 1:

Senin, 1 Oktober 2001, pukul 22.25

Sudah dua tahun dia dan teman-temannya tinggal di flat bawah.

Kamarnya tepat dibawah kamarku. Aku tak pernah berkenalan langsung

dengannya, tapi aku mengenalnya. Aku tahu namanya dan tanggal lahirnya.

Yousef banyak bercerita tentang dirinya dan teman-temannya. Setiap Jum’at pagi

dia dan teman-temannya bermain sepak bola di lapangan bersama Yousef dan

anak-anak muda Hadayek Helwan. Mereka semua mahasiswa Al Azhar dari

Indonesia yang ramah dan menghormati siapa saja. Kata Yousef yang paling

ramah dan dewasa adalah dia. Bahasa ‘amiyah dan fushanya juga paling baik di

antara keempat orang temannya.

Ayah pernah dibuat terharu oleh sikapnya yang tidak mau merepotkan

dan menyakiti tetangga. Ceritanya suatu hari ayah menagih iuran air ke

tempatnya. Ternyata ia sedang tidak enak badan dan istirahat di kamarnya.

Teman-temannya mengajak ayah masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya ada

sebuah ember untuk menadah air yang menetes dari langit-langit. Ayah langsung

tahu bahwa tetesan air itu berasal dari kamar mandi kami. Karena kamilah yang

tepat berada di atasnya. Dan letak kamar mandi memang berada di samping

kamarku. Ayah bertanya padanya,

“Sudah berapa lama air ini merembes dan menetes di kamarmu?”

“Satu bulan?”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

283

“Kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau ada ketidakberesan di kamar

mandi kami dan merembes ke tempatmu?”

“Nabi kami mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau bersabda,

‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah

tetangganya!’ Kami tahu kerusakan itu perlu diperbaiki. Dan perbaikan itu

memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena lantai rumah Anda adalah langilangit

rumah kami, maka biaya perbaikan itu tentunya kita berdua yang

menanggungnya. Kebetulan kami tidak punya uang. Kami menunggu ada uang

baru akan memberitahu Anda. Jika kami langsung memberitahu Anda kami takut

akan akan merepotkan Anda. Dan itu tidak kami inginkan.”

Mendengar jawaban itu hati ayah sangat tersentuh dan terharu. Ayah

terharu atas kesabaran dia selama satu bulan. Ada air menetes di langit-langit

kamar tentu sangat mengganggu kenyamanan. Ayah juga terharu akan

kedewasaannya dalam merasa bertanggung jawab. Ayah merasa mendapat

teguran. Bagaimana tidak? Setengah tahun sebelumnya ada air menetes di langitlangit

kamar mandi kami. Berarti kamar mandi penghuni rumah atas kami tidak

beres. Ayah dengan tegas langsung meminta orang atas memperbaikinya tanpa

memberi bantuan finansial sedikit pun. Sebab ayah merasa itu sepenuhnya

tanggung jawab orang atas. Sejak itu kekaguman ayah padanya dan pada temantemannya

sering ayah ungkapkan. Dan sejak kejadian itu aku jadi penasaran

ingin tahu lebih jauh tentang dirinya.

Sudah dua tahun dia tinggal di bawah dan aku tidak pernah bertegur sapa

dengannya. Seringkali kami bertemu tak sengaja di jalan, di halaman apartemen,

di gerbang, atau di tangga. Tapi kami tak pernah bertegur sapa. Dia lebih sering

menunduk. Jika tanpa sengaja beradu pandangan saat bertemu denganku dia

cepat-cepat menunduk atau mengalihkan padangan. Dia bersikap biasa. Tidak

tersenyum juga tidak bermuka masam. Akhirnya tadi siang saat aku pulang dari

kuliah aku bertemu dia di dalam metro. Dia juga dari kuliah. Aku memberanikan

diri untuk menyapanya dan mengajaknya bicara. Sebab rasa-rasanya rasa

penasaranku ingin tahu sendiri keindahan pribadinya seperti yang sering

diceritakan Yousef dan ayah tidak dapat aku tahan lagi. Aku menyapanya dengan

tersenyum dan dia pun menjawab dengan baik dan halus. Aku heran pada diriku

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

284

sendiri bagaimana mungkin aku tersenyum padanya. Aku jarang bahkan bisa

dikatakan anti memberikan senyum pada lelaki yang bukan keluargaku. Aku tidak

tahu kenapa aku memberikan senyumku padanya dan aku tidak merasa menyesal

bahkan sebaliknya. Yang membuatku senang adalah dia ternyata tahu namaku.

Saat itu aku ingin bertanya padanya kenapa selama ini kalau bertemu di jalan

atau ditangga tidak pernah menyapaku. Tapi kuurungkan.

Perbincangan dengannya tadi siang sangat berkesan di hatiku. Dia

memiliki tutur bahasa yang halus dan kepribadian yang indah. Ia tidak mau aku

ajak berjabat tangan. Bukan tidak menghormati diriku, kata dia, justru karena

menghormati diriku. Dia juga bisa menjadi pendengar yang baik. Sifat yang tidak

banyak dimiliki setiap orang. Ia sangat senang menyimak aku membaca surat

Maryam. Kelihatannya ia kaget ada gadis koptik hafal surat Maryam. Aku bukan

gadis yang mudah terkesan pada seorang pemuda. Tapi entah kenapa aku merasa

sangat terkesan dengan sikap-sikapnya. Dan entah kenapa hatiku mulai condong

padanya. Hatiku selalu bergetar mendengar namanya. Lalu ada perasaan halus

yang menyusup ke sana tanpa aku tahu perasaan apa itu namanya. Fahri, nama

itu seperti embun yang menetes dalam hati. Kurindu setiap pagi.

Lipatan 2:

Minggu, 16 Desember 2001, pukul 21.00

Kenapa aku menangis? Perasaan apa yang mendera hatiku

sekarang?Begitu menyiksa. Aku tak pernah merindukan seseorang seperti rinduku

padanya. Sudah satu bulan aku tidak melihatnya melintas di halaman apartemen.

Sudah satu bulan dia menghilang membuat hatiku merasa tercekam kerinduan.

Yousef bilang Fahri pergi umrah sejak pertengahan Ramadhan dan sampai

sekarang belum juga pulang. Aku merasa memang telah jatuh cinta padanya.

Cinta yang datang begitu saja tanpa aku sadari kehadirannya di dalam hati.

Lipatan 3:

Sabtu, 10 Agustus 2002 pukul 11.15

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

285

Pulang dari restoran Cleopatra kugoreskan pena ini. Sebab aku tidak bisa

mengungkapkan gelegak perasaanku secara tuntas kecuali dengan

menorehkannya dalam diary ini.

Akhirnya keraguanku padanya hilang, berganti dengan keyakinan. Selama

ini aku ragu apakah dia bisa romantis. Sebab selama bertemu atau berbicara

dengannya dia sama sekali tidak pernah berkata yang manis-manis. Selalu biasa,

datar dan wajar. Dia selalu tampak serius meskipun setiap kali aku tersenyum

padanya dia juga membalas dengan senyum sewajarnya.

Tapi malam ini, apa yang dia lakukan membuat hatiku benar-benar sesak

oleh rasa cinta dan bangga padanya. Dia sangat perhatian dan suka membuat

kejutan. Kali ini yang mendapat kejutan indah darinya adalah Mama dan Yousef.

Mereka berdua mendapat hadiah ulang tahun darinya. Meskipun di atas namakan

seluruh anggota rumahnya tapi aku yakin dialah yang merencanakan semuanya.

Dia ternyata sangat romantis. Tak perlu banyak berkata-kata dan langsung

dengan perbuatan nyata. Fahri, aku benar-benar tertawan olehmu. Tapi apakah

kau tahu yang terjadi pada diriku? Apakah kau tahu aku mencintaimu? Aku malu

untuk mengungkapkan semua ini padamu. Dan ketika kau kuajak dansa tidak mau

itu tidak membuatku kecewa tapi malah sebaliknya membuat aku merasa sangat

bangga mencintai lelaki yang kuat menjaga prinsip dan kesucian diri seperti

dirimu.

Lipatan 4:

Minggu, 11 Agustus 2002 pukul 22.00

Aku sangat cemas memikirkan dia. Dia dia tergeletak keningnya panas.

Kata Mama terkena heat stroke. Kata teman-temannya dia seharian melakukan

kegiatan yang melelahkan di tengah musim panas yang sedang menggila.

Oh, kekasihku sakit

Aku menjenguknya

Wajahnya pucat

Aku jadi sakit dan pucat

Karena memikirkan dirinya

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

286

Aku semakin tahu siapa dia. Untuk pertama kalinya aku tadi masuk

kamarnya ikut Mama dan Ayah menjenguknya. Dia seorang pemuda yang ulet,

pekerja keras, dan memiliki rencana ke depan yang matang. Aku masih ingat dia

menyitir perkataan bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang

jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang

yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan

yang mulus!’

Aku merasa tidak salah mencintai dia. Aku ingin hidup bersamanya.

Merenda masa depan bersama dan membesarkan anak-anak bersama.

Membangun peradaban bersama. Oh Fahri, apakah kau mendengar suara-suara

cinta yang bergemuruh dalam hatiku?

Lipatan 5:

Sabtu, 17 Agustus 2002, pukul 23.15

Aku belum pernah merasakan ketakutan dan kecemasan sehebat ini? Aku

tak ingin kehilangan dirinya. Dia memang keras kepala. Diingatkan untuk

menjaga kesehatannya tidak juga mengindahkannya. Akhirnya terjadilah

peristiwa yang membuat diriku didera kecemasan luar biasa.

Siang tadi pukul setengah empat Saiful datang dengan wajah cemas.

Minta tolong Fahri dibawa ke rumah sakit. Fahri tak sadarkan diri. Aku telpon

Mama di rumah sakit lalu bersama Yousef membawa Fahri ke rumah sakit. Aku

menungguinya sampai jam delapan malam. Dan dia belum juga siuman. Ah,

Fahri kau jangan mati! Aku tak mau kehilangan dirimu. Sembuhlah Fahri, aku

akan katakan semua perasaanku padamu. Aku sangat mencintaimu.

Lipatan 6:

Minggu, 18 Agustus 2002, pukul 17.30

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

287

Seolah-olah akulah yang sakit, bukan dia. Tuhan, jangan kau panggil dia.

Aku ingin dia mendengar dan tahu bahwa aku sangat mencintainya.

Dia tergeletak tanpa daya berselimut kain putih. Kata Saiful pukul

setengah tiga malam dia sadar tapi tak lama. Lalu kembali tak sadarkan diri

sampai aku datang menjenguknya jam setengah delapan pagi tadi. Kulihat Saiful

pucat. Ia belum tidur dan belum makan. Kuminta dia keluar mencari makan. Aku

mengantikan Saiful menjaganya. Aku tak kuasa menahan sedih dan air mataku.

Dia terus mengigau dengan bibir bergetar membaca ayat-ayat suci. Wajahmu

pucat. Air matanya meleleh . Mungkin dia merasakan sakit yang tiada terkira.

Aku tak kuasa menahan rasa sedih yang berselimut rasa cinta dan sayang

padanya. Kupegang tangannya dan kuciumi. Kupegang keningnya yang hangat.

Aku takut sekali kalau dia mati. Aku tidak mau dia mati. Aku tak bisa menahan

diriku untuk tidak menciumnya. Pagi itu untuk pertama kali aku mencium seorang

lelaki. Yaitu Fahri. Aku takut dia mati. Kuciumi wajahnya. Kedua pipinya. Dan

bibirnya yang wangi. Aku tak mungkin melupakan kejadian itu. Kalau dia sadar

mungkin dia akan marah sekali padaku. Tapi aku takut dia mati. Saat

menciumnya aku katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya. Tapi dia tak

juga sadar. Tak juga menjawab.

Pukul delapan dia bangun dan dia kelihatan kaget melihat aku berada di

sisinya. Aku ingin mengatakan aku cinta padanya. Tapi entah kenapa melihat

sorot matanya yang bening aku tidak berani mengatakannya. Tenggorokanku

tercekat. Mulutku terkunci hanya hati yang berbicara tanpa suara. Tapi aku

berjanji akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya padanya.

Aku ingin menikah dengannya. Dan aku akan mengikuti semua keinginannya. Aku

sangat mencintainya seperti seorang penyembah mencintai yang disembahnya.

Memang memendam rasa cinta sangat menyiksa tapi sangat mengasyikkan. Love

is a sweet torment!

Lipatan terakhir:

Jum’at, 4 Oktober 2002, pukul 23.25

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

288

Aku masih sangat kelelahan baru pulang dari Hurgada. Baru setengah

jam meletakkan badan di atas kasur aku mendapatkan berita yang

meremukredamkan seluruh jiwa raga. Fahri telah menikah dengan Aisha,

seorang gadis Turki satu minggu yang lalu. Aku merasa dunia telah gelap. Dan

hidupku tiada lagi berguna. Harapan dan impianku semua lenyap. Aku kecewa

pada diriku sendiri. Aku kecewa pada hari-hari yang telah kujalani. Andaikan

waktu bisa diputar mundur aku akan mengungkapkan semua perasaan cintaku

padanya dan mengajaknya menikah sebelum dia bertemu Aisha. Aku merasa

ingin mati saja. Tak ada gunanya hidup tanpa didampingi seorang yang sangat

kucintai dan kusayangi. Aku ingin mati saja. Aku ingin mati saja. Aku rasa aku

tiada bisa hidup tanpa kekuatan cinta. Aku akan menunggunya di surga.

Air mataku tak bisa kubendung membaca apa yang ditulis Maria dalam

diary pribadinya. Aku cepat-cepat menata hati dan jiwaku. Aku tak boleh larut

dalam perasaan haru dan cinta yang tiada berhak kumerasakannya. Aku sudah

menjadi milik Aisha. Dan aku harus setia lahir batin, dalam suka dan duka, juga

dalam segala cuaca.

“Hanya kau yang bisa menolongnya Anakku. Nyawa Maria ada di

tanganmu,” ucap Madame Nahed pelan dengan air mata meleleh di pipinya.

“Bukan aku. Tapi Tuhan,” jawabku.

“Ya. Tapi kau perantaranya. Kumohon lakukanlah sesuatu untuk Maria!”

“Aku sudah melakukannya semampuku.”

“Lakukanlah seperti yang diminta dokter. Tolong.”

“Andai aku bisa Madame, aku tak bisa melakukannya.”

“Kenapa?”

“Aku sudah katakan semuanya pada dokter.”

“Kalau begitu nikahilah Maria. Dia tidak akan bisa hidup tanpa dirimu.

Sebagaimana aku tidak bisa hidup tanpa Boutros.”

“Itu juga tidak mampu aku lakukan. Aku sangat menyesal.”

“Kenapa Fahri? Kau tidak mencintainya? Kalau kau tidak bisa

mencintainya maka kasihanilah dia. Sungguh malang nasibnya jika harus mati

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

289

dalam keadaan sangat sengsara dan menderita. Kasihanilah dia, Fahri. Kumohon

demi rasa cintamu pada nabimu.”

“Masalahnya bukan cinta atau kasihan Madame.”

“Lantas apa?”

“Aku sudah menikah. Dan saat menikah aku menyepakati syarat yang

diberikan isteriku agar aku menjadikan dia isteri yang pertama dan terakhir. Dan

aku harus menunaikan janji itu. Aku tidak boleh melanggarnya.”

“Aku akan minta pada Aisha untuk memberikan belas kasihnya pada

Maria. Aku yakin Aisha seorang perempuan shalihah yang baik hati. Kebetulan

itu dia, baru datang. Kau tunggulah di sini bersama Boutros. Aku mau bicara

empat mata dengan Aisha.” Kata Madame Nahed sambil berjalan menyambut

Aisha. Keduanya lalu berjalan memasuki sebuah ruangan. Entah apa yang akan

dikatakan Madame Nahed pada Aisha. Semoga Aisha tidak terluka hatinya. Dan

aku sama sekali tidak punya niat sedetikpun untuk menduakan Aisha dengan

Maria. Aku tidak pernah berpikir kalau Maria mencintaiku sedemikian rupa.

* * *

Setelah berbincang dengan Madame Nahed, Aisha mengajakku berbicara

empat mata. Matanya berkaca-kaca.

“Fahri, menikahlah dengan Maria. Aku ikhlas.”

“Tidak Aisha, tidak! Aku tidak bisa.”

“Menikahlah dengan dia, demi anak kita. Kumohon! Jika Maria tidak

memberikan kesaksiannya maka aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk

menyelamatkan ayah dari anak yang kukandung ini.” Setetes air bening keluar

dari sudut matanya.

“Aisha, hidup dan mati ada di tangan Allah.”

“Tapi manusia harus berusaha sekuat tenaga. Tidak boleh pasrah begitu

saja. Menikahlah dengan Maria lalu lakukanlah seluruh petunjuk dokter untuk

menyelamatkannya.”

“Aku tak bisa Aisha. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau yang

pertama dan terakhir bagiku.”

“Kalau kau mencintaiku maka kau harus berusaha melakukan yang terbaik

untuk anak kita. Aku ini sebentar lagi menjadi ibu. Dan seorang ibu akan

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 290 – 300

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

290

melakukan apa saja untuk ayah dari anaknya. Menikahlah dengan Maria. Dan kau

akan menyelamatkan banyak orang. Kau menyelamatkan Maria. Menyelamatkan

anak kita. Menyelamatkan diriku dari status janda yang terus membayang di

depan mata dan menyelamatkan nama baikmu sendiri.”

“Aku mencintai kalian semua. Tapi aku lebih mencintai Allah dan Rasul-

Nya. Budak hitam yang muslimah lebih baik dari yang bukan muslimah. Aku tak

mungkin melakukannya isteriku.”

“Aku yakin Maria seorang muslimah.”

“Bagaimana kau bisa yakin begitu?”

“Dengan sekilas membaca diarynya. Jika dia bukan seorang muslimah dia

tidak akan mencintaimu sedemikian kuatnya. Kalau pun belum menjadi muslimah

secara lesan dan perbuatan, aku yakin fitrahnya dia itu muslimah.”

“Aku tidak bisa berspekulasi isteriku. Aku tidak bisa melakukannya.

Dalam interaksi sosial kita bisa toleran pada siapa saja, berbuat baik kepada siapa

saja. Tapi untuk masalah keyakinan aku tidak bisa main-main. Aku tidak bisa

menikah kecuali dengan perempuan yang bersaksi dan meyakini tiada Tuhan

selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kalau untuk bertetangga,

berteman, bermasyarakat aku bisa dengan siapa saja. Untuk berkeluarga tidak bisa

Aisha. Tidak bisa!”

“Suamiku aku sependapat denganmu. Sekarang menikahlah dengannya.

Anggaplah ini ijtihad dakwah dalam posisi yang sangat sulit ini. Nanti kita akan

berusaha bersama untuk membawa Maria ke pintu hidayah. Jika tidak bisa,

semoga Allah masih memberikan satu pahala atas usaha kita. Tapi aku sangat

yakin dia telah menjadi seorang muslimah. Jika tidak bagaimana mungkin dia

mau menerjemahkan buku yang membela Islam yang kau berikan pada Alicia itu.

Itu firasatku. Kumohon menikahlah dan selamatkan Maria. Bukankah dalam Al-

Qur’an disebutkan, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang

manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia

seluruhnya.?”

Aku diam tidak bisa bicara apa-apa. Aku tidak pernah membayangkan

akan menghadapi suasana psikologis yang cukup berat seperti ini. Aisha

mengambil cincin mahar yang aku berikan di jari manis tangan kanannya.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

291

“Ini jadikan mahar untuk Maria. Waktunya sangat mendesak. Sebelum

maghrib kau harus sampai di penjara. Jadi kau harus segera menikah dan

melakukan semua petunjuk dokter untuk menyadarkan Maria.” Kata-kata Maria

begitu tegas tanpa ada keraguan, setegas perempuan-perempuan Palestina ketika

menyuruh suaminya berangkat ke medan jihad. Dengan sedikit ragu aku

mengambil cincin itu. Aku tak bisa menahan isak tangisku. Aisha memelukku,

kami bertangisan.

“Suamiku kau jangan ragu! Kau sama sekali tidak melakukan dosa.

Yakinlah bahwa kau akan melakukan amal shaleh,” bisik Aisha.

Setelah itu aku menemui Madame Nahed dan Tuan Boutros. Mereka

berdua menyambut kesediaanku dengan bahagia. Proses akad nikah dilaksanakan

dalam waktu yang sangat cepat, sederhana, sesuai dengan permintaanku. Seorang

ma’dzun syar’i mewakili Tuan Boutros menikahkan diriku dengan Maria dengan

mahar sebuah cincin emas. Saksinya adalah dua dokter muslim yang ada di rumah

sakit itu.

Setelah itu dokter setengah baya memberikan petunjuk apa yang harus aku

lakukan untuk membantu Maria sadar dari komanya. Aku minta hanya aku dan

Maria yang ada di ruang itu. Aku wudhu dan shalat dua rakaat lalu berdoa di

ubun-ubun kepala Maria seperti yang aku lakukan pada Aisha. Aku hampir tidak

percaya bahwa gadis Mesir yang dulu lincah, ceria dan kini terbaring lemah tiada

berdaya ini adalah isteriku. Segenap perasaan kucurahkan untuk mencintainya.

Aku membisikkan ke telinganya ungkapan-ungkapan rasa cinta dan rasa sayang

yang mendalam. Aku lalu menciuminya seperti dia menciumiku waktu aku sakit.

Tapi dia tetap diam saja. Aku lalu menangis melihat usahaku sepertinya sia-sia.

Aku ingin melakukan lebih dari itu tapi tidak mungkin. Aku hanya bisa terisak

sambil memanggil-manggil nama Maria.

Tiba-tiba aku melihat sujud mata Maria melelehkan air mata. Aku yakin

Maria mulai mendengar apa yang aku katakan. Aku kembali menciumi tangannya.

Lalu mencium keningnya. “Maria, bangunlah Maria. Jika kau mati maka aku juga

akan ikut mati. Bangunlah kekasihku! Aku sangat mencintaimu!” kuucapkan

dengan pelan di telinganya dengan penuh perasaan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

292

Kepalanya menggeliat, dan perlahan-lahan ia mengerjapkan kedua

matanya. Aku memegang kedua tanganya sambil kubasahi dengan air mataku.

“F..f..Fahri..?”

“Ya, aku di sisimu Maria.”

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Maria bisa bicara meskipun

dengan suara yang lemah,

“Aku mendengar kau berkata bahwa kau mencintaiku, benarkah?”

“Benar. Aku sangat mencintaimu,Maria?”

“Kenapa kau pegang tanganku. Bukankah itu tidak boleh?”

“Boleh! Karena kau sudah jadi isteriku.”

“Apa?”

“Kau sudah jadi isteriku, jadi aku boleh memegang tanganmu?”

“Siapa yang menikahkan kita?”

“Ayahmu. Apa kau tidak mau jadi isteriku?”

Mata Maria berkaca-kaca, “Itu impianku. Aku merasa kita tidak akan bisa

menikah setelah kau menikah dengan Aisha. Terus bagaimana dengan Aisha?”

“Dia yang mendorongku untuk menikahimu. Ini cincin yang ada di

tanganmu adalah pemberian Aisha. Anggaplah dia sebagai kakakmu.”

“Aku tak menyangka Aisha akan semulia itu.”

“Fahri, aku mau minta maaf. Saat kau sakit dulu aku pernah men…”

“Aku sudah tahu semuanya. Tadi saat kau belum bangun aku sudah

membalasnya.”

Maria tersenyum. “Aku ingin kau mengulanginya lagi. Aku ingin

merasakannya dalam keadaan sadar.” Pinta Maria dengan sorot mata berbinar.

Aku memenuhi permintaannya. Seketika wajahnya kelihatan lebih bercahaya dan

segar.

“Maria.”

“Ya.”

“Berjanjilah kau akan mengembalikan semangat hidupmu.”

“Setelah aku menemukan kembali cintaku maka dengan sendirinya aku

menemukan kembali semangat hidupku. Saat ini, aku merasakan kebahagiaan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

293

yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa menjadi wanita paling

berbahagia di dunia setelah sebelumnya merasa menjadi wanita paling sengsara.”

Aku melihat jam dinding. Satu jam lagi aku harus sampai di penjara.

Dengan mata berkaca aku berkata, “Maria, aku keluar sebentar memberitahukan

keadaanmu pada dokter, ayah ibumu dan Aisha.”

Maria mengangguk. Madame Nahed dan Tuan Boutros sangat berbahagia

mendengar sadarnya Maria. Serta merta mereka berdua melangkah masuk diiringi

dokter setengah baya. Kulihat Aisha duduk sendirian di bangku. Aku

mendekatinya dan duduk di sampingnya. Aisha diam saja. Matanya basah.

“Kau menangis Aisha?”

Aisha diam seribu bahasa seolah tidak mendengar pertanyaanku.

“Kau menyesal dengan keputusanmu?”

Dia menggelengkan kepala.

“Kenapa kau menangis? Kau cemburu?”

Aisha mengangguk. Aku memeluknya, “Maafkan aku Aisha, semestinya

kau tidak menikah denganku sehingga kau menderita seperti ini.”

“Kau jangan berkata begitu Fahri. Menikah denganmu adalah

kebahagianku yang tiada duanya. Kau tidak bersalah apa-apa Fahri. Tak ada yang

salah denganmu. Kau sudah berusaha melakukan hal yang menurutmu baik. Rasa

cemburu itu wajar. Meskipun aku yang memaksamu menikahi Maria. Tapi rasa

cemburuku ketika kau berada dalam kamar dengannya itu datang begitu saja.

Inilah cinta. Tanpa rasa cemburu cinta tiada.”

“Aku takut sebenarnya aku tidak pantas dicintai siapa-siapa.”

“Tidak Fahri. Kalau seluruh dunia ini membencimu aku tetap akan setia

mencintaimu.”

“Terima kasih atas segala ketulusanmu Aisha. Aku akan berusaha

membalas cintamu dengan sebaik-baiknya. Aisha, sebentar lagi aku harus kembali

ke penjara. Aku belum menjelaskan keadaanku pada Maria. Kaulah nanti yang

pelan-pelan menjelaskan padanya semuanya. Kau jangan ragu, Maria sangat

menghormatimu.”

Aku lalu masuk ke kamar menemui Tuan Boutros dan Madame Nadia.

Aku mengingatkan keduanya waktuku telah habis. Mata Madame Nadia

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

294

menatapku dengan berkaca-kaca. Aku pamitan padanya dan mencium tangannya.

Dia kini jadi ibuku. Maria kelihatannya heran dengan yang ia lihat. Tuan Boutros

menjelaskan pada Maria bahwa diriku ada urusan penting sekali. Aku menatap

wajah Maria dalam-dalam. Dia menantapku penuh sayang. Air mataku hendak

keluar tapi kutahan sekuat tenaga.

“Tersenyumlah dulu sebelum pergi, Sayang.” lirih Maria. Aku tersenyum

sebisanya. Maria tersenyum manis sekali. Aku jadi teringat Aisha. Dua wanita itu

memiliki senyum yang sama manisnya.

“Nanti Aisha akan menungguimu dan banyak bercerita denganmu. Kau

jangan terkejut jika ada hal-hal yang akan membuatmu terkejut. Aku pergi dulu.

Jangan pernah kau lupakan sedetik pun Maria, bahwa aku sangat mencintaimu.

Cintaku kepadamu seperti cintanya seorang penyembah kepada sesembahannya.”

Aku mengambil kata-kata yang ditulis Maria dalam agendanya. Maria

sangat senang mendengarnya. Seorang isteri sangat suka dihadiahi kata-kata indah

tanda cinta dan kasih sayang.

“Terima kasih Fahri, kau sungguh romantis dan menyenangkan.”

Aku melangkah keluar bersama Tuan Boutros untuk kembali ke penjara.

Di luar aku memeluk Aisha erat-erat. Sesaat lamanya aku terisak dalam

pelukannya. “Aisha, temani Maria dan ceritakan semua yang sedang aku alami

dengan bijaksana padanya. Aku yakin kau mampu melaksanakannya. Semoga saat

sidang nanti dia bisa memberikan kesaksiannya.”

Insya Allah, aku akan melakukan tugasku dengan baik Suamiku. Jangan

lupa nanti malam shalat tahajjud. Berdoalah kepada Allah untuk dirimu, diriku,

anak kita, dan Maria. Di sepertiga malam Allah turun untuk mendengarkan doa

hamba-hamba-Nya,” pesan Aisha.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

295

28. Sidang Penentuan

Sidang penentuan itu pun datang. Amru dan Magdi datang dengan wajah

tenang. Syaikh Ahmad dan isterinya juga datang. Orang-orang Indonesia di Mesir

banyak yang datang. Namun Maria, dan Aisha belum juga datang. Sudah dua

puluh menit menunggu mereka belum juga kelihatan. Noura dan keluarganya

beberapa kali memandangku dengan pandangan yang merendahkan. Apapun yang

akan terjadi aku pasrah kepada Tuhan.

Akhirnya hakim memulai sidang. Sambil menunggu Maria datang, Amru

mengajukan Syaikh Ahmad dan isterinya sebagai saksi. Mereka berdua tampil

bergantian memberikan kesaksian. Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menangis

saat memberikan kesaksiannya. Ia merasa sangat sakit hatinya atas apa yang

dilakukan Noura. Sambil terisak dan sesekali menyeka matanya Ummu Aiman

berkata, “Entah dengan siapa Noura melakukan perzinahan. Tapi jelas bukan

dengan Fahri. Apa yang dikatakan Noura bahwa Fahri memperkosanya adalah

fitnah yang sangat keji. Noura sungguh gadis yang tidak tahu diri. Ia telah

ditolong tapi memfitnah orang yang dengan tulus hati menolongnya. Aku hanya

bisa bersaksi bahwa selama Noura di Tafahna ia menceritakan kejadian malam itu

dan tidak pernah menyebut bersama Fahri dari jam tiga sampai azan pertama. Ia

bercerita malam itu ia bersama Maria sampai pagi. Jika pengadilan ini akhirnya

memenangkan seorang pemfitnah maka kelak di hari kemudian seorang pemfitnah

akan dibinasakan oleh keadilan Tuhan.”

Kulihat reaksi Noura. Dia hanya menundukkan kepala. Sementara ayah

dan ibunya menatap Ummu Aiman tanpa kedip dengan tatapan garang dan

kebencian. Jaksa penuntut mencerca Ummu Aiman dengan beberapa pertanyaan

dan Ummu Aiman menjawabnya dengan tenang. Beberapa kali ia menjawab,

‘Tidak tahu!’

Ketika Ummu Aiman turun dari memberikan kesaksian, Maria datang. Ia

duduk di atas kursi roda didorong oleh adiknya Yousef. Di iringi Aisha, Tuan

Boutros, Madame Nahed, Paman Egbal, Bibi Sarah, dan seorang polisi berdasi

yang gagah. Melihat Maria datang serta merta Syaikh Ahmad bertakbir diikuti

oleh gemuruh takbir orang-orang Indonesia. Polisi berdasi langsung mendekati

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

296

Syaikh Ahmad berbincang sebentar lalu mendekati Amru. Dia tampak

menyerahkan beberapa berkas. Amru melihat berkas itu sebentar lalu tersenyum

padaku. Amru meminta kepada hakim untuk mendengarkan kesaksian Maria.

Saksi kunci dalam kasus ini. Sebab dialah yang mengerti dengan pasti apa yang

dilakukan Noura malam itu. Benarkah Noura berada di kamarku antara jam tiga

sampai azan pertama ataukah justru Noura bersama Maria. Hakim mempersilakan

Maria berbicara setelah disumpah akan memberikan kesaksian yang sejujurjujurnya.

Maria pun berbicara dengan suara agak lemah. Wajahnya tampak

memerah karena emosi. Ia berusaha menahan emosinya. Mikrofon yang

dipegangnya cukup membantu memperjelas suaranya.

“Pak Hakim dan seluruh yang hadir dalam sidang ini, saya berani bersaksi

atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa Noura malam itu, sejak pukul

dua malam sampai pagi berada di kamarku. Ia sama sekali tidak keluar dari

kamarku. Ia selalu bersamaku. Jika dia mengatakan pukul tiga aku mengantarnya

turun ke rumah Fahri itu bohong belaka. Dalam rentang waktu itu dia sama sekali

tidak keluar dari rumahku. Jika Noura mengatakan pemerkosaan atas dirinya

terjadi dalam rentang waktu itu sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin

ada pemerkosaan waktu itu padahal dia berada di kamarku. Dan Fahri berada di

kamarnya. Untuk membuktikan omongan saya ini, saya punya bukti nyata.

Begini, kira-kira pukul tiga lebih sepuluh menit Maria menelpon ke salah satu

temannya dengan telpon rumahku. Dia menelpon teman satu kelasnya bernama

Khadija yang tinggal di Wadi Hof. Dia berbicara kira-kira sepuluh menit. Dan

kami bawa bukti tercatat dari kantor telkom adanya percakapan itu. Bahkan

rekaman pembicaraan Noura dengan Khadija juga ada. Kebetulan Khadija juga

datang bersama kami. Dia bisa menjadi saksi. Dengan bukti kuat ini, aku berharap

Bapak Hakim bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Apa yang

dikatakan Noura adalah fitnah belaka. Dia harus mendapatkan ganjaran atas

tuduhan kejinya. Entah setan apa yang membuat Noura yang dulu jujur dan baik

hati kini berubah menjadi tukang fitnah yang tidak memiliki nurani. Dia

menyerahkan kegadisannya pada orang lain lalu menuduh Fahri yang

melakukannya. Aku sangat menyesal menolong perempuan berhati busuk seperti

dia. Demi Allah Yang Maha Mengetahui, aku tidak rela atas tuduhan yang

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

297

dilontarkan Noura kepada Fahri. Aku tidak rela. Jika sampai Fahri divonis salah

maka Noura akan menjadi musuhku di hadapan Allah di akherat

kelak..ugh..ugh..ugh..!” Maria batuk lalu jatuh tak sadarkan diri di kursi rodanya.

Madame Nahed yang tahu akan hal itu langsung mengambil Maria dan

menggeledeknya keluar ruangan bersama Yousef. Mungkin langsung

membawanya kembali ke rumah sakit.

Setelah Maria, Khadija memberikan kesaksian memang benar pada malam

itu sekitar jam tiga lebih Noura menelponnya dan menceritakan kisah sedihnya.

Namun Noura minta agar tidak memberitahukan Bahadur bahwa dia

menelponnya. Amru lalu memberikan selembar kertas dari kantor telkom Mesir

berisi perincian pemanggilan dan penerimaan panggilan nomor telpon rumah

Maria. Yang membuat heran adalah Amru membunyikan rekaman pembicaraan

Noura-Khadija via telpon malam itu. Setelah itu Amru mengajukan kesaksian

paling mengejutkan yaitu kesaksian lelaki ceking bernama Gamal yang pada saat

pengadilan pertama menjadi saksi pihak Noura. Kini Gamal bersaksi kembali:

“Pak Hakim dan hadirin semuanya. Saya ingin memberikan kesaksian

yang sejujurnya. Di tempat ini saya hendak berkata apa sebenarnya yang saya

alami. Sebenarnya apa yang saya katakan pada pengadilan pertama tidak benar.

Saya minta maaf atas kesaksian palsu saya. Saya khilaf. Dan pada kesempatan

kali ini saya mengaku dengan sejujurnya saya tidak tahu menahu mengenai

masalah ini. Saya tidak melihat nona Noura turun dan masuk rumah Fahri. Sebab

malam itu saya tidur di rumah bersama isteri dan anak saya. Saya bukan seorang

pemburu burung hantu. Itu semua rekayasa belaka. Terima kasih.”

Setelah mendengar semua kesaksian itu Amru berpidato dengan bahasa

yang luar biasa kuatnya. Ia meyakinkan kepada siapa saja yang mendengarnya

bahwa Noura seorang pemfitnah. Berkali-kali dengan bahasa yang kuat dan tajam

dia menghabisi Noura. Kulihat Noura pucat dan meneteskan air mata. Selesai

Amru bicara Noura angkat tangan dan minta kepada hakim untuk bicara. Hakim

memberinya waktu lima menit. Noura berdiri dan menuju podium. Di sana dia

berbicara dengan kepala menunduk sambil menangis terisak-isak:

“Pak Hakim dan hadirin sekalian. Selamanya kebenaran akan menang.

Jika tidak di pengadilan dunia maka kelak di pengadilan akhirat. Selamanya

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

298

rekayasa manusia tiada artinya apa-apa dibanding kekuasaan Tuhan. Hadirin, jika

ada gadis malang di dunia ini yang semalang-malangnya adalah diriku. Sejak

kecil sampai beberapa bulan yang lalu aku diasuh oleh orang yang bukan orang

tua kandungku. Waktu bayi aku tertukar di rumah sakit dengan bayi lain. Aku

hidup dalam keluarga bermoral setan. Namun aku selalu tabah dan terus bertahan.

Sampai akhirnya malam itu. Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Malam itu sebelum aku diusir dan diseret si jahat Bahadur ke jalan terlebih dahulu

aku diperkosanya…hiks..hiks..!” Noura tersedu sesaat lamanya. Ruang pengadilan

diselimuti keheningan berbalut kepiluan dan rasa kasihan.

“Aku merasa bisa menyembunyikan aib yang menimpaku. Aku kira tidak

akan terjadi apa-apa denganku. Waktu terus berjalan sampai akhirnya Allah

mempertemukan diriku dengan kedua orang tua kandungku lewat bantuan banyak

orang termasuk, Fahri, Maria, Nurul, Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman. Kedua

orang tua kandungku adalah orang terpandang dan dari keluarga besar terhormat.

Mereka menerima kedatanganku dengan penuh rasa bahagia luar biasa. Petaka itu

datang kembali ketika perutku semakin membesar. Mereka menanyakan padaku

siapa yang telah menghamiliku. Aku tak mau berterus terang bahwa Bahadur yang

menghamiliku dengan memperkosa. Aku sudah sangat benci dengan dirinya.

Akhirnya aku berbohong pada mereka yang menghamiliku adalah Fahri. Sebab

aku sangat mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau menikahiku. Namun

yang kulakukan ternyata tak lain adalah dosa besar yang sangat keji aku telah

menghancurkan kehidupan orang yang kucintai dan di sisi lain aku telah

membiarkan penjahat yang menghamiliku tertawa terbahak-bahak. Semua

rekayasa yang telah diatur rapi juga diporak-porandakan oleh kekuasaan Allah

Swt. Di sini, sebelum di akhirat nanti, aku akui dengan sejujurnya Fahri tidak

bersalah. Dia bersih. Dan kepadanya dan kepada keluarganya serta siapa saja yang

terzhalimi atas kebodohanku aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aku

memang ditakdirkan untuk hidup malang di dunia. Namun aku bertekad

memperbaiki diri agar tidak malang di akhirat kelak.”

Atas dasar semua bukti yang ada dan pengakuan Noura akhirnya mau

tidak mau Dewan Hakim memutuskan diriku tidak bersalah dan bebas dari

dakwaan apa pun. Takbir dan hamdalah bergemuruh di ruang pengadilan itu

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

299

dilantunkan oleh semua orang yang membela dan bersimpati padaku. Seketika

aku sujud syukur kepada Allah Swt. Aisya memelukku dengan tangis bahagia

tiada terkira. Paman Eqbal dan bibi Noura tak mampu membendung air matanya.

Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Nurul dan suaminya yaitu Mas

Khalid datang memberi selamat dengan mata berkaca. Satu persatu orang-orang

Indonesia yang di dalam ruangan itu memberi selamat dengan wajah haru. Amru

memberi tahu bahwa Kolonel Ridha Shahata, sepupu Syaikh Ahmad yang

memiliki posisi cukup penting di Badan Kemanan Negara juga punya andil dalam

membantu mendapatkan bukti dari kantor telkom dan memaksa Gamal berkata

jujur. Suatu bukti bahwa dunia belum kehilangan orang-orang yang baik dan cinta

keadilan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

300

29. Nyanyian dari Surga

Begitu divonis bebas, aku dibawa oleh Aisha ke rumah sakit Maadi untuk

diperiksa. Penyiksaan dipenjara seringkali menyisakan cidera atau luka. Dokter

mengatakan aku harus dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memulihkan

kesehatan. Beberapa jari kakiku yang hancur harus ditangani serius. Ada gejala

paru-paru basah yang kuderita. Aisha memesankan kamar kelas satu bersebelahan

dengan kamar Maria. Teman-teman dari Indonesia banyak yang menjenguk,

meskipun mereka sedang menghadapi ujian semester ganjil Al Azhar. Sementara

musim dingin semakin menggigit.

Sudah tiga hari, sejak jatuh tak sadarkan diri saat memberikan kesaksian di

pengadilan Maria belum juga siuman. Dokter mengatakan ada kelenjar syaraf di

kepalanya yang tak kuat menahan emosi yang kuat mendera. Ada pembengkakan

serius pada pembuluh darah otaknya karena tekanan darah yang naik drastis.

Akibatnya dia koma. Untung pembuluh darah otaknya itu tidak pecah. Kalau

pecah maka nyawanya bisa melayang.

Sekarang tidak hanya Madame Nadia dan keluarganya saja yang merasa

bertanggung jawab menunggui Maria. Aisha merasa punya panggilan jiwa tak

kalah kuatnya. Ia sangat setia menunggui diriku dan menunggui Maria. Ia bahkan

sering tidur sambil duduk di samping Maria. Aisha menganggap Maria seperti

adiknya sendiri. Beberapa kali aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat

tidur dan menemani Aisha menunggui Maria.

Pada hari keempat sejak Maria tak sadarkan diri, tepatnya pada pukul

sembilan pagi handphone Aisha berdering. Aisha mengangkatnya. Ia terkejut

mendengar suara orang yang menelponnya. “Alicia? Di mana? Oh masya Allah,

Subhanallah! Ya..ya…baik. Kalau begitu kau naik metro saja turun di Maadi. Aku

jemput di dekat loket tiket sebelah barat. Okey? Wa ‘alaikumussalam wa

rahmatullah.”

Aisha lalu tersenyum padaku dan berkata,

“Selamat untukmu Fahri, kau telah mendapatkan kenikmatan yang lebih

agung dari terbitnya matahari. Alicia sudah menjadi muslimah sekarang. Apa

yang kau lakukan sampai kau akhirnya jatuh sakit itu tidak sia-sia. Jawabanmu itu

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 301- 307

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

301

mampu menjadi jembatan baginya menemukan cahaya Tuhan. Dia ingin

menemuimu. Kira-kira pukul setengah sepuluh dia akan sampai di Mahattah

Maadi.”

Aku merasakan keagungan Tuhan di seluruh jiwa. Aku merasa Dia tiada

pernah meninggalkan diriku dalam segala cuaca dan keadaan.

PadaMu

Kutitipkan secuil asa

Kau berikan selaksa bahagia

PadaMu

Kuharapkan setetes embun cinta

Kau limpahkan samudera cinta

Aisha menengok kamar Maria, tak lama ia kembali lagi dan berkata, “Dia

belum juga sadar. Hanya detak jantungnya yang masih terus bekerja dan

hembusan nafasnya yang masih mengalir menunjukkan dia masih hidup. Sungguh

aku tak tega melihat dia terbaring begitu lemah tiada berdaya. Seringkali ada

lelehan air mata di sudut matanya. Entah apa yang dialaminya di alam tak

sadarnya.”

Aisha melihat jam. “Sayang, aku keluar sebentar ya menjemput Alicia.”

“Ya, tapi jangan cerita tentang penjara.” Lirihku. Aisha menganggukkan

kepalanya lalu beranjak keluar.

Seperempat jam kemudian Aisha datang bersama Alicia. Aku nyaris tidak

percaya bahwa sosok yang datang bersamannya adalah Alicia. Sangat kontras

dengan penampilannya waktu pertama kali bertemu di dalam metro dulu. Dulu

pakaiannya ketat mempertontonkan aurat. Sekarang dia memakai jilbab,

pakaiannya sangat anggun dan rapat menutup aurat. Tak jauh berbeda dengan

Aisha.

“Aku datang kemari sengaja untuk menemuimu, Fahri. Untuk

mengucapkan terima kasih tiada terkira padamu. Karena berjumpa denganmulah

aku menemukan kebenaran dan kesejukan yang aku cari-cari selama ini.” Kata

Alicia, mata birunya berbinar bahagia. Alicia lalu mengisahkan pergolakan

batinnya sampai akhirnya masuk Islam dua bulan yang lalu.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

302

“Selain itu aku membawa ini.” Alicia membuka tas hitamnya yang agak

besar. Ia mengeluarkan dua buah buku dan menyerahkan padaku. Aku terkejut

membaca tulisan yang ada di sampulnya. Namaku tertulis di sana.

“Jawabanmu tentang masalah perempuan dalam Islam jadi buku itu. Dan

terjemahan Maria jadi yang ini. Semuanya diterbitkan oleh Islamic Centre di New

York. Tiap buku baru dicetak 25 ribu exemplar. Dr. Salman Abdul Adhim

direktur penerbitannya meminta nomor rekeningmu, Maria dan Syaikh Ahmad

untuk tranfer honorariumnya. Kau boleh bangga sekarang dua buku itu sedang

dicetak lagi karena satu bulan diluncurkan langsung habis.” Cerita yang dibawa

Alicia benar-benar menghapus semua duka yang pernah kurasa. Sangat mudah

bagi Tuhan untuk menghapus duka dan kesedihan hamba-Nya.

“Kau tidak ingin menemui Maria?” tanyaku.

“Ingin.”

“Aisha, antarkan Alicia melihat Maria.”

Aisha menggamit tangan Alicia ke kamar sebelah di mana Maria terbaring

lemah. Aku tidak tahu seperti apa reaksi Alicia bertemu Maria dalam keadaan

seperti itu. Sambil berbaring aku memperhatikan dengan seksama dua buku yang

diberikan Alicia itu. Buku pertama, Women in Islam. Sebuah buku kecil. Tebalnya

cuma 65 halaman. Namaku terpampang sebagai pengarangnya. Aku jadi malu

pada diri sendiri, aku hanya menulis ulang dan merapikan pelbagai macam bahan

untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar perempuan dalam Islam. Bukan

menulis suatu yang baru. Di dalamnya kulihat editornya dua orang: Alicia Brown

dan Syaikh Ahmad Taqiyuddin. Di halaman terakhir buku itu ada biodataku

secara singkat. Lalu buku kedua berjudul, Why Does the West Fear Islam? ditulis

Prof Dr. Abdul Wadud Shalabi. Aku dan Maria tercantum sebagai penerjemah.

Editornya sama.

Setengah jam kemudian Alicia kembali bersama Aisha.

“Semoga isteri keduamu itu cepat sembuh. Selamat atas pernikahan kalian.

Semoga dirahmati Tuhan. Oh ya aku ada pesan dari Dr. Salman Abdul Adhim,

kau akan diundang untuk memberikan cemarah di beberapa Islamic Centre di

Amerika sekalian mendiskusikan apa yang telah kau tulis. Tiket, surat undangan

dan jadwal kegiatannya ada di hotel, tidak terbawa,” kata Alicia.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

303

“Waktunya kapan?” Aisha menanggapi.

“Bulan depan. Selama sepuluh hari.”

“Semoga dia benar-benar sudah sembuh.”

“Semoga.”

Setelah itu Alicia minta diri dan berjanji akan datang lagi keesokan hari

untuk menyerahkan tiket dan semua berkas yang akan digunakan untuk

mempermudah mengurusi visa masuk ke Amerika.

“Begitu banyak perubahan silih berganti yang kita alami,” kata Aisha

setelah Alicia pergi.

* * *

Tengah malam, Aisha membangunkan diriku. Kusibak selimut tebal. Kaca

jendela tampak basah. Musim dingin mulai merambat menuju puncaknya. Aisha

melindungi tubuhnya dengan sweater. Untung penghangat ruangan kamar kelas

satu berfungsi baik. Tapi kaca jendela tetap tampak basah. Berarti di luar sana

udara benar-benar dingin. Mungkin telah mencapai 8 derajat. Aku tidak bisa

membayangkan seperti apa dinginnya kutub utara yang puluhan derajat di bawah

nol. Suasana malam senyap dan beku.

“Fahri, ayo lihatlah Maria, dia mengigau aneh sekali..aku belum pernah

melihat orang mengigau seperti itu.” Kata Aisha pelan.

Aku mengikuti ajakan Aisha untuk melihat keadaan Maria. Tak ada siapasiapa

di kamar Maria saat kami masuk. Kecuali Madame Nadia, yang pulas di

sofa tak jauh dari ranjang Maria. Ibu kandung Maria itu kelihatannya kelelahan.

Kami melangkah pelan mendekati Maria. Dan aku mengenal apa yang diigaukan

oleh Maria. Aku pasang telinga lekat-lekat dan memperhatikan dengan seksama.

Subhanallah, Maha Suci Allah! Yang terucap lirih dari mulut Maria, tak lain dan

tak bukan adalah ayat-ayat suci dalam surat Maryam. Ia memang hafal surat itu.

Aku tak kuat menahan haru.

“Sepertinya yang keluar dari bibirnya itu ayat-ayat suci Al-Qur’an?

Bagaimana bisa terjadi, Fahri?” Heran Aisha.

“Kita dengarkan saja baik-baik. Nanti aku jelaskan padamu. Banyak hal

yang belum kau ketahui tentang Maria.” Jawabku pelan.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

304

Kami pun menyimak igauan Maria baik-baik. Mendengarkan apa yang

diucapkan oleh Maria dalam alam tidak sadarnya. Pelan. Urut. Indah dan lancar.

Tak ada yang salah. Meskipun tajwidnya masih belum lurus benar. Maria

melantunkan ayat-ayat yang mengisahkan penderitaan Maryam setelah

melahirkan nabi Isa. Maryam dituduh melakukan perbuatan mungkar. Allah

menurunkan mukjizat-Nya, Isa yang masih bayi bisa berbicara.

Fa atat bihi qaumaha tahmiluh,

qaalu yaa Maryamu laqad ji’ta syaian fariyya.

Ya ukhta Haaruna maa kaana abuuki imra ata sauin

wa maa kaanat ummuki baghiyya.

Fa asyaarat ilaih, qaalu kaifa nukallimu man kaanat fil mahdi shabiyya.

Qaala inni abdullah aataniyal kitaaba wa ja’alani nabiyya.

Wa ja’alani mubaarakan ainama kuntu

wa aushaani bish shalati waz zakaati maa dumtu hayya.

(Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan

menggendongnya. Kaumnya berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah

melakukan sesuatu yang amat mungkar.

Hai saudara perempuan Harun ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang

jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.

Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami

akan berbicara pada anak kecil yang masih dalam ayunan?’

Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab

dan dia menjadikan aku seorang nabi.

Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan

dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat menunaikah zakat selama aku

hidup)115

Seorang malaikat pun jika mendengar apa yang dilantunkan Maria dalam

alam bawah sadarnya itu akan luluh jiwanya, bergetar hatinya, dan meneteskan air

mata. Maria sedang mengeluarkan apa yang bercokol kuat dalam memorinya. Dan

115 QS. Maryam: 27-31.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

305

itu adalah ayat-ayat suci yang menyejukkan. Maria terus melantunkan apa yang

dihafalnya ayat demi ayat. Air mataku menetes setetes demi setetes. Cahaya

keagungan Tuhan berkilat-kilat dalam diri semakin lama semakin benderang.

Bibir Maria terus bergetar. Aku bertanya dalam diri, siapa sebenarnya yang

menggerakkan bibirnya? Dia sedang tak sadar apa-apa. Ia sampai pada akhir surat

Maryam. Namun bibirnya tidak juga berhenti bergetar, terus melanjutkan surat

setelahnya. Surat Thaaha. Subhanallah!

Thaaha.

Maa anzalna ‘alaikal Qur’aana li tasyqa

Illa tadzkiratan liman yakhsya

( Thaaha.

Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu

agar kamu jadi susah

Tetapi sebagai tadzkirah

bagi orang yang takut kepada Allah

)116

Aku jadi tidak mengerti sebenarnya berapa surat. Berapa juz yang telah

dihafal Maria. Dulu saat pertama kali dia menyapa di dalam metro dia

mengatakan hanya hafal surat Al Maidah dan Maryam saja. Sekarang dia

membaca surat Thaaha. Aku benar-benar terkesima dibuatnya. Masih banyak

rahasia dalam dirinya yang tidak aku ketahui. Aku jadi tidak tahu pasti keyakinan

dalam hatinya. Dengan air mata terus mengalir di sudut matanya yang terpejam ia

melantunkan ayat-ayat suci itu seperti sedang asyik bernyanyi dalam mimpi.

Malam yang dingin terasa hangat oleh aura getar bibir Maria. Ia mengajak

pendengarnya berada di Mesir pada masa nabi Musa melawan Fir’aun. Ia terus

bernyanyi, seperti bidadari menyanyikan lagu surga.

Innama ilaahukumullah al ladzi laa ilaha illa huwa

wasia kulla syai in ilma

Kadzalika naqushu ‘alaika anbai ma sabaq

wa qad aatainaaka min ladunna dzikra

116 QS. Thaaha: 1-3.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

306

(Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah,

yang tiada tuhan selain Dia, pengetahuannya

meliputi segala sesuatu.

Demikianlah kami kisahkan kepadamu

sebagian kisah umat yang telah lalu,

dan sesungguhnya telah kami berikan kepadamu

dari sisi Kami suatu peringatan

)117

Sampai ayat ini bibir Maria berhenti bergetar. Lelehan air matanya

semakin deras. Namun ia tidak juga membuka mata. Entah apa yang ia rasa. Aku

hanya bisa ikut melelehkan air mata. Berdoa. Dan memegang erat tangannya.

Sesaat lamanya keheningan tercipta. Tiba-tiba bibirnya bergerak dan

mendendangkan zikir dengan nada aneh:

Allah. Allah. Allah.

Aku ingin Allah.

Allah. Allah. Allah.

Aku rindu Allah.

Allah. Allah. Allah.

Aku cinta Allah.

Allah. Allah. Allah

Allah.

Allah.

Allah.

Allah.

Allah.

Allah. Allah. Allah.

CahayaMu Allah.

Allah. Allah. Allah.

SenyumMu Allah.

Allah. Allah. Allah.

BelaianMu Allah.

117 QS. Thaaha: 98-99

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

307

Allah. Allah. Allah.

CiumanMu Allah.

Allah. Allah. Allah.

CintaMu Allah.

Allah.

Surgamu Allah.

Allah.

Surgamu Allah.

Allah.

Surgamu Allah.

Surgamu Allah.

Surgamu Allah.

Surgamu Allah.

Allah. Allah.Allah.

Allah.

Allah.

Allah.

Semakin lama volume suaranya semakin mengecil. Lalu hilang. Hatiku

berdesir ketika melihat bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Perlahan ia

mengerjap. Allah. Allah. Allah. Sembari bibirnya berzikir matanya tampak mulai

terbuka perlahan. Dan akhirnya benar-benar terbuka. Subhanallah!

“Maria!” sapaku pelan.

“Fa..Fahri?” suaranya sangat lirih nyaris tiada terdengar.

“Ya. Apa yang kau rasakan sekarang, Sayang? Apanya yang sakit?”

“Tolonglah aku? Aku sedih sekali.”

“Kenapa sedih?”

“Aku sedih tak diizinkan masuk surga!”

Jawaban Maria membuat aku dan Aisha kaget bukan main. Dari mana dia

tiba-tiba dapat kekuatan untuk berkata sejelas itu? Apakah dia akan mati?

Tanyaku dalam hati. Dan cepat-cepat aku membuang pertanyaan tidak baik itu.

Tapi kenapa dia berulang-ulang menyebut-nyebut surga.

Permintaan Teman-Teman Edisi Ayat-Ayat Cinta 308

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

308

“Aku telah sampai di depan pintu surga, tetapi aku tidak boleh masuk!”

ulangnya.

“Kenapa?”

“Katanya aku tidak termasuk golongan mereka. Pintu-pintu itu tertutup

bagiku. Aku terlunta-lunta. Aku menangis sejadi-jadinya.”

“Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang kau alami, Maria. Tapi

bagaimana mulanya kau bisa sampai di sana?”

“Aku tidak tahu awal mulanya bagaimana. Tiba-tiba saja aku berada dalam

alam yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dari kejauhan aku melihat istana

megah hijau bersinar-sinar. Aku datang ke sana. Aku belum pernah melihat

bangunan istana yang luasnya tiada terkira, dan indahnya tiada pernah terpikir

dalam benak manusia. Luar biasa indahnya. Ia memiliki banyak pintu. Dari jarak

sangat jauh aku telah mencium wanginya. Aku melihat banyak sekali manusia

berpakaian indah satu persatu masuk ke dalamnya lewat sebuah pintu yang tiada

terbayangkan indahnya. Kepada mereka aku bertanya, “Istana yang luar biasa

indahnya ini apa?” Mereka menjawab, “Ini surga!” Hatiku bergetar. Dari pintu

yang terbuka itu aku bisa sedikit melihat apa yang ada di dalamnya. Sangat

menakjubkan. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan. Tak ada pikiran yang

mampu melukiskan. Aku sangat tertarik maka aku ikut barisan orang-orang yang

satu persatu masuk ke dalamnya. Ketika kaki mau melangkah masuk seorang

penjaga dengan senyum yang menawan berkata padaku, “Maaf, Anda tidak boleh

lewat pintu ini. Ini namanya Babur Rayyan. Pintu khusus untuk orang-orang yang

berpuasa.118 Anda tidak termasuk golongan mereka!” Aku sangat kecewa. Aku

lalu berjalan ke sisi lain. Di sana ada pintu yang juga sedang penuh dimasuki anak

manusia berpakaian indah. Aku mau ikut masuk. Seorang penjaga yang ramah

berkata, “Maaf, Anda tidak boleh lewat pintu ini. Ini Babush Shalat. Pintu khusus

untuk orang-orang shalat. Dan Anda tidak termasuk golongan mereka!” Aku

sangat sedih. Hatiku kecewa luar biasa. Aku melihat di kejauhan masih ada pintu.

Aku berjalan ke sana dengan harapan bisa masuk lewat pintu itu. Namun ketika

hendak masuk seorang penjaga yang wajahnya bercahaya berkata, “Maaf, Anda

118 Imam Syamsuddin Al-Qurthubi (w. 671 H.) dalam kitabnya At Tadzkirah banyak

menjelaskan tentang deskripsi surga sesuai dengan yang dijelaskan dalam hadits-hadits nabi,

termasuk jumlah pintu surga dan nama-namanya.